RIndu Meremas-remas

Antara jemari yang terkait
Meremas rindu yang menggunung
Nafas seirama derit pucuk bambu
Melantun sepi tak bertuan
Adakah bulan masih mengitip malu ?
Sedang hati berkalung seuntai cinta bisu

Aku menghitung detik waktu yg berjalan
Seperti titik gerimis yang turun begitu lambat di kaca jendela
Sepasang cecak saling menatap
Barangkali terlalu lama rasa terlunta
Hingga pahit manispun tak lagi terasa

Lalu aku menghapirimu sayangku
Mencoba menggodamu dengan seribu kerlip bintang
Tp engkau masih berdiri disana
Berselimut embun yang beku
Bagaimana aku menjamahmu… ?

Meski dalam ruang anganku
telah kulumat habis bibirmu yang dulu merah delima
Tapi engkau bergeming
bahkan saat aku setubuhi bulan yang kesepian ,
engkau tetap diam..

Widyastuti

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *