BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Fisik Perpustakaan
Lebah tidak akan datang bila tak ada madu. Istilah itulah yang dapat dijadikan pijakan dalam berbuat. Artinya apabila perpustakaan tak menarik atau tidak ‘menjanjikan’ seorang pembaca akan mendapatkan suatu pengetahuan baru atau hal yang menyenangkan , tak seorang siswapun yang secara sukarela datang dan membaca ke perpustakaan. Memang hal ini bisa jadi disebabkan juga oleh minat baca yang rendah di negara kita. Kedua hal tersebut memang saling mempengaruhi satu sama lain. Jadi untuk meningkatkan minat baca , pertama yang harus menjadi fokus perhatian kita adalah fisik perpustakaan.
3.1.1 Ruang perpustakaan
Di sekolah sekolah setingkat SMU maupun SMP apalagi di perguruan tinggi, masalah fisik perpustakaan sekolah mungkin tidak lagi menjadi kendala, sebab disana umumnya sudah tersedia ruang perpustakaan baik yang dibangun dari bantuan pemerintah maupun swadaya dari dana orang tua siswa. Apalagi di sekolah – sekolah swasta, dimana pada umumnya pembayaran uang sekolah tidak menjadi masalah bagi orang tua. Namun bagaimana dengan sekolah dasar yang berstatus negeri ? Tidak banyak sekolah dasar negeri yang memiliki keberuntungan seperti itu. Bersyukur ada beberapa sekolah yang mendapat bantuan pembangunan perpustakaan dari pemerintah. Itupun satu dari sekian ratus sekolah. Selebihnya hanya bisa berharap agar pemerintah melirik sekolahnya untuk mendapatkan dana bantuan pembangunan perpustakaan. Dan itu membutuhkan waktu . Sedangkan siswa semakin berkembang dan tidak bisa menunggu.
Ruang perpustakaan idealnya adalah ruang yang luas, jauh dari kebisingan mempunyai pencahayaan dan sirkulasi udara yang cukup sehingga memberikan kenyamanan bagi para pembaca. Tapi kalau tidak ada jangan berkcil hati. Tidak ada rotan akarpun jadi. Kita dapat menggunakan mes kepala sekolah, guru atau penjaga sekolah yang tidak terpakai. Dalam hal ini sudah banyak dilakukan di sekolah – sekolah dasar. Atau bisa memanfaatkan emperan kelas atau kantor guru sebagai perpustakaan bergerak, yang mana buku bukunya dapat diganti atau di rotasi setiap hari. Meski terlihat memprihatinkan namun itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
3.1.2 Sarana dan prasarana
Beberapa peralatan sederhana yang diperlukan sebuah perpustakaan adalah sebuah rak tempat koleksi, buku untuk mencatat operasional perpustakaan dan tempat untuk membaca serta koleksi itu sendiri. Khusus untuk perpustakaan di sekolah dasar sebaiknya dilengkapi juga dengan barang – barang non buku seperti prakarya atau lukisan lukisan siswa yang membuat siswa betah berlama lama di perpustakaan.
Apabila tidak ada dana untuk membuat rak tempat buku yang permanen dari kayu atau kaca, bisa menggunakan bahan yang lebih sederhana misalnya rotan atau plastik. Bahkan bila tempat buku hanya beberapa meja kecil, perpustakaan tersebut sudah berjalan. Begitu juga dengan buku untuk operasional perpustakaan.
