Belajar Disiplin dari Tukang Tambal Ban

suluhnusa.com Bagaimanakah cara mereka menyikapi semua himpitan masalah hidup mereka? Bagaimana pula mereka mampu membelah riuhnya kota, malam, dan juga belantara yang mungkin tak sanggup dikerjakan oleh kebanyakan orang yang terbiasa duduk di balik meja kantor? Mari belajar Bai Bernard, si Tukang Tambal Ban.

Sulitnya hidup tidak harus disesali, namun harus dihadapi dan terus diupayakan untuk maju. Banyak sudah orang yang mampu melewati semua cobaan. Meski harus tertatih-tatih, mereka masih tetap bisa tersenyum menatap hidup.

Untuk mendapatkan uang seribu dalam satu hari itu tidak gampang inilah sebuah ungkapan yang keluar dari seorang Bernad Bala yang biasa di sapa Bai’ Bernad. Bernad Bala adalah satu dari sekian banyak sosok pekerja keras dari Sabu yang mencoba mengais hidup di Kota Larantuka.

Dua puluh Tahun sudah Bernad Bala ada di Kota Larantuka, Pria asal Sabu ini menurut penuturannya kepada suluhnusa.com pada minggu 20 Oktober 2013 menceritakan Ia berada di Larantuka terhitung sudah 20 tahun.

Sejak istrinya meninggal, ketiga anak mereka 3 masih kecil,  Bai Bernad membanting tulang untuk menghidupkan ketiga anaknya. Melihat Wilayah Flores Timur berpeluang untuk berjualan, Bai Bernad pada tahun 1993 memutuskan untuk datang berjualan di Kota Larantuka.

Awalnya, Bai Bernard berjualan loakan didepan Pertokoan Kota Larantuka. Dengan penghasilan pas-pasan Ia mampu membiayai kehidupan rumah tangganya. Ia mampu memberi makan ke tiga anaknya. Dari hari ke hari, bulan berganti, Bai Bernad tetap setia menekuni pekerjaan menjual loakan di sekitar pertokoan dan pelabuhan Larantuka.

Anak-anaknyapun tumbuh dan bertambah dewasa, dan kemudian membantunya dalam berjualan mulai dari makanan ringan, kacamata, perhiasan mainan, dan banyak barang dagangan lain dijual untuk para konsumen atau pembeli yang melewati jalur pertokoan. Penghasilanpun hanya cukup untuk makan dan membayar kontrakan.

Baru di tahun 2009 Bai Bernad mencoba membanting setir dan mencoba usaha lain dengan harapan bisa memperbaiki penghasilan, sehingga bisa menghidupi keluargannya. Nasib baik itupun Ia dapatkan. Bai Bernad oleh misi di Susteran Lebao memberikan ijin untuk menggunakan sebidang tanah ukuran kurang lebih 5 x  6 persegi tepatnya di pinggir jalan sebelah timur Gedung Multi Even OMK Larantuka, dari tempat inilah Bai Bernad bersama salah satu anaknya mencoba membuka bengkel menerima tambal ban sepeda motor,   Mobil, tambah angin, dan Juga ganti oli. Usaha ini di jalankan dengan tekun.

Untuk menarik peminat tambal ban, cerita Bai Bernad, di tempatnya ia memiliki prinsip pelayanan yang baik. Itu yang paling penting. Bai Bernad untuk semua tempat tambal Ban di Larantuka, di tempat merekalah yang paling disiplin.

Tiap pagi jam 06.00 pelayanan sudah dibuka dan tutup kembali di Jam 18.00. Penghasilan untuk satu hari terbilang lumayan bisa mencapai angka tertinggi 300 ratus ribu, dimana biaya atau tarif yang dipasang bai Bernad adalah Tambal Ban Sepeda Motor Rp.7000 Per ban, tambal ban Mobil Rp.10.000, ganti oli Rp.5000 dan tambah angin Rp. 2.000.

Saat ditanya apakah tanah yang diijinkan oleh misi dibayar oleh Bai Bernad?

“Pihak Misi tidak meminta membayar, hanya pada setiap tahunnya kami secara sukarela memberikan berapa dari penghasilan mereka sebagai sumbangan untuk Gereja,” ungkap Bai Bernad.

 

Bai Bernad pun bersyukur dan berterimakasih atas budi baik yang ia dapatkan. “Walau sudah tua saya tidak mau anak–anak saya menderita. Anak saya yang pertama jualan di depan pertokoan Larantuka, anak saya yang satu buka bengkel di pohon bao dekat Perumahan Batu Ata, dan yang satu perempuan sudah berkeluarga, suaminnya orang Larantuka,” cerita Bai Bernad.

Walau anak–anaknya tidak sekolah tinggi mereka akan bekerja keras untuk bisa menyekolahkan anak cucu kami ke tingkat sekolah yang lebih tinggi dari kerja keras dan penghasil kami sedikit–sedikit hari ini, lanjutnya.

Bai Bernad Lahir di Sabu pada tahun 1947. Ia Masuk di Sekolah Rakyat (SR) tamat tahun 1962. Atas hasil yang Ia dapat hari ini Bai Bernad hanya berharap semoga usaha bengkelnya bisa terus diminati dengan pelayanan yang sederhana ini, sehingga mudah mudahan bisa berkembang menjadi lebih besar dan bisa memberikan pelayanan lebih luas lagi kepada banyak orang. (Maksimus Masan Kian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *