Ulat Dalam Menu MBG, Pihak SPPG 01 Nubatukan Minta Maaf Tapi Tetap Merasa Aneh

Rosafina Gunu, mengaku ditekan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Lamahora lantaran ada ulat dalam menu MBG

LEWOLEBA – KEPALA TK Negeri 03 Nubatukan, Kecamatan  Nubatukan, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rosafina Gunu, mengaku ditekan oleh pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Nubatukan lantaran ada ulat dalam menu MBG.

Bahkan pihak SPPG 01 sekalipun menyampaikan permohonan maaf tetapi tetap merasa aneh karena hanya satu omprengan yang ditemukan ada ulat dalam daging. Loncat loncat pula. 

Rosafina mengaku usai ditemukan ulat menu MBG pihaknya didatangi petugas SPPG dan meminta agar persoalan tersebut tidak dipublikasikan.

Sayangnya, permintaan itu tidak di penuhi oleh Kepala Sekolah bersama guru di sekolah tersebut demi keselamatan anak didik.

Hal ini disampaikan Kepala Sekolah TK Negeri 03, Nubatukan, Rosafina Gunu kepada wartawan, 17 April 2026.

Pengakuan ini juga disampaikan Rosafina dihadapan Kepala Dinas Pendidikan  Lembata, Wens O. Pukan didampingi Kabid Paud dan PNF, Silvester Yafet.

Barang Bukti Langsung Diambil Pihak SPPG 01 Nubatukan

Penyaluran bahan makan siang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Lembata menghebohkan warga setelah penemuan ulat hidup dalam daging ayam salah satu siswa penerima makanan.

Ulat hidup ini ditemukan salah satu siswa TK Negeri 3 Nubatukan Kabupaten Lembata saat membuka kemasan makanan yang baru saja dibagikan gurunya, pada Kamis, 16 April 2026.

Kepala TK Negeri 3 Nubatukan, Rosafina Gunu saat ditemui di sekolah, Jumad (17/04) membenarkan penemuan ulat dalam daging ayam MBG tersebut.

“Kemarin saat kejadian, saya lagi ada urusan di kantor dinas Pendidikan. Saya ditelpon oleh guru bahwa ada temuan ulat itu. Mereka juga kirim videonya. Tapi saat saya kembali ke sekolah, omprengan dan daging ayam yang ada ulat itu sudah dibawa oleh petugas SPPG. Padahal saya sudah minta untuk jangan dibawa, tunggu saya datang, ” terang Rosafina.

Temuan ulat dalam menu makanan dari program Makan Bergizi Gratis, yang jadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini sontak memicu perhatian semua pihak terkait di Lembata.

Halaman TK Negeri 3 Nubatukan itu didatangi banyak pihak pada Jumad pagi, 17 April 2026. Kedatangan sejumlah pihak tanpa undangan pihak sekolah ini lantas berujung pertemuan bersama untuk klarifikasi.

Wakil Bupati Lembata, Muhamad Nasir datang memeriksa dan mendengarkan keterangan para pihak. Hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Wenseslaus Pukan, Kabid Dari Dinas Kesehatan, Rosadalima Tuto, Kepala SPPG 01 Lamahora, Hanny Chandra yang didampingi Herry Tanatawa Purab.

Diketahui, makanan MBG mengandung ulat itu, adalah pasokan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 yang ada di Kelurahan Lewoleba Timur Kabupaten Lembata.

Ketua pengelolah SPPG 01, Hani Chandra hadir langsung bersama ahli gisi, akuntan dan sejumlah tim pengelolah SPPG 01.

Pengakuan Guru TK Negeri 03 Lamahora: Demi Lewotanah Ulat Itu Bukan Kami Yang Rekayasa



Ibu Minda, salah satu guru TK Negeri 1 Nubatukan kepada semua pihak yang hadir menuturkan, dirinya sebagai guru yang pertama kali melihat daging ayam berulat yang ditunjukkan salah satu siswanya.

“ Jadi kemarin itu, saya bersama anak-anak, damping mereka untuk makan setelah diantar oleh petugas SPPG. Setelah doa, mereka semua buka ompreng dan makan. Tiba-tiba salah satu anak berteriak, Ibu, ada ulat di bagian sayap. Saya dalam posisi duduk lesehan jadi kaget dan waktu bangun mau lihat, beberapa anak lain sudah ikut lihat. Ada orang tua langsung ambil hp dan rekam videonya. Saya minta mereka rekam dan bersama saya agar saya tidak mau dibilang mengada-ada. Jadi saya dan ada beberapa orang tua. ” papar Ibu Minda kepada Wakil Bupati Lembata dan semua pihak yang hadir.

“ Setelah itu, ” lanjut Ibu Minda, “ Saya mau beritahu ibu kepala (kepala sekolah, red) tapi ada guru sampaikan bahwa ibu kepala ada di dinas. Jadi kami kontak dan sampaikan juga kirim video. Ibu kepala suruh kami amankan ompreng itu dan tunggu dia pulang,” terang Ibu Minda.

Namun belum datang Kepala sekolah, beberapa petugas dari SPPG 01 sudah datang. Di hadapan Ibu Minda dan beberapa guru, para petugas minta diperlihatkan omprengan berisi makanan dan daging ayam berulat. Salah satu petugas mensuwir daging ayam untuk mencari keberadaan ulat.

“Saat ibu kepala belum datang, petugas SPPG datang. Lalu mereka minta untuk lihat makanan yang ada ulat, kami tunjukan. Mereka lalu sobek-sobek, suwir-suwir daging untuk cari tahu. Tapi tidak lihat. Saya marah, saya bilang jangan pake suwir. Ulatnya kecil. Halus macam bulu rambut. Kami tadi juga bukan pake suwir. Kami cari pelan-pelan pake tusuk sate. Itu baru kelihatan, ulat itu kecil tapi cepat sekali masuk ke dalam daging. Saya tidak berbohong, bukti video juga ada. Ada beberap orang tua juga ada. ” tambah Ibu Minda. Pengelolah SPPG lantas membawa omprengan berisi daging ayam “bermasalah” itu ke dapur SPPG.

Temuan makanan dari program MBG yang mengandung ulat ini membuat pihak sekolah khawatir akan dampak Kesehatan bagi para peserta didik. Terkait insiden ini, Kepala TK Negeri 1 Nubatukan menegaskan pihaknya telah memutuskan untuk menolak sementara pasokan MBG bagi peserta didiknya.

“Kami sudah putuskan untuk sementara ini menolak pasokan MBG ke sekolah. Kami sudah tandatangan pernyataan,” tukas Yosefina Gunu, Kepala TK Negeri 3 Nubatukan.

Polemik Paha atau sayap


 


Proses klarifikasi di halaman TK Negeri 03 Nubatukan alot lantaran barang bukti daging ayam yang awalnya sayap berubah jadi paha.

Pengakuan Ibu Minda bahwa daging ayam yang ada ulat itu adalah sayap tetapi ketika dibawah pulang oleh Petugas SPPG dan saat sore hari petugas SPPG kembali mendatangi ibu Minda dengan membawa paha ayam.

Salah seorang petugas SPPG yang mengaku sebagai akuntan yang membawa omprengan berisi menu daging ayam berulat tersebut. Pengakuan petugas itu di dukung oleh Kepala SPPG 01 Lamahora, Hanny Chandra tapi dibantah ibu Minda dan memantik reaksi Ketua Komite TKN 03 Nubatukan Laurensius Ola.

“Guru guru saya jangan dijadikan korban. Jangan mengorbankan guru guru saya dan anak didik di sekolah ini”, tegas Laurens ola yang juga anggota DPRD Lembata Partai Amanat Nasional.

Minta Maaf Tapi Tetap Merasa Aneh



Hanny Chandra, Kepala SPPG 01 Nubatukan tetap teguh menyampaikan bahwa pihaknya berbicara berdasarkan bukti data dan hasil uji laboratorium.

Kejadian ini dinilai aneh karena dari ribuan daging ayam hanya satu omprengan yang terdapat ulat hidup dan loncat loncat.

“Kita bekerja sesuai SOP BGN yang ketat. Dan kejadian ini saya meminta maaf juga merasa aneh karena dari 3020 an omprengan yang keluar hanya ada satu omprengan yang berulat. Ulatnya masih hidup loncat loncat. Sebaiknya uji pab agar kita semua bisa obyektif. Dampaknya juga luar biasa. Dapur bisa ditutup BGN”, ungkap Hanny. 

Selain itu Hanny juga meminta agar pihak sekolah ketika menemukan ulat jangan dulu di posting kemana mana tanpa kehadiran pihaknya.

“Saya minta agar penerima manfaat juga jangan menyebarkan dulu kalau ada temuan makanan yang seperti itu menunggu pihak dapur untuk menyaksikan secara bersama sama.

Dalam pertemuan itu juga disoroti SOP penyaluran dan juga penanganan masalah.

Prosedur Uji Laboratorium

Ekawati Foeh, staf Pengelolah Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata dalam pertemuan itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab adanya ulat dalam daging hanya bisa dilakukan dengan uji sample di laboratorium.

Menurut Ekawati, sekalipun sample yang dibawa ke Laboratorium Maumere itu bukan daging ayam yang ditemukan ada ulat kemarin tetapi pasti akan ketahuan hasil yang objektif karena diproses pada dapur yang sama.

Ekawati meminta agar pihak sekolah tidak perlu kuatir atau menaruh curiga bahwa ada persekongkolan untuk merubah hasil pemeriksaan Laboratorium.

“Ibu bapa di sekolah ini jangan kuatir atau menaruh curiga karena kami tetap bediri obyektif karena ini menyangkut makanan untuk anak anak sekolah di daerah kita”, ungkap Ekawati. +++


sandro.wangak


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *