Lewotanaole, Seperti Firdaus Yang Terjepit

suluhnusa.com – Soal hasil alam apa yang kurang di Lewotanole. Seperti taman firdaus. Subur nian.

Memang Menggapainya sulit. Namun jika sudah sampai, kebahagiaan kita terpenuhi.

Pernyataan ini keluar dari bibir dua putera Solor Barat Yohanes Emi Kein dan Efrem Hama Kelore Pengawas Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaraga Kamis 24 Nopembr 2016 saat menginjakan kaki untuk pertama kalinya di Lamaole Desa Lewotanaole Kecamatan Solor Barat. Kehadiran mereka mengikuti rangkaian Kegiatan Hari Ulang Tahun (HUT) Hari Guru Nasional (HGN) dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Menurut Emi Kein dan Efrem Kelore, untuk menjangkau Lewotanaole butuh perjuangan. “Menjangkau Lewotanole sangat sulit, dan butuh perjuangan, karena jalannya yang parah, tidak ada jaringan telkomsel, dan letaknya diatas bukit yang cukup terjal. Namun, jika sudah menginjakan kaki di kampung ini, kebahagiaan terasa, hawa sejuk, keasriaan alam, kesunyiaan dan kedamaian ada di tempat ini. Kami tidak mampu menggunakan motor untuk bisa masuk ke Desa Lewotanaole. Jasa Ojek Lewotanaole yang berhasil membawa kami masuk ke desa ini, walau harus turun berjalan kaki pada titik titik jalan yang endakiannya cukup terjal, akhirnya kami tiba dengan selamat ”ungkap Emi Kein dan Efrem.

Desa Lewotanaole, dikenal sebagai daerah yang alamnya sangat subur. Di sana tumbuh bergama jenis tanaman diantaranya Kemiri, pisang, kelapa, kelapa, pisang, kopi, kaka, bambu, alvokad, sawo, rotan, kenari, dll. Selain tanaman, di Lewotanaole juga hidup berbagai satwa langka diantaranya rusa, babi hutan, musang, kucing, burung cendrawasi kuning kecil, kakatua putih, nuri merah, beo hitam. Beo kuning, garuda, elang, ayam hutan, dll.

Hasil laut warga di tempat ini diantaranya : Ikan paus, cangkalang, gurita, kerang mutiara, berbagai jenis ikan dasar.

Desa Lewotanole yang terdiri dari dusun Lamaole dan Lewomaku ini, terletak di sebuah lembah yang subur diapiti bukit Eli di sebelah timur, dan bukit Gawanawa di sebelah utara. Untuk mencapainya sebelah timur melalui Kampung Lamawohong, dan barat melalui Lewolein

Mata pencaharian warga Desa Lewotanaole adalah bercocok tanam dengan sistem berpindah – pindah. Ini diakibatkan oleh lahan pertanian yang masih luas. Walau tidak banyak, sebagian warga memilih merantau untuk mencari nafkah menghidupi keluarga. Mereka tersebar di Malaysia, Irian, dan beberapa wilayah lain di Indonesia.

Hasil bumi yang banyak, tidak sebanding dengan kondisi jalan yang rusak, membuat warga kesulitan menjual hasil komoditi daerah mereka. Untuk menjual hasil pertanian, warga terpaksa memikul hasil pertanian mereka untuk dijual dipasar . Dalam seminggu, sebanyak 3 kali warga ke pasar yakni pada Hari Selasa di Ritaebang, Rabu di Pasar Ena Tukan dan Jumat di Pasar Kelelu. Jika trasportasinya baik, maka kebutuhan akan pangan bagi Warga di Pulau Solor bisa disuport dari Desa Lewotanaole.

Desa Lewotanaole telah menghasilkan tujuh Imam dan tiga suster diantaranya; Br. Alex Mado, Pater Elias Doni Seda, P. Yan Suban, P. Hendrik Ole, P. Yoakim Sina, P. Eus Herin, dan P. Agus Keraf, Suster Vericia Dalince, Sr. Dina Gapun, Sr. Bety Gapun.

Maksimus Masan Kian
Email: masankian@gmail.com.
No.Hp: 085253456413

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *