Pecah di Ahir Malam

Ucap itu bukan rasa yang tulus, 
Sekiranya hanya bahasa yang menghiasi pinggiran malam yang sepi, 
Menepikan gulungan rindu pada kekasihnya, 
Lalu sepi seperti terselip sepijaran tawa, 
Lelaplah rebahan malamnya, 

Kenapa kemilau itu adalah semu, 
Kecupan bimbang pada perempuan, 
Yang tidak dianggap kekasihnya, 
Kenapa,,, ?

Lalu tangisan pecah pada akhir malam, 
Sendiri dan sembunyi, 
Di usapnya tetesan air matanya, 
Lewat puisi-puisi malam, 
Yang lahir dari rahim perihnya,,,

Restu Hati

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *