BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Perpustakaan Ideal
Mulyani A. Nurhadi mendefinisikan perpustakaan sebagai suatu unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu, untuk digunakan secara kontinu oleh pemakainya sebagai sumber informasi (1983:4). Perpustakaan bukan lembaga untuk mencari untung , namun demikian pngelolaanna tetap secara profesional mencari keuntungan bukan dari segi ekonomi tetapi dari segi peningkatan kualitas pembaca
Sebuah perpustakaan idealnya memiliki gambaran tertentu sebagai bentuk kenyamanan dalam mencari informasi . Walaupun tidak banyak perpustakaan ang memiliki kriteria idela namun prlu diketahui perpustakaan ideal seperti apa sehingga setidaknya dapat mendekati gambara ideal sedikit demi sedikit.
Menurut Supriyanto, (2006 : 28). Gambaran dan impian sebuah perpustakaan yang ideal adalah : (1) gedung dan bangunan yang megah atau mewah dengan sejumlah ruangan yang memadai, (2) para pegawai yang bersemangat, berintegritas, berdisiplin dan menjiwai serta loyal kepada pekerjaan, (3) lokasi yang strategis dengan lahan yang luas dan mudah diketahui masyarakat dan mudah dijangkau pengunjung disertai sejumlah papan penunjuk, (4) sarana dan prasarana yang memadai, perlengkapan/inventaris kantor yang baik dan standar, seperti meubiler, alat transportasi, dan beberapa mesin untuk mendukung pelaksanaan aktivitas organisasi, (5) sumber informasi (koleksi) bahan pustaka yang relatif lengkap, bervariasi, bermutu dan jumlah yang memadai dan selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (up to date), (6) tersedia dan dilengkapi penerapan teknologi, terutama teknologi informasi, dan (7) sistem, prosedur dan mekanisme kerja yang baik
Pada dasarnya sebuah perpustakaan yang baik dapat memenuhi tujuan utama dari perpustakaan itu sendiri yaitu mampu memberi informasi yang dibutuhkan kepada pengunjung serta tujuan bawaan yaitu memberi kenyamanan kepada pengunjung dalam mendapatkan informasi tersebut. Hal tersebut bisa diwujudkan dengan fisik (gedung/ruang dan buku buku) yang memadai serta pengelolaan (sistem, prosedur serta mekanisme) kerja yang baik
2.2 Kondisi Perpustakaan di Indonesia
Sebagaimana kita ketahui perpustakaan dibangun untuk menyediakan sarana bagi siswa agar dapat belajar, menambah wawasan , mencari informasi yang diperlukan guna mendukung kegiatan belajarnya. Jadi sesungguhnya perpustakaan sangat penting bagi pengembangan kehidupan sekolah pada khususnya dan mayarakat pada umumnya.
Berbeda dengan gambaran sebuah perpustakaan ideal, kenyataan jauh panggang dari api. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) bidang Pendidikan Musliar Kasim mengaku, kondisi perpustakaan di Indonesia menyedihkan. Bahkan penelitian pada 2006 lalu menyatakan, tidak semua sekolah mempunyai perpustakaan. Dan tidak semua perpustakaan mempunyai tenaga pustakawan. Perpustakaan di sekolah negeri dan swasta pun hanya mempunyai koleksi buku terbatas ( http://nasional.sindonews.com/read/776683/15/kondisi-perpustakaan-di-indonesia-menyedihkan-1377709972 )
Kenyataannya perpustakaan yang sering kita lihat utamanya di sekolah – sekolah dasar memang tidak sesuai dengan harapan bahkan sangat jauh dari katagori ‘ layak ‘ apalagi ideal. Perpustakaan di sekolah dasar seringkali kurang mendapat perhatian atau hanya dikelola apa adanya saja. Blasius Sudarsono dalam bukunya “Antologi Kepustakawan Indonesia” mengatakan bahwa pembangunan perpustakaan umum di Indonesia masih sangat lemah (Sudarsono, 2006 : 164).
Temuan di lapangan beberapa faktor yang kurang menyenangkan diantaranya;
- Biasanya tidak ada siswa / siswi di perpustakaan. Kalaupun ada hanya sekedar ngobrol karena tidak punya uang lagi untuk berbelanja di kantin .
- Perpustakaan hanya buka pada jam sekolah
- Guru tidak rutin menyuruh siswa ke perpustakaan dalam jam kelas baik untuk tugas atau necari informasi tertentu
- Guru sendiri jarang ke perpustakaan sehingga tidak tahu apa isi perpustakaan
- Tidak ada petugas khusus perpustakaan sehingga perpustakaan tidak dikelola dengan serius atau malah lebih sering tutup.
Perpustakaan seperti tersebut diatas hanyalah sebagai ‘gudang buku’ untuk menyimpan buku – buku terbitan Depdikbud yang sudah tidak sesuai dengan kurikulum yang berlaku dan sama sekali jauh dari perpustakaan idaman. Untuk itu banyak hal yang harus dibenahi mulai dari masalah fisik yang meliputi ruang, sarana dan prasarana, pengelola yang meliputi kemampuan petugas perpustakaan termasuk komitmennya terhadap pengembangan perpustakaan dan mentalitas masyarakat / lingkungan di sekitarnya.
Dalam pengembangan sebuah perpustakaan, alangkah baiknya apabila bisa mngembangkan perpustakaan secara ideal, namun biasanya kendala yang dihadapi akan semakin banyak, sehingga pengembangan terkesan jalan di tempat dan tidak memberikan manfaat. Dalam karya tulis ini, akan dipaparkan pengembangan perpustakaan dengan kondisi minim baik dalam hal dana ataupun tenaga, namun tetap dapat menjalankan fungsi sebagaimana umumnya sebuah perpustakaan.
