Bumi Itu Indah, Karena Ningrum Yang Setia di Pelupuk Ola

Masa Setelah SMA

Setelah tamat SMA, Stef Ola sudah punya niat untuk kuliah, namun terkendala biaya. Orang tuannya pada saat itu, belum menyanggupi keinginannya, karena beban biaya tidak untuk dia sendiri. Ia kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak orang tuannya ke Malaysia, tepatnya di tahun 1994.

Di Malaysia, Stef Ola bekerja di Supermarket selama enam (6) bulan. Namun di tempat ini, tidak membuat ia betah karena gaji yang diterima tidaklah seberapa. Oleh keluarga dan rekan rekannya, menganjurkan untuk bekerja di bagian perhitungan dan penomoran kayu balak, yang lokasi kerjanya di hutan. Sesekali baru mereka turun ke kota. Itupun sekedar membeli makanan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari -hari. Stef kemudian bekerja di tempat itu. Dengan sedikit uang yang terkumpul, ditambah pemberian dari orang tua, tahun 1995 ia memilih pulang untuk kuliah. Di tahun itu, Stef menjadi salah satu peserta dari ribuan peserta yang lolos seleksi tes masuk Perguruan Tinggi melalui seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Pilihan jurusanya adalah pertanian, dan lulus di Universitas Patimura Ambon. Kabar baik ini, mendadak dengan pertimbangan pribadi ia batalkan. Menurut Stef, Ambon itu juga di wilayah timur sama dengan NTT, sehingga ia tidak mau kuliah di sana.

Pada kondisi itu, terlintas pikiran akan pekerjaan kontraktor, dimana Stef sendiri mempunyai kenangan tentang pekerjaan ini. Pada suatu waktu di saat masih kecil, ia sempat bertanya tentang hal ini. Pertanyaannya demikian, mereka yang kerja di bagian kontraktor itu gelarnya apa,…? Ia mendapat jawaban bahwa yang kerja di bagian kontraktor gelarnya insinyur. Kenangan itu masih ia ingat. Tentang insiyur adalah sebuah gelar yang oada saat itu, sangat disebut di kalangan masyarakat sebagai orang yang hebat di bidang pembangunan, termasuk mencontoh pada figur Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, Stef akhirnya memilih kuliah pada Fakuktas Teknik, di Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang.

Tidak dihantar oleh siapa siapa, ia datang sendiri dan mendaftar di Unika. Di tahun itu, ia sudah memikirkan untuk memiliki aset sendiri. Dengan uang hasil tabungan gaji yang didapat saat bekerja di Malaysia, selain untuk biaya pendaftaran dan biaya lain lain di awal kuliah, Stef Ola menyisihkan sedikitnya uangnya untuk membeli tanah dan langsung membangun sebuah rumah darurat ukuran 4×6 di Kelurahan Oebufu. Memilih di Oebufu karena dengan hitungan rute kendaraan umum satu jalur menuju ke kampus Unika. Rumah yang ditempati ini, kemudian menjadi tempat tinggal bagi banyak mahasiswa dari Adonara yang kesulitan mendapatkan tempat tinggal.

Di kampus, ia berproses dengan baik. Rajin belajar dan aktif di kegiatan ekstra kampus. Hasil dari proses yang baik di kampus, tahun 1998, ia dipercayakan menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Teknik Sipil, dimana pada tahun yang sama, ia memimpin beberapa delegasi HMJ Teknik Sipil untuk mengikuti Kegiatan Forum Komunikasi Mahasiswa Teknik Sipil di Palu. Sekembalinya dari Palu, Ia terpilih menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Teknik.

Sejak menjadi mahasiswa, Stef Ola sudah dipercayakan menjadi asisten dosen. Dengan pengalaman ini, saat beliau menamatkan pendidikan sarjana( S1) di Unika Kupang, ia langsung diangkat menjadi dosen dengan sebutan dosen kontrak. Dosen Kontrak berlaku selama 5 tahun. Di Tahun 2006, ia diangkat menjadi dosen tetap. Sementara menjalankan tugas sebagai dosen, sejak 2005, ia sudah berpengalaman bergulat dalam dunia proyek dan beliau dikenal sangat jago pada bidang hitungan. Dengan kehebatannya ini di Kupang saat itu, ia sangat dikenal, termasuk orang orang di PT. Waskita Karya.

Suatu waktu, ada komunikasi antara Pimpinan PT. Bumi Indah dan PT. Waskita Karya. PT. Bumi Indah, Pimpinan Melkianus Lubalu yang saat itu tinggal di Waetabula Pulau Sumba, sedang mencari seorang tenaga yang dapat membantu mengurus perusahannya. Waskita Karya, mendorong nama Stefanus Ola Demon untuk bisa berkomunikasi dengan Melkianus, Pimpinan Bumi Indah. Yang masih diingat Stef Ola adalah Ia ditelpon Pa Melkianus untuk bertemu di Rumah Makan Nelayan.

“Saya waktu itu, sangat gugup ditelepon oleh seorang Pimpinan Bumi Indah. Terlebih lagi diminta untuk langsung ketemu di Rumah Makan Nelayan yang mana, selama ada di Kupang, saya belum pernah satu kalipun masuk di tempat itu. Dengan menumpangi angkutan kota saya beranjak menuju ke Rumah Makan Nelayan. Seingat saya, sendal yang saya gunakan waktu itu adalah sendal jepit biasa merek swalo. Saat tiba, saya melihat beberapa orang dengan setelan pakian cukup elit dan berwibawa. Dengan langkah malu malu sambil memperhatikan pakian yang saya kenakan waktu itu, akhirnya sampai juga dihadapan mereka. Mereka yang berada di hadapan saya saat itu adalah orang orang asing, karena sebelumnya saya tidak pernah ketemu. Mendengar nama juga tidak. Baru saja saya duduk, tanpa basa basih, Pimpinan Bumi Indah langsung mendaratkan pertanyaan yang bunyinya demikian “Kira kira bisa bantu saya, atur saya punya perusahan?” Saya kemudian menceritakan kepada Bapa Melkianus bahwa saya adalah seorang dosen. Sehingga harus punya waktu tetap mengajar di kampus. Saya membuat penawaran, jika Bapa Melkianus mau, saya akan membagi waktu dua minggu saya mengajar dan dua minggu saya bantu Bapa Melkianus. Mendengar jawaban itu, Ia melanjutkan pertanyaan, kamu mau saya gaji berapa…? Untuk pertayaan ini, saya jawab saya tidak butuh digaji. Hargai saya sepadan dengan apa yang saya kerjakan. Terjadi kesepakatan hari itu, dan saya siap bantu sama sama mengurus PT. Bumi Indah yang kala itu berlokasi di Sumba. 2 minggu saya mengajar, dan dua minggu saya bekerja di Bumi Indah, tutur Steph Ola.

TERKAIT : SEKOLAH YANG DIDIRIKAN SEJAK 1997 ITU, AKHIRNYA DIRESMIKAN

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *