suluhnusa.com – Malam belum terlalu larut. Langit Kota Reinha hari itu terlihat mendung gelap karena hujan pertama mengguyur basah kota itu. Di sudut Kampung Waibalun, seorang gadis kecil duduk termenung. Basah kelopak mata, berurai air mata. Eva-Felixia E. F. Larantukan, nama gadis cilik itu.
Felixia menangis pada senja yang sedang merebut gelap oleh karena bahagia. Melihat Felixia menangis, semua anggota keluarga pun larut bersama mata yang sembab dan basah. Bukan hanya Felixia saja yang bahagia senja itu. Satu keluarga bahagia. Demikian pengakuan Ibu Felixia, Ani Tukan ketika menghubungi Ketua Agupena Flotim, Maksimus Masan Kian.
Senja di Sabtu, 3 November 2018, siswi SDK I Waibalun itu diumumkan mendapat juara I, perlombaan puisi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Guru Penulis Flores Timur.
Judul puisinya Guru
guru
ketika mentari terbit di ufuk timur
engkau mulai mengayun langkah
menuju ke rumah keduamu
menemui anak-anakmu
menemui kami
guru
engkau rela kehabisan suara
agar isi kepalaku tak kosong
engkau rela bermandi keringat
agar aku punya ilmu
guru
jika tanpamu
tak ada orang-orang hebat
tak ada preaiden
tak ada dokter
tak ada apapun
dan
untukmu yang rela kehabisan suara
untukmu yang bermandi keringat
untukmu yang selalu sabar
untukmu yang selalu menahan amarah
bukan hanya limpah terima kasih
tapi semua doa untukmu guru
Inilah puisi yang ditulis Felixia E. F. Larantukan yang oleh tim juri Agupena Flotim menetapkan sebagai puisi terbaik dan layak mendapat peringkat I.
Selain Felixia, ada beberapa sastrawan/ti cilik yanh dilahirkan dari panggung Harla 12 Agupena. Mereka adalah Catharina Merry C. Salou dari SDI Supersemar, Fransiskus A.B. Ruron SDN Lamatou, Fransiska A.N. Tapowolo dari SDI Weri Larantuka dan Laura Angela Tuto Ete SDI Supersemar.
Pada Sabtu, 20 Oktober, SMK Sura Dewa, Larantuka dipadati 84 peserta workshop menulis puisi dan lomba cipta puisi jenjang SD, SMP/MTs, SMA/SMK se-Kabupaten Flores Timur.
14 (empat belas) peserta dari 7 SD. 45 (empat puluh lima)peserta 25 SMP/Mts. 26 (dua puluh sembilan) dari 15 sekolah. Jenjang SD menulis puisi dengan tema pendidikan. Jenjang SMP/MTs menulis puisi dengan tema alam. Sementara tingkat SMA/SMK menulis puisi dengan tema humaniora.
Selama dua minggu karya anak-anak dan remaja Flores Timur diseleksi oleh tiga juri, yakni, Muhammad Soleh Kadir (Pion Ratuloli), Asy’ari Hidayah Hanafi (Ary Toekan) dan Benediktus Bereng Lanan (Amber Kebelen.
Peserta yang masuk 5 (lima) besar tiap jenjang akan menerima apresiasi dari Agupena Cabang Flotim pada puncak Harlah Agupena ke-12 (28/11) di Larantuka. Dan 10 (besar) yang dirangkum dari 3-4 teratas tiap jenjang akan menerima apresiasi khusus dari Bupati Flore Timur.
Pion Ratuloly, salah satu juri lomba cipta puisi mengatakan, anak-anak memiliki ketrampilan mencipta puisi yang cukup. Antusias sekolah mengikuti aneka lomba tingkat Kabupaten semakin baik.
“Kerja sama dari sekolah-sekolah se-kabupaten Flotim dan Agupena perlu ditingkatkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus ajang kompetisi bagi siswa-siswi se-Kabupaten Flores Timurpada aneka lomba demi menciptakan iklim literasi di Flotim,” harap Pion. Sebab bagi Pion, panggung Agupena Flotim selayak lahirkan sastrawan/ti Flotim sedari cilik.
Amber Kabelen
DOWNLOAD HASIL KEJUARAAN SELENGKAPNYA
