LEWOLEBA – Warga Atakore yang tergabung dalam Forum Warga Cinta Ina Kar Tolak PLTP Atadei melakukan aksi damai di lapangan Desa Atakore dengan tujuan menyampaikan penolakan terhadap proyek geothermal Atadei.
Koordinator Lapangan, Osta Huar pada awal aksi damai ini mengajak semua warga Atakore untuk memadati Lapangan Desa Atakore yang berhadapan langsung dengan Kantor Desa Atakore dan Gereja St. Konradus Atakore.
Ajakan itu untuk menyampaikan aspirasi warga Atakore yang selama ini diabaikan oleh Pemerintah Desa Atakore. Warga sudah menolak geothermal secara bersama-sama tapi penolakan itu tidak pernah disampaikan kepada semua pihak yang berkaitan dengan proyek ini.
“Tatanan sosial kita sedang terganggu oleh birokrasi. Warga kita saling tola hela karena program yang datang dengan pemahaman masing-masing.” ujar Osta dalam aksi itu.
Lebih lanjut Osta menyebut, aksi damai ini akan diisi oleh orasi dari sisi adat dan budaya, hukum, lingkungan dan perempuan.
Donatus Dori Gole, warga Atakore yang menyampaikan orasi terkait budaya menegaskan bahwa geothermal merupakan proyek telah menimbulkan perpecahan dalam kehidupan sosial masyarakat.
“Geothermal telah membuat perpecahan di dalam keluarga kami Desa Atakore tercinta. Dengan hadirnya geothermal, ada yang mendukung, ada yang menolak sehingga terjadi perpecahan diantara kami baik dalam keluarga, antara orang tua dengan anak, juga antara tetangga dengan tetangga, juga antara suku dengan suku” ujar Donatus.
Lebih lanjut, Donatus menerangkan bahwa perpecahan ini merupakan peristiwa yang dirasakan sampai hari ini. Namun pihak Pemerintah Desa Atakore dan DPD dianggap diam.
Dalam aksi damai itu, Donatus juga menyebut semua pemangku adat Ahar Tu (Desa Atakore dan Lewogroma) sepakat menolak geothermal.
“Kami hari ini hadir lengkap untuk menyampaikan aspirasi kami,” tegas Donatus.
Diakhir orasinya, Donatus memekikan yel-yel “Atakore Berdaulat” yang dijawab warga dengan “Tolak PLTP”.
Dalam aksi damai itu, salah satu pemuda Atakore, Kristo Puhun dalam orasinya mengatakan, masyarakat tidak pernah dilibatkan sejak awal untuk proyek geothermal.
Pernyataan Kristo merujuk pada pelibatan masyarakat yang baru dilakukan secara terbuka saat sosialisasi pembebasan lahan yang belum tuntas itu.
Menurut Kristo, informasi menjadi bagian penting dalam tata kelolah pemerintah desa. Namun dalam proyek geothermal, Pemerintah Desa tidak terbuka kepada warga sehingga menjadi bias di masyarakat. Hal ini diketahui Kristo karena ia sendiri mendampingi masyarakat. Kristo juga mempertanyakan soal informasi yang disembunyikan.
“Informasi publik itu sifatnya publik bukan privat. Informasi harus diketahui oleh seluruh warga masyarakat,” ujar Kristo mengingat banyak informasi yang seharusnya diketahui oleh warga namun disembunyikan.
Tuntutan tunggal dari aksi damai ini adalah penolakan geothermal (PLTP Atadei). Aksi damai ini juga merupakan bukti bahwa masyarakat Atakore telah menolak geothermal.+++
Dominikus.Karangora/sandro.wangak
