Sehelai Puisi Menuju Riangpadu

Riangpadu, kampung tua nenek moyang kami

guratan puisi sepanjang tanjakan dan tikungan

kisahnya bergelantungan di dahan-dahan

kemiri yang telah uzur, kopi, coklat, dan apa saja

yang mengepul di tanur ibu mengalir seisi nadi

 

Di persimpangan Hurung riwis gerimis menuntun

pelan-pelanlah memacu sepeda motor

ada kecipak liur tempo hari genangi kubangan

 

Sebelum sampai di sana kau temui

lembaran-lembaran janji yang kuyup nan gigil

diam meringkuk bersama kerikil-kerikil pejal

tolong pungut dan simpan saja dalam tasmu!

 

Tiba di Waigolo bersama lebat hujan memburu

berhentilah sejenak jika tak ingin dilumat banjir

sebagaimana reruntuhan asa tumbang dari jidat

milik dada-dada lusuh berpeluh di seberang itu

tolong pungut dan simpan saja dalam tasmu!

 

Menunggu reda, sepeda motor mesti digotong

ke seberang sungai yang melautkan asin keringat

menempel di dahan pohon, batang pisang, bambu

dan segala yang disemai tabah saban musim

 

Dalam gigil pelan kaupacu sepeda motor menari

seiring labrang gas ditarik pegal sepanjang jalan

dari Alen hingga Dekoweli sampai Olobele

sesak mendesak nafas dalam dada berkelindan

 

Kaupun menjumpai tumpahan peluh menetes

milik orang kampung; tua-muda; lelaki-perempuan

dari Agusala hingga persimpangan Riangtobi

sepanjang jalan semenisasi yang telah kropos itu

tolong pungut dan simpan saja dalam tasmu!

 

Pada jalan masuk banyak kenangan menoreh

mungkin kaujumpai poster atau bendera usang

mengebat di dahan pohon atau dinding rumah

barangkali banyak hal yang memabukan

bak tuak milik pemuda kampung yang kauteguk

 

Ketika pulang kepalamu penuh sesak kata-kata

huruf-huruf pun berloncatan dari dalam tas

tolong pungut dan simpan saja di dalam puisi

agar dapat dieja bola-bola mata, pun mata hati!

 

Kb, Februari 2021


NONTON TENTANG JEMBATAN PUTUS DI RIANGPADU, ADONARA, FLORES TIMUR :


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *