Istri Kaniya Wanita Besi dari Bali Itu

Wanita bali bergerak dan berjuang di bawah tanah

Masa pendudukan Jepang organisasi yang berkaitan dengan masalah politik tidak diberikan ruang untuk melakukan aktivitas. Pemerintah Jepang mewajibkan penduduk pribumi untuk mengikuti organisasi yang dibentuk oleh pemerintah yang bertujuan mendukung pemerintah Jepang menghadapi musuh-musuhnya. Walaupun pemerintah Jepang dikenal sangat kejam para aktivis terutama tokoh-tokoh pemuda tetap melakukan perlawanan secara sembunyi-sembunyi yang dikenal dengan gerakan bawah tanah.

Gerakan bawah tanah juga melibatkan tokoh-tokoh wanita yang bertugas untuk menyelidiki tempat untuk menyimpan senjata karena pada waktu itu para pemuda

kekurangan dalam persenjataan.

Desak Gede Raka salah seorang perempuan yang pada masa pendudukan Jepang bekerja sebagai guru di dekat kantor tentara Jepang di Kediri Tabanan menggunakan murid-muridnya untuk mengetahui tempat penyimpanan senjata Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Bung Karno dan Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945, berita tersebut dengan cepat menyebar keseluruh pelosok termasuk ke Bali.

Dalam menyambut kemerdekaan kaum wanita di Bali bertugas menyampaikan berita tersebut ke desa-desa dan memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa Indonesia sudah bebas dari penjajahan bangsa asing. Dalam waktu yang singkat kemedekaan bangsa kembali dirampas oleh pemerintah Belanda. Dengan pendaratan pasukan NICA yang dikenal dengan julukan “Gajah Merah” dengan cepat Bali dikuasai kembali oleh pemerintah Belanda.

Mulailah peroide baru dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Bali yang dikenal dengan Revolusi Fisik. Dalam perjuangan yang dikenal dengan revolusi fisik kaum perempuan juga terpanggil untuk ikut berjuang membantu mempersiapkan makanan bagi para pejuang dengan membentuk dapur umum di berbagai daerah basis perjuangan. Di bidang kesehatan, komunikasi, bertugas untuk memperoleh informasi mengenai keadaan musuh dan juga keadaan para pemuda pejuang yang ada di daerah-daerah lain.

Nah, Informasi diperoleh melalui badan-badan penghubung yang biasanya menyamar sebagai pedagang, petani, untuk menyampaikan pesan kepada para pejuang yang ada di kota-kota. Sebagai penghubung kaum wanita juga berperan dalam usaha untuk memperoleh senjata dari pihak musuh.

Dan benar, apa yang dilakukan oleh seorang perempuan yang bernama Lasti, pada saat ditugasi untuk menghubungi Komandan Polisi NICA di Tababan yang bernama Wagimin merupakan bukti keberanian wanita dalam berjuang. Kejelian Lasti dalam mengadakan kontak dengan Wagimin akhirnya memperoleh hasil, para pemuda pejuang berhasil memperoleh senjata dari kantor Polisi NICA di Kota Tabanan tanpa terjadi pertumpahan darah (Pendit, 1979: 208-209; Dwilya Wisada, 1987: 67).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *