suluhnusa.com_ “Dan lagi, Aku berfirman kepadamu, Aku memberi kepadamu sebuah perintah, agar setiap orang, baik penatua, imam, pengajar, maupun juga anggota, pergi dengan dayanya, dengan kerja tangannya, untuk mempersiapkan dan merampungkan apa yang telah Aku perintahkan.
Dan biarlah pengkhotbahanmu menjadi suara peringatan, setiap orang kepada sesamanya, dalam kelunakan hati dan dalam kelembutan hati. Dan pergilah kamu keluar dari antara yang jahat. Selamatkanlah dirimu. Jadilah kamu bersih yang menyandang bejana Tuhan.
Inilah salah satu petintah Tuhan kepada seorang anak Yatim Piatu, yang baru dithabiskan menjadi Imam katolik oleh Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus kopong kung, PR. Anak yatim itu adalah Mikhael Alfianus Mulan Kabelen, PR.

Romo Alfian, demikian anak Yatim Piatu ini biasa disapa, merupakan putra pertama dari Stasi Bama, Paroki Sta. Maria Diangkat Ke Surga Lewokluok, Keuskupan Larantuka-Flores Timur. Dia adalah imam pertama yang dilahirkan dari Rahim umat Paroki Lewokluok-Flotim. Membanggakan memang. Ada keharuan sepanjang misa konselebran berlangsung yang dipimpin langsung oleh uskup Larantuka, Mgr. Fransikus Kopong Kung, PR, 26 Oktober 2013 itu. Sebab, Alfian ditahbiskan menjadi Pelayan Tuhan dan Umat Katolik tanpa didampingi oleh kedua orang tuanya. Alfian anak Yatim Piatu. Ibunya meninggal saat dirinya masih duduk di tingkat satu Seminari Hokeng, sementara ayahnya meninggal saat masih berada dibangku kelas 3 SMP St. Gabriel Larantuka.
Berkah ketekunan Alfian dalam menjalani kehidupannya, menjadikan dirinya berbuah sebagai pekerja di kebun anggur Tuhan. Dalam sambutannya Rm. Alfianus Mulan Kabelen, Pr menyampaikan rasa syukur dan terimah kasih yang berlimpah kepada segenap pihak yang telah mendukung perjalanan panggilannya hingga hari ini ditahbiskan menjadi imam.
Sementara itu, Uskup Larantuka Mrg. Fransiskus Kopong Kung, PR menyampaikan rasa syukur dan terimahkasih kepada imam baru karena Ia telah rela menerima tawaran Allah menjadi pelayan Umat dalam wilayah keuskupan Larantuka.
“Romo Alfian adalah Rahmat bagi stasi Bama Paroki Lewokluok-Bama, umat keuskupan larantuka, juga gereja secara keseluruhan,” ungkap Uskup Kopong Kung.

Uskup juga mengharapkan agar imam baru yang adalah anak yatim piatu dan merupakan putra sulung dari ke -3 bersaudaraa ini tetap menjadi imam selamanya. Tema dalam acara resepsi tahbisan Romo Alfian sesuai moto tahbisan yaitu “Kehendak-Mu-lah yang terjadi”.
Salah satu umat Stasi Bama Yohanes Beribe saat berbincang dengan suluhnusanet mengungkapkan Sebagai umat Paroki Bama juga sebagai bagian dari keluarga merasa sangat bersyukur, bangga juga merasa haru karena Romo Alfian adalah imam yang ke 9 di Paroki dan imam pertama Stasi Bama.
“Ini adalah sebuah hal yang sangat luar biasa dan bersejarah,” Ungkapnya. Pantauan suluhnusa.com suasana haru menyelimuti Umat saat acara pentahbisan hingga acara resepsi. Sesilia Lepan Hera, Ibu Romo Alfian meninggal saat dirinya masih duduk di tingkat satu Seminari Hokeng, sementara Yohanes Lawe Kabelen ayahnya meninggal saat masih berada dibangku kelas 3 SMP St. Gabriel Larantuka.
Romo Alfian merupakan Putra sulung dari Tiga bersaudara. Sejak kecil Romo Alfian bersama orang tuannya berdomisili di Larantuka. Dia menamatkan pendidikan dasarnya di SDK 5 Larantuka, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP St. Gabriel, SMA Seminari Hokeng dan menamatkan pendidikannya di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero Maumere dan kemudian diurapi menjadi imam. Dan pergilah engkau diutus, sebagai domba ditengah serigala.! (Maksimus Masan Kian)
