Aku Tidak Gila

“Lepaskan aku…lepaskan aku…kalian tahu tidak siapa yang kalian tangkap? Aku pengawal pribadi Bung Karno, akulah yang berjuang keras mencari jalan bagaimana menyembuhkan dunia. Kalian Lihat, tanah-tanah di perkotaan sudah habis kalian rambah, kalian jadikan hutan beton untuk memuaskan dahaga kalian, kalian telah menjadi kapitalis penghisap darah para buruh, para petani, dan para nelayan. Kalian bersenang-senang di atas penderitaan rakyat miskin. Mana janji yang kalian dulu sampaikan? Mana? Lihat, seharusnya tanah yang begitu subur ini memberikan makanan yang cukup bagi kita semua. Tapi apa yang terjadi? Kalian memeras sampai tetes terakhir keringat para buruh, para nelayan, para petani dan para kaum papa yang ada di negeri ini. Di mana hati nurani kalian? Tidakkah kalian merasa iba pada nasib mereka?” teriak Pak Usman histeris.

Para petugas rumah sakit jiwa itu membekap mulutnya. Ia dimasukkan ke dalam ruangan berjeruji besi dengan tangan terikat ke belakang. Beberapa pasien ada yang bersuit-suit, berteriak dan berpantomin sambil berceloteh dengan kata-kata yang tak beraturan penuh daya khayali.

“Ada keluarganya?” tanya dokter rumah sakit jiwa pada perawat yang memegang Pak Usman.

“Tidak ada.”

“Tanda pengenal?”

“Juga tidak ada.”

“Beri dia Risperdal biar tenang, taruh di ruang yang berbeda!”

Pak Usman mengerang dan meraung, memanggil-manggil nama anak-anak dan isterinya. “Lepaskan aku, keluarkan aku dari kamar ini. Aku tidak gila, aku hendak mencari jiwaku yang merana, lepaskan akuuuu…!”

“Bruk!” Pintu kamar rumah sakit jiwa itu kemudian terkunci dan tertutup rapat. 

Fanny J. Poyk

Dimuat di Suratkabar Suara Karya 2 Maret 2013

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *