suluhnusa.com_“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
(Bung Karno; Presiden Indonesia pertama)
Deklarasi kemerdekaan dan mengakui atas perjuangan mulia para pahlawan bangsa yang menetapkan pondasi perjuangan dan kemerdekaan, sebuah kewajiban. Sebagai generasi bangsa, wajib menghormati dan mengenang jasa-jasa itu karena itu bagian dari spirit kita untuk berpikir dan berbuat banyak untuk bangsa ini, sebagaimana yang disampaikan oleh Bung Karno
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” (Pidato Hari Pahlawan 10 November 1961).

Deklarasi kemerdekaan ini juga dilakukan oleh anak muda Desa Sandosi, Kecamatan Witihama, di pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Sandosi, adalah sebuah desa di Adonara.
Kemederkaan dalam cita-cita ini sudah menjadi kenyataan dalam bangsa ini. Dan anak jalanan Desa Sandosi pun memiliki cita cita. Sederhana saja bahwa walau mereka anak jalanan tetai mereka ingin melakukan sesuatu untuk kampung halamannya.
Hal ini disampaikan oleh ketua Komunitas Anak Jalanan Desa Sandosi, G’Rock kepada suluhnusa.com, 25 Agustus 2015. Rock mengungkapkan, baginya kemerdekaan yang sesungguhnya merdeka dalam menciptakan ide dan gagasan untuk membangun apa yang kita miliki. Membangun diri. Membangun desa. Dengan demikian maka kita turut serta dalam membangun bangsa ini.
Anak jalanan Desa Sandosi berbeda dengan anak jalanan pada umumnya. Mereka berpenampilan gaya Rock and Roll, tetapi sesungguhnya mereka ingin melakukan hal hal yang berguna bagi dirinya dan kampung halamannya.
Berangkat dari kesadaran dan dan berbekal potensi yang mereka miliki, anak Jalanan Desa Sandosi, memiliki impian untuk mengikuti jejak Musisi Katolik Sandosi, Thomas Kwaelaga yang menciptakan Lagu Ina Maria, dan menjadi lagu rohani berbahasa Lamaholot. Lagu ini diciptakan oleh Thomas Kwaelaga dan menjadi lagu wajib dalam misa gereja katolik dan doa devosi Bunda maria oleh umat katolik di mana saja berada. Karena lagu ini menarik dan syadu, karya Thomas Kwaelaga, musisi Sandosi ini, diterjemahkan dalam beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia, tetapi tetap dengan judul Ina Maria (Bunda Maria).

Nah, cita cita anak jalanan Sandosi pun demikian. mereka suka music apalagi darah yang mengalir adalah darah Sandosi yang suka bermusik. Mereka memang berpenampilan metal rock’in tetapi sesungguhnya karakte mereka adalah santun pergaulan.
Di hari kemerdekaan 17 Agustus 2015 lalu, anak jalanan Sandosi, merayakan dengan santai dipantai dan mengibarkan merah putih usia bekarang. G’Rock menceritakan, 70 tahun Indonesia merdeka adala hari yang sangat bagi bangsa Indonesia.
Semangat kemerdekaan ini juga dirasakan oleh anak jalanan Sandosi, sekitar 20 remaja sandosi atau sering disebut sebut “anak jalanan sandosi” merayakan kmerdekan indo ke 70 di Bani, sebuah pantai di bagian Timur Sandosi.
Rombongan remaja yang diketuai oleh G’Rock ini berngkat menuju Bani pda 16 Agustus skitar pkl. 03.00 WITA. Malam hari mereka akan melaut dan menyuluh untuk persiapan makan bersama.
Setelah pulang menyuluh pkl 10.00 merekapun makan bersama di pantai itu dengan penuh rasa persaudaran. Sampai fajar 17 Aagustus terbit mereka melakukan apel sederhana sembari mengibrkan Merah Putih di atas Nuha Peket Manuk.
Pantai Bani terletak di pantai utara pulau Adonara, tepatnya di kecamatan Witihama, sebelah timur desa Sandosi.
Untuk menujuh ke pantai Bani dari Waiwerang ibu kota kecamatan Adonara Timur harus melalui Witihama di kecamatan Witihama yang terletak di bagian Timur Adonara yang berbatasan dengan kabupaten lembata.
Setelah dari witihama kita melalui desa Lewokemia – Sandosi dimana kondisi jalannya mendaki. Setelah Sandosi kita mendaki terus ke arah Woka, dan terus ke Regong. Kita akan melewati tiga bukit berjejer. Bukit pertama di sandosi, bukit kedua di Woka dan di bukit ketiga di Regong. Perjalanan dari witihama-sandosi-woka-regong lumayan bagus.
Sembari menikmati keindahan yang masih asri. Betapa tidak, ketika menempuh perjalanan sampai di Regong, sebuah kampung diatas bukit yang pemandangannya sangat indah dan menakjubkan.
Diarah timur tenggara terpampang pulau Lembata dengan kota Lewolebanya yang begitu dekat dari Regong. Ditambah di sebelah selatannya berdiri kokoh Ile Boleng seakan raksasa yang menjulang tinggi, sementara kita berada di bawah lembahnya yang aman bersandar pada kokohnya lengan perkasanya. Sementara di bagian utara atau dibagian bawahnya nampak lautan luas membentang, seakan kita berada dalam sebuah kapal dalam pelayaran.
“Sungguh elok desa kami,” cetus G’Rock bangga.
Jalan menuju Bani begitu terjal dan berkelok-kelok. Pantai Bani indah dan asri. Di hadapan pantai berdiri kokoh dua buah pulau (nuha) yang amat dekat.
Ketika air laut surut maka kita bisa dengan berjalan kaki dapat menjangkau pulau tersebut. Di sepanjang bibir pantai berjejer tanaman bakau yang rimbun menambah indah pemandangan. Ke arah barat ada sebua tanjung yang menjulur indah ke laut dangkal, sementara di baliknya terletak Sagu sebagai kota tua di Pulau Adonara.
Ke timurnya, dibalik tanjungnya, terdapat Meko dengan Nuha dan pulau pasir putihnya yang selalu mempesona siapa saja yang pernah berkunjung.
*Tulisan ini ditulis kembali oleh Sandro wangak, dari Testimoni G’Rock, dari Keluarga Anak jalanan Desa Sandosi.
