Johan? Mawar tercenung.
Bang Gimin perlahan-lahan bangkit, ia dipapah Hadi putranya. “Ternyata pacar Non Mawar, yang berada di balik semua ini. Buat apa dia menyerahkan kita kepada hantu-hantu ini? Kita kan manusia yang masih bernafas.” Suara Bang Gimin serak, ia batuk-batuk. Setiap kali batuk darah segar keluar.
Ya, untuk apa Johan melakukan semua ini? Mawar memegang tangan Bang Gimin erat.
“Jawabannya adalah, dia akan diangkat sebagai panglima sang Nyai jika berhasil menyerahkan tiga nyawa sekaligus. Dan kalianlah yang terpilih!” Sang Pemimpin menyeringai, dua taringnya kian menonjol keluar, darah mengucur deras dari taring itu.Ia bisa membaca pikiran ketiga manusia yang ada di hadapannya. Mahluk-mahluk aneh yang ada di ruangan itu terkekeh dan bertepuk tangan. Bau tak sedap merebak di seluruh ruangan. Mawar mulai menduga sebentar lagi eksekusi akan dilaksanakan.
“Kita menunggu anak buah Nyi Rondeng datang. Dua korban akan dipanggang hidup-hidup untuk persembahan sang Nyai, dan satunya lagi mungkin langsung dimakan, dan yang akan melaksanakan eksekusi, Johan!” ujar Sang Pemimpin.
Di panggang hidup-hidup? Mawar, Bang Gimin dan Hadi diam membisu. Wajah Hadi membiru. Bang Gimin juga. Hadi kembali kencing di celana. Otak Mawar serasa buntu. Jantungnya berdebar keras.
“Apa yang harus kita lakukan Bang Gimin?” bisik Mawar cemas.
“Kita harus mencari jalan keluar. Kita musti terlepas dari cengkeraman hantu-hantu dengan wujud tak jelas ini.” sahut bang Gimin.
Telinga Sang Pemimpin bergerak, ia menatap tiga manusia di hadapannya dengan sorot mata yang mengerikan, mata itu itu seakan hendak keluar dari tempatnya dan membakar ketiga orang itu. Sang Pemimpin kemudian berjalan mendekati Bang Gimin.
“Aku tahu apa yang kau bicarakan Pak Tua. Kalian tidak bisa keluar dari sini, Tak seorang pun tahu kalian ada di sini. Karena ruko ini telah hilang dan manusia tak bisa menemukannya!”
Mawar dan Hadi saling tatap. Ia memegang tangan Hadi dengan erat. Pikirannya benar-benar buntu.
“Non Mawar, kayaknya kita nggak bisa keluar dari sini. Jalan satu-satunya kita serahkan semua ini pada Tuhan. Mudah-mudahan doa kita didengar dan kita bisa terbebas dari mahluk-mahluk menyeramkan ini.” Hadi berbisik.
Sang Pemimpin yang sedang sibuk dengan taringnya, menggerak-gerakkan lidahnya.. Tiba-tiba lidah itu menjulur, kemudian secepat kilat menyambar tubuh Hadi. Cowok berusia tujuh belas tahun itu menjerit tatkala tubuhnya diputar-putar seperti gasing. Ia menangis sesengukkan.
“Tolong, jangan bunuh aku…”
“Aku tahu apa yang kau lakukan. Kau tidak bisa keluar dari sini!” kemudian Sang Pemimpin melempar tubuh Hadi tepat di sisi tubuh ayahnya.
Bunyi suara gedebuk membuat Mawar tersekesiap. Ia mengira Hadi tewas seketika. Cowok remaja itu, memang terlihat diam. Tubuhnya kaku, dari mulut dan hidungnya keluar darah. Mawar menangis, dia menepuk-nepuk pipi cowok itu.
Dalam keadaan kesal, Mawar langsung berdiri.
“Kalian semua kejam. Kejaaaam!” jeritnya. …
