Diduga Manipulasi Pembayaran, Vendor Bongkar Masalah Proyek PT.Venturi Di Gedung Pupuk Marunda Dan Sekolah MIS Alor

Dugaan kuat kami dana proyek miliaran rupiah itu disalahgunakan. Ketika dana proyek Alor cair, dialihkan ke proyek Jakarta, begitu juga...

KALABAHI, – Diduga terjadi praktik “gali lubang tutup lubang” dalam pengelolaan dana proyek miliaran rupiah milik negara. Sejumlah pekerja proyek gudang pupuk di Marunda, Jakarta Utara, menuding kontraktor pelaksana PT Venturi Azima Maharani Putra menahan pembayaran upah hingga Rp 443 juta dan menggunakan pencairan dana proyek lain untuk menutupi kewajiban sebelumnya.

Proyek pembangunan gudang pupuk di kawasan Marunda, Jakarta Utara, yang bersumber dari anggaran APBN dan dikerjakan oleh PT Venturi Azima Maharani Putra Bandung, diduga menyisakan persoalan serius terkait pembayaran upah para pekerja dan vendor proyek, Sabtu, 16/5/2026.

Seorang vendor berinisial AP kepada awak media mengaku pihaknya hingga kini belum menerima pembayaran pekerjaan meski proyek telah berjalan sejak Desember 2025.

Menurutnya, para pekerja sebelumnya diminta untuk terus mengejar progres fisik pekerjaan dengan janji pembayaran dilakukan melalui sistem tiga tahap dalam waktu 15 hari.

“Janji manis tak kunjung sampai. Kami disuruh kerja untuk mengejar progres fisik, tapi upah kerja sampai sekarang belum kami terima,” ujarnya.

AP menjelaskan, progres pekerjaan yang telah mereka kerjakan mencapai sekitar 55 persen. Namun hingga Mei 2026, pembayaran disebut belum diterima sepeser pun.

Ia juga mengungkap bahwa persoalan serupa sebelumnya terjadi pada beberapa proyek sekolah MIS di Kabupaten Alor yang dikerjakan kontraktor yang sama. Sejumlah pekerja asal Bandung maupun tenaga lokal dikabarkan mengalami keterlambatan pembayaran upah.

Menurut AP, pihak perusahaan beberapa kali menjanjikan pembayaran dengan alasan menunggu pencairan dana proyek lain, termasuk proyek di Alor dan Bali.


Gudang pupuk di Marunda

“Kami dijanjikan kalau dana proyek di Alor atau Bali cair maka sebagian upah kami akan dibayar,” katanya.

Karena pembayaran tak kunjung dilakukan, para pekerja akhirnya melakukan aksi protes di lokasi proyek Marunda. Salah seorang pekerja lainnya, Sarmili, mengaku sempat mendapat informasi bahwa pekerjaan proyek akan diambil alih owner dan bukan lagi ditangani PT Venturi.

“Kalau tidak mau lanjut, katanya suruh bongkar saja pekerjaan itu,” ungkap AP menirukan penyampaian yang diterima dari pemborong pekerjaan atap.

Pada aksi demonstrasi yang berlangsung Senin, 4 Mei 2026, para pekerja gedung pupuk Marandu Jakarta menuntut pembayaran sejumlah item pekerjaan borongan dan upah yang belum dilunasi pihak perusahaan di antaranya yaitu Tanah urugan Rp175 juta, Tukang sipil Rp50 juta, Mandor sipil Rp50 juta, Material Rp10 juta, Alat berat Rp14 juta, Mandor lapangan Rp44 juta, Ready mix/cor-coran Rp100 juta. Total nilai pembayaran yang dituntut mencapai Rp443 juta.

Lebih lanjut, AP menduga terdapat pengelolaan dana proyek yang tidak transparan. Ia menuding adanya dugaan pengalihan pembayaran antarproyek untuk menutupi kewajiban lain.

“Dugaan kuat kami dana proyek miliaran rupiah itu disalahgunakan. Ketika dana proyek Alor cair, dialihkan ke proyek Jakarta, begitu juga sebaliknya,” tegasnya.

Sementara itu, sumber lain dari Kabupaten Alor yang enggan disebut namanya menyebut bahwa pembayaran dari pemerintah daerah kepada kontraktor utama disebut berjalan normal. Namun setelah dana diteruskan kepada pihak pelaksana, penyerapan anggaran diduga tidak jelas.

Sementara itu, Direktur PT. Venturi, Anton Hermanto, yang dikonfirmasi Media via telepon pribadinya membenarkan adanya proyek pekerjaan Sekolah MIS di Alor yang dikerjakan oleh pihaknya.

Kami memang ada kendala suplai bahan (besi) dari kontraktor masuk ke lokasi pekerjaan sekolah MIS Babul Jihad Moru, Kabupaten Alor. Waktu itu memang telat dua bulan.

Berkaitan dengan upah para pekerja, Anton menjelaskan, hitungan dari awal pekerjan selama 3 (tiga) bulan tidak mencapai progres, sedangkan kita sudah ambil dana sekitar 40 persen dari nilai kontrak.

Menurutnya, kita harus kejar progres fisik pekerjaan untuk mencapai 40 persen tapi nyatanya tidak terselesaikan oleh pekerja atau tukang hanya mencapai 20 persen saja.

“Progres terbesar proyek sekolah MIS Babul Jihad Moru itu pada pekerjaan Rehabilitasi gedung sekolah itu pada item atap,” katanya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Venturi Azima Maharani Putra maupun Direktur Anton Hermanto belum memberikan keterangan resmi terkait proyek gedung pupuk Marandu Jakarta.+++


j.k


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *