Sandosi, Duka di Tanah Keramat – Bagian 1

suluhnusa.com – Kamis pagi, 5 Maret 2020, matahari muncul dengan gagah di balik puncak Ile Ape. Bias kuning keemasan pendar membias disepanjang pantai Waiwuring, Nuha Meko, Lewo Honihama Riangduli menysuri lembah Regong-Tobitika. Menyembul diselah bukit bukit Sandosi dan Nela Uhun, Pantai Bani, Nuha Gambus dan dataran rendah Wule Wata.

Pemandangan indah ini menjadi santapan saban pagi warga Sandosi, Tobitika dan Baobage. Tak berselang lama. Mendung merenggut emas mentari lalu berubah menjadi gelap. Awan hitam bergelayut di langit Sandosi.

Hujan turun. Tak ada angin. Hujan jatuh dari langit. Tenang tenang lebat. Tak ada daun yang jatuh karena hempasan angin. Hujan pun tak lama.

“Hujan turun hanya sekitar 30 menit dari sekitar  berjam Lalu9.00 wita. Dan tiba tiba sekira mendekati PKL. 10.00 WITA. Hujan turun tenang sekali. Tidak ada angin sama sekali”, ungkap Bonevasius Wadan Penana, Kepala Dusun I, Desa Sandosi.

Seolah pertanda duka. Duka bersaudara Lamatokan-Kwaelaga. Anehnya, hujan yang guyub guyur basah kuyup pagi itu hanya mengitari Sandosi, Tobitika dan Desa Baobage. Tak gerimis atau tetesan hujan menyentuh bukit, lembah dataran rendah Wule Wata, Pantai Bani, Nuha Gambus dan Nuha Bele. Panas terik.

Di kantor desa Sandosi, sedang berlangsung rapat Forum Kepala Desa Se Kecamatan Witihama. Enam belas kepala desa hadir di sana.

Ternyata hujan di kampung dan terik di Wule Wata lantaran ada perselisihan bersaudara Lamatokan – Kwaelaga.

Hujan tenang tenang lebat tanda air mata karena ada enam orang pria tergeletak darah saudara di Wule Wata.

Sontak forum kepala desa se Witihama pecah konsentrasi karena ada informasi duka kemanusiaan datang dari seorang warga lolos dari kejadian itu. Bersaudara selisih bertikai demi sejengkal tanah. Itulah Adonara.

Kepala Desa Sandosi, Beatus Beda Nama, sigap mengambil tindakan. Melakukan koordinasi dengan pihak kemanan Koramil Waiwerang dan Polsek Adonara di Sagu. Sebab, tanah garapan sudah merenggut nyawa dalam perselisihan itu.

Pun Belen Lewo (Tua Adat Kampung Sandosi), Yohanes Beda Sara langsung mengeluarkan titah.

Dalam bahasa daerah yang diterjemahkan, Beda Sara mengatakan, masalah ini hanya melibatkan dua suku. Kita suku yang lain, jangan ikut campur, duduk tenang tenang.

Masalah ni ata papa rua raena. Tite ikene Tobo taan penaha. Tobo kedepa. Ake Maan Lewo data, Ake Maan tanah laga” ungkap Beda Sara , Ketua Lembaga Adat Sandosi yang juga pemilik Kampung atau Belen Lewo.

Duli Lali Wule Wata, Ake Maan Lewo Data

Duli Lali Wule Wata, Ake Maan Lewo Data. Jika ingin perselisihan tempatnya di Wule Wata, Bukan di Kampung Sandosi. Karena di dalam kampung Sandosi bukan tempat untuk perselisihan dan bertikai.

Kalimat ini disampaikan oleh Yohanes Beda Sara, Belen Lewo Sandosi lantaran dirinya bersama semua orang yang berkepentingan, pemerintah Desa Sandosi, Pihak Kecamatan Witihama, Dinas Perumahan dan pemukiman Kabupaten Flores Timur, Polsek Adonara dan Koramil Waiwerang sudah melakukan segala daya dan upaya untuk mendamaikan kedua bersaudara yang bersengketa tanah garapan ini.

Kenapa tidak boleh berselisih dalam kampung Sandosi. Sebab, Sandosi Kampung Keramat, Lewo Gerara. Beberapa larangan yang tidak boleh dilakukan baik oleh pengunjung/tamu dan Orang Sandosi sendiri akan disajikan dalam tulisan berikut.

Wule Wata, tanah garapan dua bersaudara yang bersengketa adalah milik Raja Sagu. Menurut sejarah, Wule Wata dulu adalah sebuah pasar dalam kampung. Wule yang berarti pasar. Wata yang berarti jagung. Orang Lewotolok, Witihama, Lamahala datang ke Wule Wata. Hasil laut berupa ikan dan lainnya yang dibarter dengan hasil bumi berupa jagung (wata).

Benar. Daerah Wule Wata terletak dipinggir pantai dekat Nuha Gambus, Nuha Bele, pantai Bani.

Penduduk yang dulu tinggal di Wule Wata adalah orang Lewotolok, Orang Kedang, orang  Suku Bajo dan orang Adonara.

Di dekat Wule Wata ke arah Nuha Gambus ada Gua Yesin, sebuah gua yang seturut cerita ditemukan oleh Pater Yesin, misionaris Jerman yang bertugas paling lama di Paroki Witihama.

“Dan dahulu kala, Wule Wata ditinggalkan kosong karena pembunuhan. Ada kubur keramat orang bajo di sana. Dan kebun di Wulu Wata itu milik Raja Sagu yang diberikan kepada kedua bersaudara ini hanya untuk menggarap”, ungkap Beda Sara , kepada suluhnusa.com, di rumah adat Lewo Sandosi.

Beda Sara menyarankan agar kebun garapan itu dikembalikan kepada Raja Sagu. Bahkan lebih jauh, dia mengungkapkan kebun garapan yang saat ini bermasalah diambil oleh pemerintah sebagai aset negara.

Belu Witi Wuli dan Renu Nuba Wai, Sebagai Solusi ?

Solusi yang disampaikan oleh Beda Sara adalah solusi bijak, menurutnya sangat bijak. Sebab, Wule Wata bukan milik turun temurun oleh kedua bersaudara.

Solusi ini belum pernah disarankan karena belum ada pengakuan dari kedua bersaudara. Tetapi menurut Beda Sara, solusi ini bijak karena kedua bersaudara sudah ada yang korban.

Solusi lain yang disampaikan oleh Beda Sara adalah pemerintah mengambil alih Wule Wata sebagai aset negara.

Berbagai upaya dan solusi sudah pernah ditawarkan oleh berbagai pihak sejak tahun 1990an.

Masa periode Kepala Desa,  Yonas Kai Rawa tahun 1990an sudah berupaya untuk mendamaikan. Tidak berhasil.

Mantan kepala desa Urbanus Arakian pun dengan segala daya dan upaya mempertemukan kedua bersaudara.

Dan dalam masa kepemimpinan Kepala Desa Beatus Beda Nama, setiap tahun ada upaya mempertemukan kedua bela pihak dengan melibatkan berbagai pihak.

Upaya penyelesaian ini dibenarkan oleh Kepala Desa Sandosi, Beatus Beda Nama dan Danramil Waiwerang, Ignasius Sogen.

Terakhir di tahun 2019 atau 2018, dipertemukan kedua belah pihak. Tawaran solusi saat itu adalah Belu witi wulin atau Renu Nuba wai.

Belu Witi Wuli, potong leher kambing, pihak mana yang sekali potong leher kambing langsung putus maka kebenaran ada dipihaknya. Dan yang tidak putus mesti iklas. Kedua belah pihak harus iklas. Solusi ini sudah pernah ditawarkan tetapi ditolak.

Begitupula Renu nuba wai. Kedua belah pihak harus dengan hari bersih, jujur dan iklas untuk minum air hasil cucian batu leluhur di rumah adat kampung Sandosi. Solusi Ritual ini belum pernah ditawarkan.

Renu Nuba Wai dalam sejarah penyelesaian masalah di Desa Sandosi sudah pernah dilaksanakan dalam penyelesaian masalah lain,” ungkap Beda Sara.

Di akhir masa jabatan Beatus Beda nama sudah diupayakan sejak periode pertama Terakhir upaya tahun 2019.

Kasus pertama sejak Sandosi Terbentuk Sebagai Desa Definitif.

Seteru dua suku bersaudara, yang menewaskan enam orang dan satu luka luka ini menjadi yang pertama di Sandosi sejak terbentuk menjadi desa definitif tahun 1968. Sandosi sebagai desa sudah berumur 50 tahun 2018 ditambah dua tahun menjadi 52 tahun.

“Ya ini kasus pertama sejak desa ini berdiri definitif, lima puluh dua tahun lalu, 1968. Sepanjang sejarah, kasus pembunuhan di Sandosi baru dua kali. Pertama kali saat Sandosi masih kampung. Dan semua kita harus menahan diri. Semua orang harus bisa menjadi orang sandosi yang sesungguhnya. Kita semua berharap kejadian ini menjadi yang pertama dan terakhir karena kita semua orang sandosi tau benar benar bahwa Sandosi kampung keramat”, ungkap Beatus Beda Nama.

Sengketa tanah garapan antara dua bersaudara memakan korban tujuh orang enam orang meninggal dan satu luka luka. Mereka yang meninggal adalah Moses Kopong Keda, Umur 80 tahun, Yakobus Masan Sanga, 70 tahun, Yosep Ola Tokan, 56 tahun, Seran Raden, 68 tahun, Yosep Helu,  70 tahun dan Wilem Iya Kwasa, Umur 80 tahun. Sementara korban luka Suban Kian, 69 tahun. 

Keenam korban yang tewas dievakuasi oleh TNI Polri dan diantar masuk ke rumah adat masing masing. Disemayamkan selama satu malam sejak 5 Maret 2020. Dan akan dikuburkan ditanah keramat, tanah Sandosi hari ini, 6 Maret 2020.

Lalu, Masih Keramatkah Sandosi itu ? Lalu adakah kisah dibalik evakuasi korban dari wulu wata ke rumah adat dua bersaudara itu ? dan Apakah dua bersaudara itu lahir dari satu rahim yang sama ?

“Lewo Tuwagoetobi, Tanah Lapan Bunuh Bao , Tobi Tanah Bolen, Bao Lango Aran, Woka Taga Witi, Ruha Beu Taran, Motin Tobi Puken, Maun Bao Langun” itulah Sandosi dalam sebutan Sastra mantra adat.

 

Sandro wangak-bersambung

#PRAYforSANDOSI

#PRAYforSANDOSI

Pai marin susah tit’en

Sudah banyak bukti di tanah kita bahwa, tak jarang amarah berakhir dengan darah.
Juga banyak kenyataan bahwa darah meninggalkan duka. Lalu luka itu dituturkan turun temurun hingga anak cucu.

Budaya tutur seperti kehilangan daya. Tak lagi menjadi keramat seperti sedia kala. Sebab Ayah bisa keliru menelaah ceritera kakek, atau kakek yang salah menuturkan kisah sebab ingatan tak baik oleh karena usia.

Budaya tutur tak lagi aman termakan zaman. Adat tradisi peninggalan leluhur luntur seiring berjalannya waktu. Kita lupa, kita acuh tak acuh, kita lalai bahwa adat melahirkan dan membesarkan kita. Maka koda sedianya tetap murni. Ia tak boleh dinodai dengan kepentingan apa pun.

Lalu mengapa harus parang dan tombak yang kita acungkan ? Kemudian darah yang mengalir kita anggap sebagai sebuah kebenaran yang bersumber dari koda ? Ohhh tidak.

Pernahkah kita berpikir tentang Ina yang harus membesarkan anak seorang diri sebab ia kehilangan suami dari anak-anaknya karena parang yang kita tebas, atau tikaman tombak dari tangan kita ?

Dibalik kekar tubuh seorang pria yang hendak kita bunuh, ada beberapa nyawa yang bergantung atas dirinya. Sama seperti kita. Lepaskan parang, tinggalkan tombak. Pai hama-hama tobo marin onet, marin susah titen ti pohe wekit taan kakan noon arin.

AmaBali


#SAVEADONARA

#SAVEADONARA

One comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *