Siang itu gerimis mulai turun. Mawar menyetir mobil Honda Jazznya perlahan ke arah Jakarta Selatan. Dari sana dia meneruskan perjalanan ke Depok, kemudian memasuki daerah Bojong Gede. Rumah yang ditujunya terletak di tengah perbatasan antara Depok dan Bogor. Dari Jakarta Utara ke Citayam, jika nggak macet bisa ditempuh satu jam perjalanan. Tapi kalau macet, perjalanan bisa memanjang jadi dua jam. Hari ini Mawar bernafas lega, suasana di jalan-jalan utama kota Jakarta lengang, hujan lebat menyirami Jakarta sejak pagi, uap air hujan hampir menutupi kaca mobilnya, whipper yang menghapus jatuhnya hujan, bergerak cepat ke kiri dan ke kanan.
“Bang Gimin masih ingat kan jalannya?” Tanya Mawar.
“Hafal, Non. Nanti kita lewatin Pondok Indah, habis itu belok kiri, masuk tol Pondok Indah, lalu tol Jagorawi, kemudian kita keluar di Cimanggis, belok kanan melewati jalan baru, setelah itu belok kiri masuk jalan Margonda, kita lurus terus ke arah Citayam, habis itu…” .
“Stop Bang Gimin, nanti dilanjutin lagi,” Mawar bingung mendengar cerocos Bang Gimin yang tanpa jeda. Mobil terus melaju dengan kecepatan 60 km perjam. Masuk ke jalan Arteri Pondok Indah, hujan semakin deras. Petir menyambar atap mobil, kilatnya kemudian mencelat ke atas, bunyi gelegarnya membuat kaget Mawar, Bang Gimin dan anaknya Hadi. Di depan keadaan kian memutih, Mawar melambatkan mobil. Matanya yang berkaca minus dua mulai agak rabun. Ia memajukan wajahnya agak ke depan, mengendurkan tekanan gas mobil.
“Wah Bang Gimin, gimana nih, hujannya lebat banget!”
“Sudah kita minggir aja, Non. Tuh dikelokkan jalan ada ruko kosong. Kita berteduh di sana aja!” unjuk Bang Gimin.
Samar-samar Mawar melihat sebuah ruko dengan cat coklat tua yang agak kusam. Kanopi yang menutupi ruko dari terpaan hujan dan panas matahari agak turun ke bawah, sepertinya hampir rubuh. Halaman ruko itu cukup luas. Daun-daun pohon beringin yang menaungi teras ruko, berserakan di halaman. Mawar mematuhi perintah tukang kebun mamanya.
Cewek cantik berlesung pipt ini, mengarahkan mobilnya ke halaman ruko. Ia memarkir mobilnya tepat di depan pintu gerbang. Mawar masih menghidupkan mesin mobil. ia membuka sedikit kaca mobilnya. Dinginnya AC menyentuh tengkuknya. Ia memperhatikan kaca spion, melihat Bang Gimin dan puteranya Hadi yang tengah menggigil kedinginan. Pandangannya lalu ke luar jendela, memperhatikan hujan yang turun kian lebat.
“Bang Gimin, masih kedinginan?” Tanya Mawar sambil mematikan AC.
“Iya, Non…”
Mawar tersenyum kecil. Hm…tubuh tua Bang Gimin sepertinya sudah tak kuat berhadapan dengan udara dingin. Mawar kemudian memutar radio, suara penyiar yg beradu dengan suara hujan, membuat telinga Mawar tak nyaman. Ia segera mematikan radio, dan menarik nafas panjang. Hhh…mudah-mudahan hujan cepat reda, harapnya. Beberapa menit berlalu, Mawar mulai jemu dan gelisah. Hujan tampaknya nggak mau juga berkompromi dengan dirinya. Malah turun makin deras.
Di belakang mobil tak terdengar lagi suara-suara, ketika Mawar menoleh, Bang Gimin dan Hadi tengah tertidur pulas. Mawar merasa sepi. Bingung nggak tahu harus ngapain. Ia kembali mengulurkan tangannya, mencari stasiun radio yang bersuara jernih yang memutarkan lagu-lagu kesukaannya. Saat itulah, di kala Mawar tengah merasa bosan dengan suasana yang tak menentu, lamat-lamat ia mendengar suara ketukan di pintu mobilnya. Mawar tersentak! Perlahan ia menoleh ke samping kanan, mencoba mencari tahu sosoknya. Nggak ada orang di sekitar situ. Mawar menoleh ke belakang. Bang Gimin dan Hadi masih terlelap. Jantung Mawar mulai berdetak cepat, ia memastikan kalau suara ketukan itu hanya pikirannya saja. Sekali lagi dia menoleh, tetap kosong. Hm, itu suara hujan yang menerpa kaca jendela, hiburnya. Kemudian Mawar memasukkan DVD Jason Mratz ke tape mobil, beberapa detik dia menunggu suara seksi penyanyi itu, namun nggak juga terdengar. Mawar memastikan dan melihat tape mobil lebih teliti, nggak ada masalah. Tape memang nggak rusak. Lalu, kenapa suara Jason nggak kedengaran?
Kali ini Mawar benar-benar kesal. Tok…tok…tok…” suara itu kembali terdengar. nadanya lebih kencang dari semula.
Mawar gugup. Ia takut menoleh ke kanan.
Dan suara ketukan terdengar makin keras. Mawar mulai panik, lalu tanpa ia sadari ia menekan klakson mobilnya dengan sekuat tenaga. Bunyi klakson terdengar riuh. Bang Gimin yang sedang asyik dengan mimpinya terbangun.
“Ada apa, Non?” serunya kaget.
“Ada orang yang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil, tapi nggak ada orangnya. Dua kali dia mengetuk, yang terakhir saya nggak berani menoleh. Bang, apa kita jalan aja menerobos hujan? Kayaknya tempat ini agak angker,” Mawar mulai takut.