Koleksi perpustakaan dapat berupa buku bantuan pemerintah, buku dari sumbangan orang tua siswa dan dari masyarakat sekitar. Beberapa usaha yang dapat kita lakukan untuk selalu menambah koleksi buku perpustakaan agar jangan membosankan karena dari tahun ke tahun buku – buku yang dipajang itu – itu saja adalah dengan berburu buku – buku bekas. Tidak dapat dipungkiri, disekolah dasar, buku – buku yang ada di perpustakaan adalah buku keluaran Depdikbud dengan kurikulum di bawah tahun 1994. Warga sekolah hendaknya mempunyai tanggung jawab yang sama untuk selalu menambah jumlah koleksi di perpustakaan. Beberapa dari siswa tentu mempunyai buku – buku bekas di rumahnya yang dapat di sumbangkan ke perpustakaan sekolah. Tentu saja ini tergantung dari kepiawaian guru atau petugas perpustakaan dalam menggerakkan hati siswa agar mau berbuat untuk perpustakaan mereka. Selain itu buku bekas bisa di dapat dari toko buku yang sedang mengadakan obral, sehingga dengan mengeluarkan sedikit dana , dapat terkumpul buku – buku yang dapat dibaca oleh siswa. Alangkah baiknya apabila sekolah menyediakan minimal satu buku baru setiap bulannya dan berlangganan koran agar guru maupun siswa tidak ketinggalan informasi.
Koleksi tidak hanya berupa buku – buku, koran, majalah , tetapi sangat baik apabila sekolah dapat menyediakan akses internet bagi siswa ataupun guru . Untuk itu diperlukan minimal sebuah komputer di perpustakaan. Dengan akses internet, siswa maupun guru akan dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkan. Apabila siswa tidak dapat menggunakan sendiri, mereka dapat dibantu oleh petugas perpustakaan secara bergiliran.
Tempat untuk membaca bagi siswa tidak terlalu penting dalam hal ini. Bila tak ada bangku – bangku, siswa cukup disediakan sebuah karper atau tikar untuk duduk dan membaca. Namun bila dimungkinkan tentu akan lebih baik apabila menyediakan tempat duduk yang nyaman bagi siswa untuk membaca.
Ruang perpustakaan maupun sarana prasarana tidak terlepas dari dukungan dana dari sekolah. Dana tersebut bisa bersumber dari BOS, bantuan pemerintah ( dengan mengajukan proposal bila perlu ) atau dari sumbangan yang tidak mengikat terhadap orang tua siswa. Dalam hal ini sekolah agar pintar – pintar membuat program sehingga mendapatkan dukungan finansial dari luar sekolah sehingga dapat mewujudkan perpustakaan yang ideal.
3.2 Pengelolaan Perpustakaan Sekolah
Ruang perpustakaan yang bagus, sarana dan prasarana yang memadai bahkan apabila sekolah dapat menyediakan alat – alat komunikasi modern, tidak menjamin perpustakaan sudah menjadi ‘jantung sekolah’. Artinya perpustakaan tersebut belum tentu dapat ‘menarik ‘ siswa agar merasa rindu datang ke perpustakaan dan sangat membutuhkan perpustakaan sebagai penunjang kemajuan belajarnya. Atau menjadikan perpustakaan sebagai pilihan pertama saat istirahat dan bukannya mengobrol di teras kelas atau ke kantin sekolah.
Yang paling esensial dari usaha pengembangan sekolah sebagai “jantung sekolah’ adalah pengelolaan perpustakaan. Pengelolaan perpustakaan tak bisa dilepaskan dari seorang petugas perpustakaan. Petugas perpustakaan hendaknya bukan guru sebab guru mempunyai tugas mengajar sebagai tugas utama. Jadi kemungkinan besar tidak dapat melayani siswa secara maksimal.
Seorang petugas perpustakaan minimal mempunyai kemampuan membaca dan mencatat . Akan lebih baik bila seorang petugas perpustakaan mempunyai keterampilan dalam menggunakan komputer karena tuganya adalah membantu siswa atau guru yang memerlukan informasi baik dari buku ataupun dari internet.
Pada masa sulit seperti sekarang ini , tidak terlalu sulit mencari seseorang sebagai petugas perpustakaan. Bila kesulitan hanya dengan satu orang petugas perpustakaan sekolah bisa mengajukan hal tersebut kepada orang tua siswa untuk menjadi relawan di perpustakaan secara bergiliran.
Yang utama seorang petugas perpustakaan harus mempunyai kecintaan pada buku, sehingga ia mempunyai komitmen terhadap tugasnya. Seorang petugas perpustakaan harus mempunyai kreatifitas untuk memajukan perpustakaan yang dikelolanya. Beberapa cara yang dapat dilakukan seorang petugas perpustakaan untuk mengembangkan perpustakaan adalah
- Bersikap ramah terhadap setiap pembaca ( baik siswa atau guru ) yang berkunjung ke perpustakaan.
- Mau melayani kepentingan pembaca baik dalam memberi petunjuk tentang letak buku yang diinginkan maupun dalam mencari informasi di internet
- Selalu mempromosikan perpustakaan . Misalnya bila ada buku yang baru , petugas perpustakaan segera mempromosikan dengan menempelkan pengumuman di depan perpustakaan.
- Dengan koordinasi bersama kepala sekolah dan guru, mengadakan lomba – lomba setiap minggu atau setiap bulan . Lomba dimaksud misalnya lomba gambar bagi semua siswa, lomba mendongeng, lomba pidato, dll
- Memberikan penghargaan kepada siswa yang paling aktif mengunjungi perpustakaan setiap tahun dengan melihat daftar peminjam buku.
- Dengan koordinasi bersama kepala sekolah dan guru , mengadakan kegiatan variatif selain membaca di perpustakaan sekolah, misalnya membacakan dongeng setiap hari sabtu bahkan pemutaran VCD pengetahuan atau cerita anak bila tersedia fasilitas VCD player dan televisi.
- Tidak ada salahnya membuka perpustakaan lebih lambat satu atau dua jam atau lima belas menit sebelum istirahat pertama dan tutup lebih lambat satu atau dua jam juga untuk memberikan kesempatan bagi siswa mencari informasi di perpustakaan di luar jam sekolah dengan lebih leluasa tanpa memikirkan jam pelajaran sudah dimulai.
Selain upaya yang dapat dilakukan oleh seorang petugas perpustakaan , guru juga mempunyai peran penting dalam pengembangan perpustakaan sebagai jantung sekolah. Usaha yang dapat dilakukan seorang guru diantaranya :
- Memberi contoh kepada siswa untuk berkunjung dan membaca di perpustakaan bila ada waktu luang
- Memberikan tugas – tugas kepada siswa yang jawabannya hanya bisa dicari di perpustakaan. Misalnya dalam pelajaran bahasa Indonesia mencari sebuah dongeng dan membuat ringkasannya (sinopsis). Dalam pelajaran PKN, siswa ditugaskan mencatat beberapa masalah dalam pemilu sehingga siswa harus pergi ke perpustakaan dan membaca koran harian, dll.
- Mewajibkan siswa agar datang ke perpustakaan pada hari tertentu. Misalnya kelas VI hari Senin, Kelas V hari Selasa dst.
- Membuat ekstrakurikuler majalah dinding ( Mading ). Dengan adanya mading siswa akan aktif dalam menciptakan karya agar dapat dimuat di majalah dinding sehingga mereka mempunyai kebanggaan tersendiri. Mading dikelola oleh siswa di kelas VI atau V dan dibina oleh seorang guru.
Seorang kepala sekolah juga berperan dalam usaha mengembangkan perpustakaan sekolah sebagai ‘jantung sekolah’ diantaranya :
- Mengadakan kordinasi dengan orang tua siswa / komite sekolah dan tokoh masyarakat untuk mendapatkan dana diluar dana BOS, pengadaan buku , mempekerjakan seorang petugas perpustakaan atau seorang relawan dan melakukan pemantauan terhadap pengelolaan perpustakaan sekolah .
- Mendorong usaha dari guru , petugas perpustakaan atau siswa yang bersifat memajukan perpustakaan sekolah baik dengan dukungan moral maupun material.
- Membuat perencanaan dalam RAPBS untuk dana pengembangan perpustakaan setiap tahun.
