Makhluk Berwajah Datar

Para hantu berwajah datar berdesis-desis. Jalanara sang pemimpin memerintahkan mereka untuk diam. Sejak Johan ditunjuk menjadi panglima, ia sedikit gentar padanya.
“Mawar, sebentar lagi kamu akan kukorbankan pada junjunganku. Kita akan bertemu di sana, bersiap-siaplah kamu!”

“Stop, kalau kamu hendak membawaku pergi, lepaskan cowok ini. Ratumu sudah memakan kepala Ayahnya, dia jangan jadi korban lagi!”
“Hehehe tidak bisa manisku, aku sudah berjanji untuk menyerahkan tiga kepala pada junjunganku!”
“Johan…” kali ini Mawar menitikkan air mata. “Lima tahun kita pernah bersama, lima tahun aku pernah mencintaimu. Selama lima tahun aku berusaha menyadarkanmu. Kamu melupakan semua itu, Johan? Asal kamu tahu, sampai saat ini bayanganmu masih terus melekat diingatanku.”
“Hah, jangan menangis di hadapanku. Bersiap-siaplah!”

Mawar menutup matanya. Begitu juga Hadi. Tak ada lagi jalan keluar yang bisa melepaskan mereka dari ruangan ini. Tiap sudut ruangan dijaga oleh mahluk-mahluk berwajah datar dengan sikap siaga. Mulut para mereka berdesis-desis, mereka menunggu sisa-sisa cabikan daging Mawar dan Hadi.

Tubuh Johan tiba-tiba berubah. Ia menjadi raksasa tinggi besar dengan rambut lebat berwarna coklat kemerahan. Rambut itu hampir menutup wajahnya. Seluruh tubuh mahluk itu berbulu. Ruangan yang tadinya sempit tiba-tiba berubah jadi luas, tubuh raksasa Johan memenuhi hampir setengah ruangan. Tangannya yang kekar dan berbulu terulur ke tubuh Mawar dan Hadi. Dua tangan raksasa itu mengambil tubuh keduanya. Kemudian tangan itu mengepal, meremas-remas tubuh mereka.

Tak lama angin kencang masuk ke dalam ruangan bersama debu yang bergulung-gulung. Ruangan tiba-tiba gelap gulita. Semua mahluk baik yang berwajah datar, memedi, kuntilanak, dan hantu lainnya berteriak-teriak kelaparan.

“Darah…darah…kami haus…mana darah…!” para hantu terbang tak tentu arah. Keadaan masih gelap. Suara menjerit, mengikik dan menangis berbaur bersama cericit kelelawar yang memenuhi ruangan.
“Diam, kalian semua diam!” tiba-tiba gelegar suara Jalanara terdengar. Suasana langsung sepi. Lamat-lamat, wajah Jalanara muncul di antara kabut yang menutupi ruangan. Bentuknya sangat berbeda, ia berparas tampan, memakai kain prada keemasan yang berkilau, di kepalanya ada mahkota emas yang memukau mata.

“Malam ini akan ada pesta besar, Aku mendapat mandat dari Nyi Rongeng, kita boleh menikmati daging segar dua mahluk tadi setelah darah mereka diserahkan ke sang Nyai. Bergembiralah, malam ini kita pesta besar!”

Suara riuh teredengar, cericit kelelawar juga mewarnai malam gembira itu. Mawar dan Hadi menanti eksekusi di tangan Johan, keduanya tak henti-hentinya memanjatkan doa.
“Cukup. Hentikan doa-doamu!” Johan membentak mawar. Wujudnya telah kembali seperti semua. “Kalian cepat masuk ke mobil, cepat pergi dari sini!” Tiba-tiba Mawar dan Hadi telah berada di dalam mobil, keduanya saling tatap. Mawar tak sempat bertanya lagi, dia segera menstater mobilnya, lalu menerobos pintu gerbang ruko yang terbuka dengan tiba-tiba. Sepanjang jalan Mawar terus bertanya, mengapa Johan menyelamatkannya.

“Kamu tahu apa yang menyebabkan Johan menyelamatkan kita, Hadi?” tanya Mawar sambil mengerjapkan matanya berkali-kali, dia masih tak percaya kalau ini nyata.

“Mmm…mungkin karena doa-doa kita, Non.”
“Aku yakin iya.” Balas Mawar.
“”Ditambah lagi karena aku pernah mencintaimu!” suara Johan terdengar dari tape radio yang sudah dimatikan. “Pulanglah kalian, ingat, jika hujan deras, jangan parkir sembarangan. Urusan dengan Nyi Ronde adalah bagianku. Maafkan aku Hadi, aku tak bisa mencegah kematian Ayahmu. Mawar…aku tetap menyintaimu, selamanya…”

Mawar menitikkan air mata. Asap tipis keluar dari tape mobil yang dikendarainya. Bau asap itu mirip benar dengan parfum kesukaan Johan. Mawar tahu, cowok itu ada di sampingnya. Dia berjanji, esok dia akan ke kubur cowok itu, membawakannya bunga anggrek bulan kesukaannya.

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *