Bali dan Wanita Pejuang

Dalam makalahnya Politik Gender Orde Baru Dan Keterpinggiran Perempuan Bali Dalam Kancah Politik, I Nyoman Sukiada, Pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Unud dan Staf peneliti Pusat Studi Wanita Universitas Udayana menjelaskan tampilnya perempuan di panggung politik Indonesia sudah terjadi sejak jaman kerajaan-kerajaan di Nusantara. Juga perjuangan fisik melawan kolonialisme Belanda pun banyak tampil tokoh-tokoh perempuan.
Beberapa diantaranya seperti Dewa Agung Istri Kaniya adalah tokoh perempuan yang memimpin perang Kusamba, di wilayah Kerajaan Klungkung Bali, yang dijuluki “wanita besi” dari Bali oleh pihak pemerintah Belanda. Cut Nyak Dien dan Cut Meutia dari Aceh, Marta Tehahahu dari Maluku, Emmy Saelan dari Sulawesi Selatan.
Di Jawa Tengah R.A. Kartini dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan kesetaraan perempuan khususnya dalam bidang pendidikan. Di Jawa Barat nama Dewi Sartika dikenal sebagai tokoh yang juga bergerak dalam meningkatkan pendidikan perempuan. Keikutsertaan perempuan dalam perjuangan Bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan, membebaskan bangsa dari penjajahan telah terpatri dalam berbagai dokumen bangsa ini.
Di Bali, tampilnya wanita dalam panggung politik sejarah Bali baik sebagai raja maupun sebagai pendamping suami (Raja-Red) sudah nampak sejak jaman Bali Kuno. Nama-nama tokoh wanita yang tercantum dalam berbagai prasati seperti Subhadrika Dharmadewi, Cri Gunapriya Dharmapatni, Paramecwari Indujaketana, Mahadewi Cacangkajacihna, Cri Maharaja Cri Wijaya Mahadewi, Cri Sang Adnyadewi dan Cri Sakala Indukirana merupakan bukti bahwa peranan wanita dalam berbagai perjuangan baik politik dan perlawanan terhadap colonial Belanda di Bali sudah terjadi sejak saat itu. (Mediani,1985: 75-81).
Dalam perlawanan menentang masuknya kekuasaan pemerintah colonial Belanda di Bali juga tampil tokoh-tokoh wanita. Di Bali Utara dalam perang Jagaraga menurut sumber-sumber tradisional disebut seorang tokoh wanita Jero Jempiring yang mendampingi suaminya I Gusti Ketut Jelantik. Setelah jatuhnya Bali Utara, perluasan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda dilanjutkan ke Bali Selatan. Dalam usahanya menaklukkan Kerajaan Klungkung pemerintah kolonial mendapat perlawanan dari seorang raja wanita yang bernama Dewa Agung Istri Kaniya.
Tokoh yang berperan besar dalam Perang Kusamba tahun 1849 dikenal sebagai wanita pembrani, keras kepala dan pantang menyerah. Dari sikap dan sifat yang dimilikinya itu, Dewa Agung Istri Kanya oleh birokrat kolonial diberi julukan “wanita besi”, yaitu wanita atau saudara perempuan Dewa Agung, raja Klungkung, yang ingin tetap berperang dan tidak mau berdamai dengan pihak pemerintah kolnial Belanda (Wirawan, 2004: 23). Dalam Perang Kusamba laskar Kerajaan Klungkung yang dipimpin oleh Dewa Agung Isti Kanya berhasil menembak komandan pasukan Belanda Mayor Jenderal Michiels dan akhirnya meninggal di atas kapal Etna di wilayah perairan Padangbai.
Dalam peristiwa Puputan Badung dikenal juga tokoh perempuan yang ikut gugur dalam puputan yang bernama Anak Agung Ayu Oka, melakukan satya karena calon suaminya dari Puri Denpasar sudah gugur sebelumnya.
Di Kerajaan Tabanan tampil seorang tokoh wanita yang dikenal dengan nama Sagung Ayu Wah, seorang Srikandi yang dikenal sangat gigih berperang melawan pemerintah Belanda pada waktu Belanda memasuki wilayah Kerajaan Tabanan pada tahun 1906. Pada peristiwa Puputan Klungkung tahun 1908 sebagai usaha terakhir pemerintah kolonial Belanda untuk menaklukkan Bali dikenal juga tokoh wanita yang bernama I Dewa Agung Muter.
Tokoh ini ikut mendampingi suaminya raja Klungkung I Dewa Agung Jambe pada waktu melakkukan puputan melawan kolonial Belanda; (Sudjana, 1982). Setelah Bali dikuasai secara keseluruhan, maka diperlukan system birokrasi yang lebih baik untuk mendukung jalannya pemerintahan. Oleh karena itu pemerintah kolonial mengadakan modernisasi melalui sistem pendidikan modern.
