Makhluk Berwajah Datar

Terjebak

Mawar, Bang Gimin dan Hadi terjebak di dalam mobil. Mawar semakin panik. “Bang Gimin, Hadi, lakukanlah sesuatu. Kalau nggak kita bisa mati lemas di dalam sini!” 

“Coba telpon Mama, Non, katakan kita dalam bahaya!” saran Bang Gimin.

Mawar segera menekan nomor telpon rumahnya. Beberapa detik ia menunggu. Namun jawaban yang ia terima nggak seperti yang diharapkan.
“Telepon rumah nggak ada yang angkat. Hp Mama, Papa dan Dedi juga nggak ada yang ngangkat. Duh, gimana ini Bang Gimin?”
“Telepon sekali lagi Non, ke Hp Mama!”

Mawar menekan nomor Hp mamanya sekali lagi. Tatkala nada jawab tersambung, Cewek ini dengan cepat mematikan telepon selularnya.
“Bang Gimin, yang ngangkat bukan Mama, suaranya besar dan berat. Suaranya mirip Johan…” bisik Mawar dengan suara bergetar.
Bang Gimin tambah terkejut. Hadi malah menutup wajahnya dengan bantal kecil yang ada di jok mobil.
“Gimana nih Bang, kita nggak bisa ngapa-ngapain. Pintu masih terkunci.” Mawar semakin cemas. Ketika handphonenya kembali berbunyi, ia menatap benda itu dengan ragu.
“Angkat saja, Non. Mungkin Mama yang nelpon!” usul Bang Gimin.

Lalu dengan jemari gemetar Mawar mendekatkan handphone itu ke telinganya. Suara di seberang sana membuat air matanya menitik.

“Halo sayang, kenapa kamu nggak mau mendengar suaraku? Kamu terjebak di ruko bercat coklat itu ya? Jangan cemas sayang, nanti kuajak kamu ikut denganku. Tadi aku ketuk-ketuk jendela mobilmu lho, kamu nggak bisa melihat wajahku lagi, karena aku sudah nggak punya mulut, hidung, mata, dan alis. Wajahku sudah habis dimakan ulat-ulat tanah. Mawar, aku kesal kamu pindah nggak bilang-bilang. Harusnya, kamu pamitan kek ke aku. Aku kan pacarmu yang paling setia. Kamu aja yang nggak setia, nggak mau ikut sama aku.”

Mawar diam sesaat. Dengkulnya lemas.
“Bang Gimin…” bisiknya “Johan menelpon saya. Dia ada di sekitar sini.”
Bang Gimin dan Hadi membisu. Honda Jazz terus menderu, suara gas yang diinjak dengan kencang terdengar memekakkan telinga. Bau freon AC mulai terasa. Mawar, Bang Gimin dan Hadi mulai batuk-batuk. Ketiganya menunggu menit-menit mencekam tanpa bisa berbuat apa-apa.

“Toloooong!” suara Mawar tiba-tiba memecahkan ketegangan. Tepat di depan kaca mobil, sebuah kepala berwajah datar tanpa mulut, tanpa hidung dan mata, menempel dengan erat, wajah itu dipenuhi belatung. Bentuk kepalanya mirip dengan kepala Johan. Melihat itu bibir mawar terkatup, giginya gemelutuk, kemudian dia jatuh pingsan, begitu juga Bang Gimin dan Hadi. Suara klakson terdengar panjang dan memekakkan telinga. Hujan dan petir dibarengi angin kencang berputar-putar di atas mobil Honda Jazz itu. Mesin mobil masih menyala, AC juga masih tetap hidup. Ketiga orang yang ada di dalamnya diam membisu belum sadarkan diri.

Bunyi klakson yang menderu-deru akhirnya menyadarkan Bang Gimin. Ia membuka matanya dan terkejut melihat Mawar tertunduk di depan setir.

“Waduh Non, bangun…bangun! Bang Gimin menguncang-guncang bahu Mawar. Gadis itu mengerjapkan matanya, kepalanya terasa pusing. Sejenak ia menoleh ke sisi kiri mobil. Perlahan ingatannya pulih. Lalu dengan reflek ia melepaskan tangannya dari gagang setir. Bau freon AC yang menyengat membuatnya terbatuk-batuk. Kemudian, dengan mengesampingkan rasa takutnya, ia menurunkan kaca mobil. Bang Gimin memerhatikan dengan was-was.

Lalu…di saat jantung mereka menunggu pintu itu terbuka, secercah sinar kilat berwarna keperakkan masuk melalui jendela mobil. Sinar itu berpendar-pendar di dalam, kemudian perlahan-lahan berubah menjadi sosok hitam sebesar bola kaki. sosok hitam itu duduk dengan tenang di samping Mawar. Beberapa detik kemudian, bola misterius berwarna hitam itu membentuk mahluk berkepala plontos, berwajah datar tanpa dagu, mulut, hidung, dan mata. Semuanya datar, sedatar jalan raya yang ada di balik pintu pagar ruko bercat putih itu.

Mawar bengong. Tangannya gemetar. Bang Gimin dan Hadi duduk diam di seperti patung.
“Sekarang, tekan gas dalam-dalam, mundur dan arahkan mobil ke dalam ruko!” perintah mahluk itu.
Mawar bagai robot yang patuh. Ia menginjak kopling dengan kuat, kemudian memundurkan perseneling dan mengarahkan mobil ke arah pintu garasi ruko.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *