Bumi Itu Indah, Karena Ningrum Yang Setia di Pelupuk Ola

Baru bekerja 3 hari, ia langsung diberi kesempatan pelatihan tenaga ahli tingkat nasional yang terjadi di Kupang.Kegiatan itu diselenggarakan oleh Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI). Peserta rata rata adalah magister magister teknik. Ster sendiri yang Sarjana. Diakhir kegiatan dilakukan post tes dan ia berhasil meraih juara I dengan nilai hasil tes tertinggi. Pa Ming, sapaan, Melkianus sangat senang mendengar kabar itu, dan Stef diberikan hadiah sebuah Motor baru Jupiter X. Sejak itu untuk pertama kalinya ia mengendarai sepeda motor. Sebuah kisah perjuangan yang luar biasa.

Lokasi kerja mereka saat itu lebih banyak di Pulau Sumba. Membangun jalan (hotmiks), membangun bandara, pelabuhan laut adalah pekerjaan sehari hari yang dilakukan oleh Stef bersama dengan teman temannya. Kepercayaan yang ia emban adalah, Kepala Proyek (General Superintenden). Ia dikenal sebagai pekerja keras yang jujur, dan bertangungjawab. Dalam hal penggunaan uang, setiap kali pembelajaaan, satu senpun ia kembalikan. Karakter ini yang membuat Stef Ola dikenal sebagai anak kesayangan dari Pa Melkianus Pimpinan Bumi Indah.

Setiap idenya pasti dipertimbangkan dan diterima untuk dijalankan. Ia juga selalu mendapat kepercayaan untuk melakukan survei survei di daerah daerah baru yang akan dibangun kerja sama untuk pembangunan jalan, bandara atau pelabuhan laut di daerah. Tahun 2010, ia menyampaikan idenya berkaitan dengan sudah saatnya, PT. Bumi Indah ekspansif mengembangkan sayap pelayanan ke wilayah lain di NTT. Ide ini kemudian diterima, dan di tahun 2010, PT. Bumi Indah memenangkan tender pembangunan Pelabuhan Feri Adonara, diantara Desa Tuwagoetobi Kecamatan Witihama dan Desa Duabelolong, Deri Kecamatan Ile Boleng. Memenangkan tender untuk pembangunan di Pulau Adonara, bagi Stef adalah berkat, karena selama ini ia hanya mengabdi di tempat lain. “Mendapat proyek di Adonara, bagi saya adalah berkat. Bahwa selama ini saya hanya mengabdi di tanah orang, kali ini saya sunguh sunguh membangun untuk lewotana, kata Stef

Memang ada tantangan saat pertama ke Adonara dan akan memulai pengerjaan Pelabuhan Feri Adonara, namun atas ketulusan niat dalam membangun, jalan terbuka diperoleh dan pelabuhan feri dibangun tepat pada waktunya,dengan kualitas bangunan yang luar biasa. Untuk kualitas bangunan, Frans Lebu Raya, Gubernur NTT, juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih. Saat menyelesaikan pembangunan di Adonara, bersamaan juga pengembangan Bandara Frans Seda Maumere dan Pelabuhan Wuring.

Setelah Pembangunan Pelabuhan Feri Adonara, rahmat terus berdatangan. Ruas ruas jalan kabupaten, jalan propinsi strategis nasional yang dulunya rusak parah mualai dibangun dengan kualitas tinggi. Kemudahan pembangunan ini, berkat tersediannya semua fasilitas dan bahan bahan bangunan yang langsung ada di Pulau Adonara. Ruas ruas jalan yang dibangun saat ini, selain sekian titik lain yang juga sedang mengalami perbaikan diantaranya, jalan kabupaten (Baowutung Ile Boleng, Nihaone, Boleng, Meko, Bani, Simpang Karing ke Tapobali), Jalan Propinsi (Wailebe, Banione, Waiwerang) dan Jalan Strategis Nasional (Wailebe, Koli, Mangaale Waiwadan,Lagaloe) dan lain – lain di Pulau Solor dan Flores daratan. Rencana akan dihotmiks juga jalur jalan dari Waiwadan menuju ke Bukit Seburi.

Stef Ola, dalam pengakuannya senang dengan apresiasi yang selalu ia dapatkan dari masyarakat, kapan dan di manapun saat bertemu. Banyak warga juga tidak mengira, yang namanya Stef Ola orangnya seperti itu. “Saya dibanyak tempat ditegur, disapah dengan sangat akrab dan santun. Beberapa kali di acara penguburan orang mati, saya mendengar langsung nama saya diperbincangkan walau mereka belum mengenal saya. Mendengar ungkapan ungkapan polos dari mereka saya sangat senang dan puas. Bagi saya, itu adalah doa. Pernah saya mendengar ungkapan seperti ini “Ternyata hotmiks kami baru tahu ini” pernyataan ini lahir disaat mereka membandingkan pengerjaan hotmiks jalan yang dikerjakan sebelumnya dan yang kami Bumi Indah kerjakan, kata Stef.

Selain apresiasi, kritikan juga menjadi bagian dari konsekwensi kerja. Tidak sedikit, warga yang awam tentang pembangunan yang dilaksanakan kemudian membuat pernyataan pernyataan yang terkesan subyektif dan kabur. Misalnya soal lebarnya jalan, ketebalan hotmiks,sumber anggaran dan volume kerja serta banyak hal lainnya. Stef melakukan beberapa penjelasan diantaranya, Jika sumber dana APBN maka full desain dengan sistem 272. Artinya, aspal jalan 7 meter dan bahu jalan kiri 2 meter dan kanan 2 meter. Jika Sumber dananya adalah APBD I maka dibangun dengan sistem 1 4 1/2 1 atau aspal jalan 4 1/2 meter dan bahu jalan kiri 1 meter kanan 1 meter. Sedangkan kalau sumber dana APBD 11 maka menggunakan sistem 1 3 1/2 1. Jika menggunakan APBN 4-5 Miliar untuk mengerjakan hotmiks jalan sepanjang 1 km, sementara APBD 1 dan II, untuk pengerjaan jalan sejauh 1km membutuhkan biaya berkisar antara 2 -3 1/2 miliar.

Ada satu prinsip yang selalu dipegang oleh Stef Ola dalam bekerja adalah, melakukan setiap pekerjaan dengan jujur. “Kita kerja lancar, habis tepat pada waktunya kalau kita kerja sesuai dengan Spek yang telah ditetapkan. Jangan berusaha untuk menekan biaya untuk kepentingan pribadi atau kelompok kelompok tertentu, itu hanya mempersulit diri sendiri. Yang kita kerjakan ini adalah fasilitas publik, untuk kepentingan publik. Kepentingan ribu ratu, maka mesti dikerjakan dengan sungguh sungguh, jujur dan bertangungjawab, “tegas Stef.

Pengabdiannya yang luar biasa untuk Lewotana patut diacungkan jempol. Karya besarnya di luar daerah, berani ia dorong untuk pembangunan di Adonara, pembangunan di Flores Timur.

Kerja kerasnya, kini Stef Ola diangkat menjadi General Manager. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik di Universitas Atmajaya 2015 dan mendapat gelar Magister Teknik di tahun 2017. Di tengah kemajuan kerja bersama Bumi Indah, ia tetap setia menjadi dosen. Alasannya sederhana, sumber ilmu itu ada di lingkungan akademik yakni di universitas, karena itu, ia tetap memilih menjadi dosen.Selain itu, di ruang kuliah ia diperkaya dengan ide dan ilmu dari mahasiswanya sendiri. “Tetap menjadi dosen, mau memberi pesan bahwa pekerjaan dosen itu mulia, dan tamatan di Universitas lokal (Unika) bisa bersaing ke kanca nasional. Pembangunan pelabuhan feri di Adonara sampai selesai murni mengandalkan insiyur insiyur dari NTT. Kita juga bisa berkompetisi,”kata Stef.

TERKAIT : PETANI LEWERANG BERWAJAH EMAS

Dibalik kesuksesannya, ia didukung oleh istrinya, Theresia Setya Ningrum (32) dan 3 (tiga) anaknya, Isidorus Witak (9), Stefani Witin (5) dan Gemaraina Witak (1).

Kisah perjuangan hidup, dan pengalaman kerja dari Stefanus Ola Demon,seorang anak kampung dari Pulau Adonara ini bisa diteladani, menjadi motivasi dan inspirasi untuk generasi muda Flores Timur pada khusunya dan NTT pada umumnya.***

 

[avatar user=”Maksimus” link=”file” target=”_blank”]MAKSIMUS MASAN KIAN[/avatar]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *