Ribuan Hari

Kini 
Sajakmu terantuk gundukan malam
Pada perempuan yang menghitung lembar desahnya
Pada wanita berkalung sepi
Pada tetesan keringat di juntaian dahaga
Meninggalkan , harum cempaka dan kenanga

Dan aku
Menyeret harap yang berdarah
Mencoba melukis surga di air keruh
Tetap mengeja sajak yang tercecer di bebatuan senja
Sebagai anak anak langit yang merdeka
Menyebut cinta bagai dewa

Engkau dan aku..
Merangkai kelopak kenangan dengan mata buta
Di antara sayup lonceng gereja, dan doa doa riuh pada altar 
Juga harum dupa di kedipan purnama
Diantara tangis dan caci maki

Ribuan hari , ribuan hari …..

Samar , gamang, aku masih mendengar suara genta ditingkah lonceng gereja…

 

widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *