suluhnusa.com_ Inilah, perayaan 70, Riasan wajah Indonesia kita.
Seng yang kasrat. Meja, kursi usang. Dinding berlubang pun guru mengajar harus bisik bisik.
Sebagai tempat hantaran ilmu menjadi saksi bisu kekelaman yang terjadi disaat menyambut kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 ini.
Begitulah kondisi siswa/I dan guru-guru yang mengabdikan diri di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bedalima Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur.
Sekolah Dasar Negeri (SDN) Bedalima filial Sekolah Dasar Inpres (SDI) Lamaojan Kecamatan Tanjung Bunga Kabupaten Flores Timur salah satu sekolah di Negeri ini bisa dikatakan belum merdeka.
Bagaimana tidak sekolah yang berjarak kurang lebih 45 Kilo meter dari kota Larantuka tepatnya di Dusun Empat Tobiwolo ini, gedung sekolahnya masih darurat.
Gedung sekolah sebagai fasilitas atau rumah untuk menimbah ilmu oleh siswa atau peserta didik dinilai kurang layak. Karena sekolah yang berdinding keneka (bambu) ini sudah reot dan menyisahkan lubang-lubang kecil warisan dari lapuknya bahan.

Selembar baliho berwarna merah yang bertuliskan “BERANI KATAKAN TIDAK” terhadap kekerasan seksual dari Polisi Resort (POLRES) Flores Timur, FORKOM P2HP dan Wahana Visi Indonesia (WVI) merias dinding yang sudah berumur itu.
Sekolah yang dibangun pada tahun 2011 ini mempunyai tiga ruangan dengan jumlah guru lima orang dan siswa kurang lebih 42 orang. Dua ruang beratapkan seng namun sudah karatan. Dua ruangan itu juga dibagi menjadi empat kelas yaitu kelas tiga, empat, lima dan kelas enam yang didalam ruangan tersebut dipilah dengan keneka.
Sedangkan satu ruangan beratapkan alang-alang terssebut adalah gabungan dari kelas satu dan dua.
Wajah ceria tersemat dari anak-anak serta guru-guru. Meja, kursi usang sebagai tempat hantaran ilmu menjadi saksi bisu kekelaman yang terjadi disaat menyambut kemerdekaan Republik Indonesia ke 70 ini.
Tak ada rangkaian kegiatan yang berarti dalam memperingati kemerdekaan Republik Indonesia di sekolah ini.
Di halaman depan sekolah ada tiang bendera yang berdiri bebas terpaku dengan kibaran merah putih serta beberapa umbul warna-warni berdiri dipinggiran jalan berbatu seakan mewakili aneka rasa yang terpendam dalam diri warga sekolah.
Dengan keterbatasan yang ada para guru tetap semangat dalam menjalankan proses kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Semangat tak pernah pudar apalagi punah.walau tanah liat sebagai landasan sepatu hitam bersemir dan jendela dari bila bambu yang berdiri agak renggang tetapi kami tetap semangat mengabdi.
“Dan dalam mengajar pun harus dengan suara yang perlahan. Karena dalam menjelaskan materi kepada siswa suara guru harus seperti berbisik sehingga tidak mengganggu siswa dan guru yang berada di ruangan sebelah. Karena seperti yang kita lihat dua kelas berada dalam satu ruangan,”kata ibu Yustina Lena Kelen, seorang guru senior yang telah lama mengabdi di sekolah ini.
Lanjut Kelen, selain ruang kelas yang masih reot, sekolah ini juga belum mempunyai kantor atau ruang guru sebagai tempat untuk berkumpul guru-guru. Dulu ada tetapi bangunannya sudah rusak karena bahan materialnnya seperti tiang kayu lokal, dinding keneka (berdinding bambu) dan alang-alangnya sudah rusak.

Sehingga tidak digunakan lagi. Sedangkan kamar mandi atau WC belum ada. Hal ini mengakibatkankan siswa dan guru-guru kesulitan apabila memerlukan. “Selama ini kami memakai WC di rumah warga,” utur kelen seraya menunduk.
Kepala SDN Bedalima, Aloysius Beda Maran menyatakan tahun kemarin SDN Bedalima mendapat bantuan dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olaragah (PPO) Kabupaten Flores Timur (FLOTIM) satu lokal untuk ruangan kelas.
Gedung sekolah sudah dibangun namun belum diserah terima sehingga belum bisa digunakan. Menurut rencana tahun ini juga ada bantuan satu lokal dari Dinas PPO Kabupaten FLOTIM namun belum realisasi.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat terealisasi karena gedung sekolah merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam proses pendidikan. gedung sekolah merupakan hal urgen untuk keberlangsungan dan kesuksesan pendidikan.
Tanpa fasilitas pendukung seperti gedung sekolah yang memadai konsekuensinya sangat jelas pada proses pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar akan terhambat hal ini juga akan mempengaruhi out put yang dihasilkan. “Oleh karena itu gedung sekolah sangat kami butuhkan”, Beda Maran berharap.
Sebab, Indonesia diusia ke 70 ini aneka harapan dari anak Negeri untuk bangsa, tidak lain adalah perubahan.
Tobias Ruron Guru BK SMP Negeri Satu Atap Riangpuho
Anggota Agupena flotim
No. HP.082147728085
