Makhluk Berwajah Datar

Bang Gimin diam beberapa saat. “Baiklah, Non, kita jalan pelan-pelan aja ya,”

Mawar memasukan gigi satu, kemudian menginjak gas pelan-pelan. Suara derum mobil terdengar kasar. Cewek ini menekan gas lebih dalam lagi. Tapi mobil tetap diam di tempat. Mawar mulai kehilangan akal. Ia panik. “Gimana nih Bang Gimin, kok mobil nggak bisa jalan?”

“Waaah…saya mana tahu, Non. Apa saya turun memeriksa keadaan di luar? Jangan-jangan bannya keganjel batu.”
“Atau jangan-jangan…” Mawar merinding. Ia kembali menginjak gas lebih kuat. Dan hasilnya tetap sama. Mobil tidak bergeming!

Bang Gimin mulai tidak sabar. Ia segera membuka pintu mobil. Saat tangannya mendorong pintu, tiba-tiba wajahnya memucat. Kerongkongannya tercekat. Pria berusia lima puluh tahun ini nyaris nggak bisa berkata-kata. Tubuhnya keluar dari mobil bagai ada menarik.
“Kenapa Bang Gimin?” Mawar terkejut tatkala mendengar pintu mobil tertutup tiba-tiba. “Hadi, apa yang terjadi dengan Bapakmu?”

“Nggak tahu Non. Pas Bapak mau keluar mobil, dia keringat dingin. Lalu tubuhnya tersedot keluar dan pintu mobil tertutup dengan kencang. Sepertinya ada orang yang menutup pintu mobil ini. Saya bingung…”.

“Kalau begitu, kamu lihat Bapakmu. Bawakan dia payung!”
“Nggak mau Non Mawar, saya takut.” Hadi menciutkan tubuhnya ke sudut jok mobil, ia menggelengkan kepala berkali-kali.
“Lho, memangnya apa yang terjadi?”
“Nggak tahu, kayaknya…kayaknya…ada orang tinggi besar dengan wajah rata di luar sana.” Ujar Hadi terbata-bata.
“Kamu lihat dengan jelas?”

“Nggak juga, saya cuma melihat sekilas. Jangan-jangan dia yang mengetuk pintu mobil ini tadi.”
“Lho, kenapa kamu nggak bilang-bilang?” jantung Mawar berdetak cepat.
“Saya takut berisik. Nanti hantu itu masuk ke dalam mobil.”
Bulu kuduk Mawar tiba-tiba meremang, ia makin bertambah takut. Ia menduga ada yang nggak beres dengan ruko bercat coklat yang sepi ini. Tapi…masak sore-sore begini hantu sudah bergentayangan? Jantung Mawar hampir copot rasanya ketika ia mendengar Bang Gimin memanggil-manggil namanya.
“Non Mawar, buka pintunya!”

Segera Mawar menekan tombol kunci otomatis mobil. Pintu terbuka dan Bang Gimin bergegas masuk, lalu ia menutup pintu dengan keras. “Non, ayo cepat kita pergi dari sini!”
“Memangnya ada apa, Bang?”
“Nanti saya ceritakan!”

Mawar kembali menekan gas dalam-dalam. Kali ini mobil bisa bergerak. ia menarik kopling, memutar mobil, kemudian bersiap-siap keluar dari halaman ruko. Meski di luar hujan masih deras, ia nggak peduli lagi, yang penting harus segera keluar dari halaman ruko bercat coklat itu. Harus!
Pintu pagar ruko terbuka separuh, dua langkah sebelum mobil melewati pintu gerbang, tiba-tiba pintu yang terbuat dari besi tempa itu tertutup dengan sendirinya. Mawar terkejut, dengan refleks ia menginjak rem.

“Pintunya ketutup Bang Gimin, apa yang harus kita lakukan?”

“Tabrak aja, Non !”

“Apa?” Mawar menoleh ke belakang. Dilihatnya Bang Gimin pucat pasi. Mawar kali ini benar-benar mati kutu. Sebelum ia melakukan apa yang diperintahkan Bang Gimin, tiba-tiba klakson mobil berbunyi secara otomatis. Setelah itu, tape mobil yang tadinya tak bersuara, secara otomatis pula melantunkan suara Jason Mratz. Ketiga orang yang ada di dalam mobil Honda Jazz itu kebingungan.

Mawar hendak keluar namun, pintu mobil nggak bisa terbuka. Begitu juga kaca mobil, semua nggak bisa diturunkan. Ketikanya terkurung di dalam mobil tanpa bisa berbuat apa-apa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *