Mete..Mete..Jambu Mete..!

suluhnusa.com_ Jambu Mete berton-ton tersangkut pada pick up milik para tengkulak.

“Mete..meteeee..”teriakan kondektur pick up menyeruak bebas di sepanjang lorong desa tatkala masyarakat diberkahi panen Jambu Mete. Hasil panen mente yang berlimpah sulit didistribusikan langsung ke ibukota lantaran dibuntuti biaya distribusi yang tinggi.

Mete berton-ton tersangkut pada pick up milik para tengkulak. Perbandingan harga sekilo biji mente yang mencapai Rp. 2.000 semakin mempertebal saku para tengkulak.

Andai saja infrastrukur jalan dari wilayah ini menuju ke ibukota sedikit terpoles mulus, tentu perekonomian wilayah ini akan bangkit dari keterbelakangan yang lelap.

Di Flores Timur, hanya di desa Ile Padung yang petani Jambu Metenya dibilang sukses. Sebabnya adalah Kacang mete dari Desa Ilepadung, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Larantuka sudah terkenal di mancanegara.

Karena produk kacang metenya sudah dieksport ke benua Eropa dan Amerika. Mengapa mereka tertarik dengan kacang mete dari pulau Flores ini? Ternyata kacang mete disini berasal dari kebun-kebuh jambu mete yang dibudidayakan secara organik.

Kebun jambu mete organik ini diusahakan oleh rakyat sendiri, dengan luas 187 hektar di desa Ilepadung saja, dan setiap tahunnya menghasilkan 130 ton biji mete. Pada tahun 2005, perkebunan jambu mete mendapatkan sertifikasi organik international dari IMO atau Institute for Marketecology.

Saat ini harga sekilo kacang mete organik lebih dari Rp 80.000,-, sedangkan untuk mete mentahan lebih dari Rp 10.000,- perkilo, dimana ini lebih tinggi dari harga mete non-organik.

Kehidupan warga Ilepadung bergantung pada perkebunan Jambu Mete ini. Harga jual Mete organik ini membuat kehidupan warga menjadi lebih baik. Di dusun ini warga sudah mulai tinggal di rumah yang bertembok. Alas lantai juga sudah memasang keramik maupun tembok semen biasa.

Naifnya, tidak demikian dengan beberapa desa di Tanjung Bunga yang juga penghasil Jambu Mete.

Inilah sekelumit kisah usang, yang terus mengulang setiap abad sejak nnek moyang dulu sampai sekarang. Seklemumit kisah sengsara masayakat di kampung kampung sekecamatan Tanjung Bunga bagian barat, Kabupaten Flores Timur.

Terik begitu sirik siang itu kala itu.Udara memanggang dan angin berhembus liar memboncengi debu.

Hembusan debu melayang ringan menjerat pandangan hingga siang ini seolah tak layak lagi. Perjalanan menyusuri ruas jalan wilayah Tanjung Bunga Barat dari Desa Ratulodong ke Turubean, Desa Lamatutu terasa begitu melelahkan. Sepanjang jalan, bebatuan beraneka ukuran berserakan demikian serakah merajai muka jalan.

Lubang-lubang beragam diameter menyelinap di antara bebatuan yang menancap tegas di badan jalan. Rombongan bebatuan seolah bersekutu menantang perjalanan kami. Roda sepeda motor kami meliuk dengan was-was menghindari lubang dan bebatuan.

Jarak tempuh 60 Km dari Ibukota Kabupaten Flores Timur,Larantuka menuju Kecamatan Tanjung Bunga pada wilayah Tanjung Bunga Barat terasa begitu lamban nan lelet. Wilayah Tanjung Bunga Barat pada Kecamatan Tanjung Bunga meliputi Desa Bandona, Bahinga, Waibao, Nusa Nipa hingga Lamatutu.

Sebuah representatif dari wilayah terpencil, terlewatkan bahkan mungkin terlupakan dengan kondisi jalan yang cukup parah. Disaat masyarakat Flores Timur di daerah lain dengan lancar berkunjung ke ibu kota Kabupaten, Larantuka, masyarakat pada wilayah ini harus berbesar hati untuk tidak senasib.

Aspal warisan belasan tahun kini tak ramah lagi.Transportasi umum hanya melayani jasa angkutan dengan rute sekali sehari.Masyarakat yang berkunjung ke ibukota Kabupaten harus keluar dari kampung lebih pagi, pada kisaran pkl 06.00.

Lama perjalanan hingga dua jam. Pada pukul. 13.00 angkutan umum sudah meninggalkan ibu kota. Tenggang waktu yang terkesan tergesa-gesa untuk sebuah urusan di ibu kota.

“Untuk membeli sepasang sepatu anak saja, saya harus merogoh kocek Rp. 50.000 untuk biaya transportasi,” cetus Bapa Jakobus Brinu, salah satu warga desa Waibao dengan ketus.

Hasil dari kebun saya seperti umbi-umbian dan sayur-sayuran cenderung dikonsumsi sendiri tanpa mendatangkan laba yang cukup. Sementara harga sayur-sayuran, umbi-umbian di ibu kota Kabupaten kian menanjak naik.

“Biaya transportasi yang tinggi semakin menyurutkan semangat saya untuk menjual hasil pertanian saya di kota Larantuka,” ucap Konradus salah satu anak muda yang memiliki lahan pertanian yang cukup luas.

Akses komunikasi yang masih gagap semakin menyeret daerah ini dari pantauan masyarakat luas dan sentuhan bilur-bilur pembangunan. Menara Telkomsel yang menjejakan kakinya di desa Waibao baru berulang tahun yang ke dua. Wilayah Tanjung Bunga Barat dengan topografi yang ekstrim mengakibatkan masyarakat di desa Nusa Nipa, Lamatutu belum sempat menikmati jasa Telkomsel.

Dana Bantuan Operasioal Sekolah (BOS) yang sudah digelontarkan pemerintah untuk menunjang operasional sekolah banyak tersedot untuk biaya transportasi bagi para operator sekolah yang harus hijrah ke kota kecamatan untuk mengentri data sekolah dengan sistem online.

“Kami selalu dipusingkan dengan data-data terkait profil desa yang harus dikerjakan dengan mengharapkan belas kasihan dari jaringan Telkomsel yang enggan menjamah desa kami,”ucap sekertaris desa Lamatutu, Frederich Hurit.

Keindahan alam seperti danau Waibelen atau yang lebih familiar dengan sebutan Danau Asmara tergenang tenang di desa Waibao tanpa ada usaha untuk bisa menarik minat wisatawan. Keindahan matahari terbenam di Pantai Nipa di desa Nusa Nipa hanya bisa dinikmati nelayan lokal dan nelayan liar dari seberang pulau.

Desa Lamatutu dengan sebuah tugu sejarah memperingati ganasnya Tsunami pada tahun 1992 silam seolah tenggelam dalam keterpencilannya.

Persediaan air bersih di wilayah ini sangat memprihatinkan. Wajah imut anak-anak sekolah sering sekedar diseka dengan air alakadarnya. Semangat pagi yang seharusnya diliputi kecerian seolah dirampok oleh minimnya persediaan air bersih.

Perilaku malas untuk ke sekolah karena keterbatasan persediaan air bersih terkadang kumat seiring tetesan air yang dari kran yang selalu kikir.

Penerangan pada malam hari juga sangat meresahkan warga masyarakat Tanjung Bunga Barat. Ketika senja merambah malam, suasana setiap rumah hanya diterangi lampu solarsel dengan biasan cahaya yang kurang memadai.

Program Perusahaan Listrik Negara (PLN) dari energi matahari ini pula tak tuntas sepanjang malam menemani adegan-adegan mimpi anak-anak. Anak-anak dengan mata yang masih sangat hijau mengerjakan setiap pekerjaan rumah dari Bapak/Ibu gurunya dengan penerangan yang enggan.

Ketika wilayah Tanjung Bunga Barat tetap menjauh dari panggang api pembangunan,maka tidak bisa dipungkuri Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Tanjung Barat terus terbelakang dari daerah lain di Kabupaten Flores Timur dan akan lahirlah generasi Tanjung Bunga Barat yang keropos di tengah berlimpah ruahnya sumber daya alam.

Benediktus Bereng Lanan
Wakil Ketua Seksi Dokumentasi dan Publikasi Agupena Flotim,
Nomor Handphone: 0823 0182 8022
Email:berenglanan@yahoo.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *