Gara-gara Ikan Asin

suluhnusa.com_ Gara-gara kejadian itu pula, aku berjanji dalam diriku untuk tidak akan makan ikan asin. Gara-gara ikan asin.

Hari Senin memang hari pertama sekolah yang paling membosankan. Setelah liburan Minggu dengan ceria dan kelelahan, seharusnya hari Senin ada waktu jeda panjang untuk memulai mata pelajaran. Paling tidak, upacara baris-berbaris pagi ditiadakan. Kenapa sih sekolah harus pakai baris-berbaris? Sebelumnya, suster memaksa kami untuk mencatat nama Injil beserta bab dan ayatnya saat ibadat di Gereja pada hari Minggu. Pekerjaan ini memang mudah. Bukan karena mudahnya, tetapi karena takut akan siksaan maka aku mencatatnya. Setiap hari Senin setelah upacara baris-berbaris, suster kepala memeriksa catatan itu. Minggu pagi, tubuh sudah terasa lelah memikirkan siksaan itu.

Tubuhku sejatinya perlu bersenang-senang setelah saban hari dipecut tugas-tugas sekolah. Setiap hari sekolah, aku menjadi seperti bunglon di atas kayu, selalu siap sedia mendengarkan beberapa guru malas yang mengajar di tiap pergantian waktu pelajaran. Guru memaksa kami lebih aktif di kelas, sementara setiap pertanyaan dijawabnya dengan bentakan. Beberapa guru selalu membawa sepotong kayu ke kelas. Mungkin mereka terinspirasi dari tongkat kecil yang sering dipakai para jenderal. Dengan kayu itu juga, murid-murid disangka ngeyel dipukul. Ah, semoga saja kelak bunglon tidak lantas menjadi kayu.   

Suatu waktu, dalam perjalan sekolah aku pernah berkhayal. Khusus hari senin, jam masuk sekolah bukan jam 07.15, tetapi jam 09.00. Dengan begitu, aku tak terlambat lagi ke sekolah. Artinya, upacara baris-berbaris tidak ada. Tetapi khayalan tinggal khayalan, seperti mimpi yang terpental di atas batu. Khayalan tidak belaku di sekolahku, SMP (Sekolah Menengah Pertama) St. Stanislaus. Aturan di sekolahku ini sangat ketat. Khayalan tidak diizinkan sebab mengganggu kenyamanan sekolah. Datang ke sekolah harus tepat waktu. Setiap murid harus berseragam lengkap, dari topi hingga sepatu hitam dan berkaos kaki pula. Jika saja, seragam putih-biru belum kering karena hari Minggu hujan, pilihan mending tidak usah bersekolah. Hasilnya nihil. Suster kepala tidak mengenal niat kami bersekolah, tetapi pada kelengkapan seragam sekolah.

Hari Senin ini pelajaran sekolah terasa membosankan. Ilmu tidak masuk kepala. Keletihan mengambil semua energi yang harus berkonsentrasi pada pelajaran. Liburan Minggu yang indah sudah mengambil semua energi dan semangatku. Bermain ombak bersama teman-teman pinggir pantai membuat jiwa terasa bebas dan lepas ceria. Ceria bersama teman-teman di alam pantai yang mengajari kebebasan dalam kebersamaan. Alam pantai juga menggiring batas kemampuan kami menghadapi kedasyatannya, meski dalam kebebasan.

Sekolah dan pantai mengajarkan nilai-nilai dengan cara yang ekstrim berbeda. Sekolah menuntunku dengan bakunya aturan yang membuatku bertanya akan kebebasan. Alam pantai mengajariku tentang kebebasan sehingga menyadarkanku akan keterbatasan diri. Sekolah dan pantai nyaris sama-sama unggul membentuk pribadiku.

***

Terlepas dari sekolah dan pantai, aku tumbuh di lingkungan aktivitas ekonomi tinggi, pasar. Di kampungku, hari Senin adalah hari pasar. Maklum, di daerahku hanya ada pasar Mingguan. Pada hari itu, aku sangat ingin pulang sekolah secepatnya. Biasanya aku memaksa kaki kecilku berlari secepat mungkin sehingga aku masih sempat merasakan suasana pasar. Tak peduli panas terik memanggang tubuhku. Jika aku terlambat, pasar akan tutup. Pukul 15.00 pasar sudah tutup.

Sebelum pasar tutup, aku senang sekali merasakan keramaian pasar. Pasar membuatku terasa lebih hidup. Di pasar, aku menjumpai banyak orang. Orang-orang di pasar tidak membosankan; tidak seperti orang di sekolah yang membosankan dan itu-itu saja. Di setiap hari pasar, orang-orang bergantian datang. Orang-orang ini menarik perhatianku. Aku tidak menjual dan membeli apa-apa. Padahal, di sana terdapat berbagai jenis barang. Maklum, di tanah nuca lale, “tongkat, kayu dan batu” jadi tanaman.

Aku senang memandang orang-orang dengan ciri dan perilaku yang berbeda. Aku suka mendengar bahasa yang berbeda dan menarik. Gaya bicara dan dialek mereka juga unik. Ketika berbicara dengan orang sekampung, mereka menggunakan bahasa dearahnya sendiri. Di pasar, terdapat beberapa bahasa daerah yang kukenal, diantaranya bahasa Rongga, Ende, Mbaen, Manggarai, Bima, Jawa, Padang, Bajawa, Sabu dan Sumba. Ada juga pedagang keturunan Cina yang memakai bahasanya, tetapi dialeknya seperti bahasa Manggarai. Mereka semua akan menggunakan bahasa Indonesia “pasar” ketika mereka bertransaksi dengan pedagang lain.

Berada di pasar, aku merasa seperti berada dalam miniatur Indonesia. Indonesia lengkap dengan “berbagai”-nya. Di sana, aku merasakan pengetahuan ke-Indonesia-an dan wawasan nusantara.  Tentu dimulai dari bahasa. Tentang pengetahuan itu tidak saja kudapatkan dari guru mencecar pada mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Ah, Indonesia kaya bahasa.

***

Sepulang sekolah, aku tiba lebih awal di pasar dari teman-teman sekolahku sekompleks. Ada tempat usaha ibuku di dalam pasar. Aku makan siang di warung ibu. Ibu sangat pandai memasak. Fatin, adikku, memilih tidak sekolah hari ini. Dia sudah kelas dua SMP, sementara aku kelas tiga SMP. Kalau saja aku tidak tertahan kelas satu tahun saat SD (Sekolah Dasar), aku pasti sudah kelas satu SMA (Sekolah Menengah Atas). Sayang, nasip selalu berbeda dengan rencana.

Setelah makan, aku duduk santai di depan warung. Fatin sedang asik dengan dengan buku TTS (teka-teki silang). Buku TTS tidak ber-cover. Kata adikku, ayah merobeknya ketika ia datang saat jam istirahat kantor. Mungkin ayah benar, sebab cover buku TTS biasanya bergambar perempuan cantik nyaris telanjang. Gambar ini tidak baik bagi perkembangan remaja seperti kami. Maklum, selain pegawai pemerintah, ayah juga seorang yang sangat religius.

Fatin memandang fokus pada daftar pertanyaan dan labirin kotak dalam buku TTS. Matanya berbinar pada setiap matra pertanyaan. Kadang ia seperti melamum sendiri, lalu menulis huruf pada kotak tak berarsir. Setelah menulis, ia senyum-senyum sendiri. Ada pancaran kebahagiaan di wajahnya. Jawabannya benar dan cocok dengan jumlah kotak. Ia menjawab sendiri. Kadang, ia bertanya pada para pedagang pakaian yang berada di dekat warung ibu. Ia senang ketika pedagang itu memberikan jawaban yang cocok menurutnya.

Aku bosan memperhatikan aktivitas adikku. Rasanya seperti membuang waktu saja. Aku memilih berkelana keliling pasar sembari memperhatikan orang-orang dalam pasar itu.

“Mau ke mana, kak?”, tanya adikku

“Mau ke sana.”

“Ke sana mana?”

“Biasa, keliling-keliling pasar.”

“Sabar dulu, saya mau tanya.”

Adik langsung melirik buku TTS. Jari telunjuknya mencari nomor pertanyaan dalam buku TTS.

Oh ini kak. 31 mendatar. Nama lain untuk pulau Kalimantan?”

“Saya tidak tahu!”, jawabku sambil mengernyitkan dahi.

Fatin, kemudian, diam. Mungkin ia sedang berpikir bahwa kakaknya ternyata bodoh juga. Karena responnya cuma diam, aku mencoba berinisiatif mencari alternatif. Seolah-olah aku sedang antusias dengan TTS-nya itu.

“Huruf bantunya, ada?”, tanyaku kepadanya.

“Mmmmmm  ada. 27 menurun. Udang yang dikeringkan.”

 Adikku membaca pertanyaan itu dengan keras supaya aku mendengarnya dengan jelas pula.

Aku langsung dan lantang menjawab, “udang kanas!”

Mendengar jawabanku, Fatin langsung tertawa terbahak. Para pedagang di sekitar juga keras tertawa. Mereka mengikuti pembicaraan kami. Adikku ternyata sudah menulis jawabannya pada kotak-kotak TTS itu. Karenanya, ia tertawa.

Saat itu, aku tidak berpikir panjang. Bayang pengetahuanku seperti sebutan ikan yang dikeringkan. Orang-orang di kompleks kami adalah nelayan. Tumpukan ikan kecil hasil tangkapan, biasanya dikeringkan di samping rumah mereka. Ikan kering itu dilumuri garam biar tidak membusuk. Ikan yang sudah kering disebut dengan ikan kanas. Atas dasar itu, aku berpikir, udang yang dikeringkan disebut dengan udang kanas. Ternyata kanas itu sendiri merupakan singkatan dari ikan asin.

Gara-gara ikan asin aku ditertawakan adikku dan orang banyak. Karena malu, aku meninggalkan tempat itu dan berkelana mengelilingi pasar. Melihat orang-orang yang kuanggap aneh bisa menghiburku. Gara-gara kejadian itu pula, aku berjanji dalam diriku untuk tidak akan makan ikan asin. Gara-gara ikan asin.  


Djogja, November 2013

Alfred Tuname

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *