suluhnusa.com_Bali dihiasi dengan indah. Penuh pernak-pernik. Bali yang molek. Bali yang menawan. Bali saat itu memancarkan sinar kedamaian, yang mampu memberikan kesejukan pada setiap hati sanubari umat manusia. Itulah Bali di Hari Galungan dan Kuningan.Jalanan penuh penjor. Semua wanita tua muda, besar dan kecil, gadis-istri dan janda berkebaya. Selain itu tempat-tempat suci dipasangi kain aneka warna. Bali hari itu, Hari yang indah..
Umat Hindu saat ini di Bali bersiap-siap menyongsong Hari Suci Galungan yang bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (Keburukan).
Tahun 2012 lalu Hari Raya Galungan jatuh 1 Februari 2012 sementara Kuningan 11 Februari 2012. Sedangkan untuk tahun 2013 ini Galungan akan terjadi pada 23 Oktober sementara Kuningan 2 November 2013. Saat ini umat Hindu Bali sedang mempersiapkan diri untuk merayakan hari raya kemenangan ini.
Hari suci yang mengandung makna kebangkitan itu dirayakan setiap 210 hari sekali, menurut penanggalan pawukon kali ini jatuh pada hari Rabu, Wuku Dunggulan, tepat pada 23 Februari 2012, menyusul sepuluh hari kemudian Hari Raya Kuningan, 2 November 2013.
Masyarakat Bali yang tinggal di kota maupun pedesaan sudah melakukan persiapan dengan baik, Pria bertugas menyiapkan bambu dan wanita menjarit janur untuk hiasan penjor yang nantinya di pajang di depan pintu masuk rumah atau pura.
Namun berbagai jenis peralatan penjor (bambu yang dihias) itu sudah ada yang menjualnya secara lengkap di pasar maupun perumahan, sehingga kebanyakan warga membeli modifikasi peralatan penjor yang terbuat dari lontar. Kelengkapan satu set penjor berkisar Rp75.000 – Rp150.000, bahkan ada yang mencapai Rp.300.000 tergantung ukuran dan aneka jenis/bentuk hiasan.
Dengan kelengkapan modifikasi itu lebih praktis, karena hanya tinggal mengikat pada bambu sudah rampung, berbeda halnya dengan menggunakan bambu atau janur yang memerlukan waktu lebih lama untuk menghias bambu menjadi penjor.
Sementara yang perempuan, baik remaja putri maupun ibu rumah tangga sejak awal pekan ini telah memanfaatkan waktu luangnya untuk menjarit (merangkai) janur guna dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sanghyang Widhi Wasa, saat Hari Raya Galungan maupun Kuningan.
Tidak ketinggalan pula ibu rumah tangga yang bekerja di kantor pemerintah, swasta termasuk wanita karier, memanfaatkan waktu senggang pada malam hari membuat bebantenan dan perlengkapan upacara keagamaan lainnya. Oleh sebab itu bahan baku berupa janur, buah-buahan, pisang, daging dan kebutuhan sehari-hari lainnya menjelang Galungan dan Kuningan harganya melonjak.
Sebut saja, di Pasar Agung-Peguyangan, Kota Denpasar, Janur satu ikat pada hari biasa di jual Rp. 12.000, tetapi menjelang Hari raya Galungan dan Kuningan melonjak menjadi Rp. 20.000 hingga Rp.22.000. Demikian pula bunga pacah antara Rp.35.000 hingga Rp.40.000/ kilogram padahal sebelumnya hanya Rp.15.000 serta berbagai jenis bahan dan keperluan lainnya umumnya melonjak dibanding hari-hari sebelumnya.
Ni Komang Juniati, salah seorang Karyawan Pasar Agung kepada suluhnusa.com, 16 Oktober 2013, mengungkapkan, biasanya permintaan terhadap kelengkapan kegiatan ritual seperti sampian penjor, lamak meningkat 200 % dari hari-hari biasa di Pasar Agung dan juga pasar tradisional lainnya.
Bahkan, tutur Juaniadi, Sampian penjor mencapai Rp 30.000 per buah, lamak Rp 2.000 dan lamak besar Rp 4.000/buah, Janur satu lonjor mencapai Rp 15.000- Rp 25.000, bambu Rp 10.000 per batang.
Meningkatnya harga-harga tersebut bisa disadari, karena dagangan seperti janur dan bambu didatangkan dari daerah-darah di Jawa Timur, karena persediaan yang ada di Bali tidak mencukupi. Puluhan truk yang membawa janur, bambu dan pisang datang dari daerah-daerah di Jawa Timur dalam beberapa hari menjelang Galungan, tutur Wayan Sugara, seorang pedagang bambu di pasar Pedungan.
Dewa Mustika salah seorang pembeli penjor mengatakan lebih baik membeli daripada membuat sendiri. “Lagian saya sibuk. Lebih praktis, kita kan membeli saja tinggal dipasang. Itu dikranakan saya kerja sampai malam, jadi tidak ada waktu untuk membuat penjor,” ujarnya.
Hiasan penjor penuh makna, menghiasi sepanjang jalan menambah kesemarakan daerah setiap desa maupun kota yang tidak pernah sepi dari aktivitas ritual dan budaya. Suasana semarak itu hampir terjadi di semua tempat, baik di perkotaan maupun pedesaan di Bali pada umumnya.
Berdasarkan pengamatan, dibeberapa ruas jalan di Kota Denpasar sudah terlihat. Hari suci menurut Ni Komang Juniadi selain bermakna memperingati kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (keburukan) juga memberikan keheningan atas kemakmuran dan kesejahteraan yang dilimpahkan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Hari Kemenangan Dharma sekaligus kebangkitan, tangga menuju pemusatan pikiran dan kesucian diri, agar umat manusia dalam menjalani kehidupan benar-benar suci dan bersih.
“Pikiran suci akan mampu menghilangkan semua pengaruh yang bisa membawa dampak negatif,” kata Juniadi.
Umat Hindu pada hari baik itu menghaturkan sesaji kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam semua manifestasinya, sebagai perwujudan rasa bhakti dan syukur atas segala kemakmuran yang dilimpahkan-Nya.
Pada Tanggal 23 Oktober, Bali dihiasi dengan indah. Jalanan penuh penjor. Semua wanita tua muda, besar dan kecil, gadis-istri dan janda berkebaya. Selain itu tempat-tempat suci dipasangi kain aneka warna. Bali hari itu, Hari yang indah. Penuh pernak-pernik. Bali yang molek. Bali yang menawan. Bali saat itu memancarkan sinar kedamaian, yang mampu memberikan kesejukan pada setiap hati sanubari umat manusia.
Hari Raya Galungan merupakan momentum bagi umat Hindu untuk meningkatkan kualitas dan memotivasi diri untuk selalu hidup dalam ketekunan bekerja dengan tidak melupakan keselamatan diri maupun lingkungan. Penyucian diri menyangkut semua aspek yakni kejiwaan (mental dan pikiran), keragaan (sikap dan prilaku) yang harus berjalan dan seimbang serta melaksanakan ajaran agama yang disebut Tri Kaya Parisuda yakni berpikir, berkata dan berbuat yang baik.
“Untuk itu, umat Hindu perlu merenungkan makna Galungan, yakni secara sadar bahwa semua anugerah yang dilimpahkan Tuhan Yang Maha Kuasa selama ini dapat mendorong umat untuk lebih meningkatkan perbuatan baik (dharma) di dunia,” kata Juniadi. (sandro wangak)
