suluhnusa.com_Minggu, 22 Maret 2014 merupakan moment bersejarah bagi dua partai besar yaitu partai Demokrat dan PDI-P di Bali. Pasalnya dua partai itu sama-sama menargetkan Bali sebagai titik utama kampanye baik rapat umum maupun non rapat umum.
Sebagai partai pemenang Pemilu 2009, Demokrat berusaha keras untuk kembali berjaya di Pemilu 2014. Sementara PDI-P, sebagai partai oposisi sehari sebelumnya, Sabtu (22/3) melakukan kampanye rapat terbuka dengan menghadirkan Ketua Umum Megawati Soekarno Putri.
Seolah tak mau kalah kemudian tiba-tiba Megawati menarik Jokowi yang seharusnya berada di Lampung tiga hari kampanye, untuk bertugas blusukan di Pasar Sukawati dan Pasar Gianyar, Bali.
Sementara Demokrat jauh-jauh hari sudah menyatakan tidak akan ikut tren masa lalu dengan kampanye terbuka. Namun moment kampanye itu di tekankan lebih kepada blusukan.
Namun jadwal kampanye Demokrat yang dijadwalkan KPU hari Minggu (22/3) ternyata bersamaan dengan “tugas kenegaraan” Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Di Bali SBY melakukan silaturahim dengan keluarga legiun veteran se-Bali di Taman Pujaan Bangsa (TPB), Tabanan dilanjutkan dengan penobatan SBY dengan Nyonya Ani Yudhoyono sebagai Semeton Tama Utama desa Tampaksiring.
Tanpa disengaja atau tidak tugas kenegaraan itu berbalut kampanye. Namun atas hal ini, dibantah oleh Ketua DPD Demokrat Bali, Made Mudarta. Dia menegaskan jika kehadiran Presiden SBY murni tugas kenegaraan.
“Tidak ini bukan kampanye, melainkan presiden melakukan tugas kenegaraan, momentnya aja bersamaan dengan jadwal kampanye Demokrat,” tegas Mudarta, Sabtu (22/3) kemarin.
Berdasarkan pantauan wartawan suluhnusa.com di Taman Pujaan Bangsa, sejumlah caleg tampak merapat di acara yang berbalut kenegaraan itu. Seperti, Putu Sudiartana caleg DPR-RI, I Wayan Adnyana caleg DPRD provinsi Bali, I Made Sunatra caleg DPRD Badung, Luh Gede Heriyani, caleg DPRD Buleleng, dan masih banyak yang lainnya.
Meski dibantah Mudarta, kehadiran para caleg ini semakin memperkuat jika tugas kenegaraan sang presiden berbalut kampanye.
Memang di TPB sang presiden tidak berorasi politik dia lebih banyak memberikan suport karena dari sejarah keluarganya mengalir darah militer.
“Keluarga saya berdarah militer, ayah saya letnan, mertua saya letnan jenderal, anak saya mayor infanteri jadi di dada saya mengalir darah militer,” kata SBY. (kresia)
