Aku Tidak Gila

Aku menatap pak Usman, membaca prosa liris itu dengan segumpal tanya di hati. Pak Usman, seorang pria paruh baya yang tinggal tidak jauh dari rumahku, mengernyitkan dahi, mengangkat kertas yang ia tulis tinggi-tinggi sambil berkata lantang, “Lihat, lihatlah padaku sang mentari, jawablah pertanyaanku, di mana jiwaku, di mana kau simpan roh beradabku yang hilang saat aku masih bayi merah, di mana?” 
Lalu Pak Usman memberikan kertas itu padaku. Dengan wajah masih tegang ia kembali berkata, “Aku adalah aku, di sini di dalam ragaku bersemayam sosok mahadewa yang kutahu ia menyetir seluruh langkah kehidupanku!” Sosok pria yang hobby nonton wayang ini, terus berceloteh. Matanya memerah, lalu air mata tanpa disuruh mengalir membasahi pipinya. “Aku letih, negeri ini terlalu kotor. Semuanya rakus, rakus seperti babi yang menyeruduk kesana kemari memakan apa yang ada di depan mata. Mereka semua penipu, negeri ini, negeri para penipu!” serak suaranya terdengar. 

Aku mundur beberapa langkah. Tiap tutur kata yang keluar dari bibirnya agak membingungkan, tak jelas maknanya. Tapi jujur aku suka. Aku suka karena di tiap kalimat-kalimat yang diucapkannya, ada makna terdalam yang hanya dimengerti segelintir orang, orang-orang yang tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi di negeri yang penuh kamuflase ini.
***

Di lain waktu, di saat debat kusir yang tak jelas topiknya di beranda rumahnya yang asri terjadi, ia berkata dengan tiba-tiba, “Saya tahu apa yang terjadi saat peristiwa G.30 S PKI. Saya tahu semua itu…”

“Maksud Bapak?”

Pak Usman memandangku.

“Kau memang tidak pernah tahu. Kau kan belum lahir. Fakta sejarah masih buram, seburam lembayung jingga yang tertutup awan petang hari. Di sana skenario yang amat dahsyat tersusun, di sana tangisan dan kehampaan menyatu, menyatu membentuk sebuah opini lara yang mengorek-ngorek dinding nurani. Di sana, di hari yang nahas itu, kekuasaan absolut terbentuk, membetuk sebuah dinasti yang diawali dengan darah dan air mata. Darah para jenderal yang terhempas penuh tanya saat meregang nyawa, tangis para isteri dan anak-anak yang ketakutan. Di sana kegelapan mengiringi dibangunnya negeri ini. Negeri para pendusta yang diawali dengan wajah tenang dan suara yang tertata apik.” Pak Usman masih terlihat kesal. Lalu laki-laki beranak tujuh ini kembali mengambil kertas dan menulis sesuatu di kertas itu. “Ini, bacalah, ini adalah curahan jiwaku yang hilang. Aku akan pergi mencarinya, menentang waktu dan menyambangi semua mimpi yang ia kirimkan padaku!” 

Glek! Aku menelan ludah. Tenggorakanku tiba-tiba kering. Di situ, di kertas itu Pak Usman juga menulis; setiap kehidupan ada proses yang berjalan ke arah kesempurnaan. Contohnya kedipan mata. Bila mata berkedip, sesungguhnya bukan kehendak si pemilik mata, dia harus berpikir siapa yang mengedipkan mata itu. Begitu pula halnya jika kita mengantuk, itu bukan perbuatan manusia, kita harus mencari tahu siapa yang membuat mata kita mengantuk, kita harus paham bahwa sejak manusia lahir ke bumi, sebagian besar dosa bawaan sudah ada di dirinya. Dosa akan bertambah jika manusia memang mengingininya. “Sebenarnya, jiwa saya resah melihat keadaan sekarang ini. Seharusnya 

jiwa suci saya yang melayang-layang sebelum dia mengejawantah lalu terjun bebas dan masuk ke raga sosok yang bernama manusia, sang jiwa harus mengadakan penseleksian terlebih dahulu. Seleksi terhadap siapa yang akan dijadikannya tempat untuk bernaung, sang jiwa harus selektif. Jika tidak, beginilah akibatnya, bencana datang beruntun. Jiwa tak bisa semata-mata terbang melayang, meninggalkan raga dengan beku, lalu terbang kembali mencari raga yang baru. Ia memiliki komitmen dengan sosok yang namanya Tuhan. Umur berapa raga itu hendak ditinggali, ada perjanjian yang samar di mana si manusia itu sendiri tidak mengetahuinya. Kau paham apa yang kumaksud?” Mata Pak Usman tajam tertuju padaku.

Aku menggeleng. Laki-laki ini semakin ngelantur. Tapi sekali lagi kukatakan, aku suka!

Pak Usman tambah bersemangat. “Dengar Nak Agus, seperti yang sudah saya katakan, sebelum manusia diciptakan, dia masih memiliki ikatan dengan masa lalu. Seperti pertemuan bibir atas dengan bibir bawah, dia selalu akan menyatu. Tubuh tidak bisa lepas dari kepala, semua itu masih ada ikatan, jadi tidak boleh ribut, sebab jika salah satu ribut dan mati, maka matilah yang lainnya. Lihat ulat-ulat bulu itu, sebelumnya dia hanya kepompong, alam telah mengaturnya dengan sistematis. Alam yang bijak, telah memperlakukan manusia dan seluruh 

penghuni lainnya dengan begitu adil. Tapi apa yang diperbuat sang mahluk hidup? Mereka telah mengoyaknya menjadi serpihan-serpihan derita yang pada akhirnya melontarkan amarah dan dendam. Manusialah penyebabnya, mereka tamak mengeruk semuanya tanpa sisa, semakin kaya mereka, mereka akan semakin serakah. Saya ingin menelusuri jalan saya sendiri, mencari siapa sesungguhnya diri dan jiwa saya. Saya ingin melupakan ketamakkan dan keserakahan. Saya ingin mencari pencerahan, mencari esensi hidup yang benar-benar hidup, yang tidak terkontaminasi oleh kotornya perilaku manusia. Saya ingin menyelamatkan bumi!”

Menyelamatkan bumi? Tiba-tiba kepalaku jadi pusing.

Sampai suatu hari isteri Pak Usman menitikkan air mata. Dengan wajah murung ia berujar, “Semalam, Bapak pamit pada saya. Ia bilang ingin mencari jejak jiwanya di penghujung waktu. Dia juga katakana akan menyusuri Alas Roban dengan berjalan kaki. Bayangkan Nak, Alas Roban letaknya di mana dia tidak tahu. Dari alas Roban, dia akan ke Pelabuhan Ratu, katanya…katanya…”

“Katanya apa, Bu?”

“Dia hendak bertemu dengan Nyai Loro Kidul. Menurutnya, di sana jiwanya yang terdahulu sebelum ia dilahirkan ke dunia, bersemayam. Menurutnya lagi ia pernah menjadi pengawal pribadi sang ratu. Ketika saya dan anak-anak melarangnya, penyakit ashmanya kumat, dia mengancam saya, jika dirinya tidak diijinkan melakukan apa yang sudah direncanakannya, bila sampai ia meninggal, arwahnya akan mengejar-ngejar saya. Haduh, saya jadi bingung, dulu dia tidak begitu.” Keluh Bu Usman.

Begitulah kisahnya. Pak Usman lenyap!

Pencarian pria berumur enam puluh tahun itu pun dilakukan. Anak-anaknya menyebar mencarinya di Alas Roban hingga ke Pelabuhan Ratu. Hutan-hutan lebat mereka susuri, pepohonan jati yang memenuhi Alas Roban mereka lalui, di sana jejak Pak Usman bagai lenyap di telan bumi. Dia tetap tak terlacak, dia seolah terhapus dari peradaban dunia.
***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *