Istri Kaniya Wanita Besi dari Bali Itu

Wanita Bali Menulis

Untuk bisa menyumbangkan pikiran dalam membangun masyarakat para pelajar wanita yang telah menamatkan pendidikan di luar Bali mendirikan organisasi untuk merealisasikan tujuannya. Perkumpulan Shanti yang berdiri tahun 1923 di Singaraja adalah salah satu perkumpulan yang mempunyai tujuan untuk memajukan kaum wanita di Bali dengan jalan memberantas buta huruf di kalangan ibu-ibu.

Usaha yang lebih nyata untuk memajukan kaum wanita dengan mendirikan Sekolah Permpuan Shanti pada tahun 1923 di kota Singaraja (Bali Adnyana, 1926: 1-6). Sekolah ini merupakan sekolah khusus untuk kaum wanita yang pertama kali dirintis oleh penduduk pribumi.

Pada tanggal 1 Januari 1924 Perkumpulan Shanti berhasil menerbitkan majalah (kala warta) yang diberi nama Shanti Adnjana. Majalah ini berfungsi sebagai penyebar gagasan kemajuan elite modern Bali dan merupakan sarana praktis pendidikan dan pengajaran. Isi majalah juga memuat artikel yang berisi tentang pelajaran agama, memuat berita-berita yang berisi perkembangan Sekolah Perempuan Shanti.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa majalah Shanti Adnjana cukup berperan dalam menunjang keberhasilan Sekolah Perempuan Shanti, sehingga semakin dikenal di masyarakat khususnya di Bali; (Santini, 1986: 77).

Pada tahun 1930 di Denpasar muncul organisasi sosial yang bertujuan untuk memajukan kaum wanita. Usaha ke arah itu dirintis oleh istri-istri pegawai dengan mendirikan organisasi yang diberi nama Perukunan Istri. Pada tahun 1936 atas inisiatif para guru wanita yang bekerja pada Meisjes Vervolgschool didirikan organisasi Putri Bali Sadar (PBS) (Darma Putra, 2003: 8-9). PBS bertujuan untuk memajukan kaum wanita Bali secara keseluruhan tanpa memandang dari lapisan mana mereka berasal.

 Apa yang dilakukan oleh aktivis PBS merupakan gerakan yang sudah memasuki wilayah politik dan perjuangan fisik karena berbicara mengenai nasib kaum wanita secara keseluruhan, walaupun fokusnya masih di bidang pendidikan. Oleh karena itulah PBS dapat dipandang sebagai tonggak awal pergerakan wanita di Bali karena jangkauan kerjanya sangat luas meliputi seluruh Bali. PBS dapat bertahan sampai tahun 1942 karena terjadinya perubahan politik di Bali dengan masuknya kekuasaan pemerintah pendudukan Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, tahun 1950-an di Bali terbit dua majalah yang menaruh perhatian terhadap masalah kewanitaan. Majalah Bhakti terbit di Singaraja antara tahun 1952-1954 dan majalah Damai terbit di Denpasar antara tahun 1953-1955. Dalam kedua majalah inilah penulis-penulis wanita menuangkan idenya untuk menumbuhkan kesadaran kaum perempuan untuk meningkatkan dirinya.

Tulisan Asri yang berjudul Emansipasi mengatakan emansipasi bukan berarti berpakaian secara laki-laki, merokok, nyetir mobil; emansipasi adalah menuntut hak-hak sebagai manusia yang telah diperkosa oleh laki-laki, dengan kata lain melepaskan diri dari perbudakan kaum laki-laki.

Artikel lain yang ditulis oleh Tan Toan Bun berjudul “8 Maret Hari Wanita Internasional” menyatakan bahwa pentingnya kaum perempuan memahami masalah politik sehingga paham bahwa penindasan yang dialami oleh perempuan disebabkan oleh sistem kemasyarakatan yang berlaku pada suatu jaman.

Sebagai pengagum Clara Zetkin tokoh pejuang perempuan dari Jerman, Bun mengungkapkan”seorang wanita yang tidak memperhatikan masalah-masalah politik dan perjuangan, dia tidak akan bisa menjadi seorang wanita dan seorang ibu yang sejati”.

Tidak hanya itu, artikel yang ditulis oleh Nj. Jasmin Oka, berjudul “Garis Baru Bagi Perjuangan Wanita Indonesia”, mengungkapkan tentang tahapan perjuangan yang dilakukan oleh kaum wanita di dunia dan menyarankan suatu garis baru bagi perjuangan wanita di Indonesia. Yang dimaksud garis baru dalam perjuangan kaum wanita Indonesia adalah perjuangan yang bukan semata-mata di bidang kewanitaan saja tetapi lebih mengarahkan perjuangan menuju kepada masyarakat yang sosialis, di mana akan tercapai kesejahteraan dan kemerdekaan bagi wanita.(Darma Putra, 2003: 181-191).

Inilah sejarah panjang perjuangan banyak wanita itu. Sebab seorang wanita yang tidak memperhatikan masalah-masalah politik dan perjuangan, dia tidak akan bisa menjadi seorang wanita dan seorang ibu yang sejati. (sandro wangak)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *