Sesal

seperti malam malam kemarin
kukenangkan engkau lewat serpihan kursi bambu tua yang deraknya pekak
dengan secangkir sunyi dan kepulan angan yang seringkali tersesat
kita kencani sebuah gitar tua dan melumatnya dalam irama

tawamu serenyah gorengan musim dingin
dongenganmu tak mengenal kata akhir
lalu kita berjalan menapaki kata
dengan butiran huruf yang kueja menjadi sajak tanpa jeda

sedang apakah kau disana
barangkali sedang memunguti angan angan yang tersisa
sambil mengenangkan pula awal perjumpaan kita
di sela sela pahit yang semakin kental mengaliri rongga dada

sedang disini aku tegak memahat bayanganmu
dengan sekeranjang ego dan sedikit rasa sesal yang mengganggu
sekalipun, jika kita bertemu
sanggupkah sekotak maaf membalut lukamu ?

widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *