suluhnusa.com – Guyuran hujan mengkuyupi tanah lapang malam itu. Tak mampu mengendorkan semangat masyarakat mengantri langkah menikmati Pentas Seni Budaya.
Hari itu Kamis 23 Nopember 2016 di aula St. Stefanus Desa Horinara, Kecamatan Kelubagolit, Adonara. Panggung kesenian ini digagas oleh Pengurus PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) Cabang Kelubagolit songsong Hari Guru Nasiolan dan HUT PGRI ke-71.
Arsiran sumringah merekah pada wajah para penonton dan kontestan turut menyulut sumbu semangat yang binar di tengah kelam gelagat pangggung politik. Pesona kesenian daerah yang dipoles dengan sentuhan modern menjadi suguhan malam yang seolah mengungkit lembaran kenangan akan kearifan lokal.
Peserta pentas berasal dari SD se Kecamatan Kelubagolit. Para peserta menyuguhkan lagu daerah, tarian daerah, frgamen, asembel seruling, musikalisasi puisi hingga kasidah.
Sajian pertama dari SDI Pepak Kelu dengan lagu daerah, Temutu Paji Noo Demon”, kisah lawas leluhur penghuni bumi Lamaholot. Para penyanyi sekaligus menyajikan dramatisasi lagu yang centil menyentil hilangnya rasa kemanusiaan karena perebutan kekuasaan, lenyapnya persaudaraan karena harta, tenggelammnya solidaritas karena ingat diri. Apa arti sebuah perdamaian?
Kontingen dari SDI Sukutukan menampilkan tarian Peni Masan Dai. Tarian ini menyiratkan keteguhan lelaki Adonara dalam memperjuangkan cinta sejatinya. Tarian ini serasa ingin menyenggol kehidupan keluarga jaman kini yang rawan terkontaminasi dengan perilaku penyelewengan dari ikrar perkawinan.
SDI Muda menampilkan tarian Lui E. Tarian daerah dari daratan Larantuka yang selalu dibawakan pada momemnt pernikahan, dikolaborasi dengan tarian Hedung dari Adonara tampak sangat menghibur para penonton.
Kontingen dari SDK Hinga menyanyikan lagu daerah, “Wua Matan Pito”. Lagu ini menarasikan kesenjangan sosial hanya karena perbedaan status sosial. Pembedaan masyarakat lantaran status sosial yang masih saja mengidap masyarakat ini, dikupas miris lewat runutan lirik lagu.
SDK Wua One menampilkan sebuah fragmen berjudul Cita-Cita. Setiap pemeran yang melakonkan berbagai profesi berdialog berantai yang mengisyaratkan adanya ketergantungan setiap manusia. Isi dialog yang dikemas dalam bahasa daerah menghembus pesan pentingya gotong-royong yang sedang tergerus arus ego.
Peserta dari SDK Horowura memainkan tarian, “Gawi Au”. Para penari meliukan lekuk tubuh, meloloskan gerakan kaki di tengah irama dan sempit jepitan bambu membikin para penonton terkesima seketika.
Anak-anak dari SDN Nisakarang tampil dengan suguhan Musikalisasi Puisi. Syahdu santun seruling berirama lagu Himne Guru diselip dengan lantang pembacaan puisi lantas menggugah para penonton.
SDK Lamabunga menampilkan Tarian Petani. Anak-anak tangkas memainkan setiap peralatan bertani diiringi lagu daerah bertemakan petani. Tarian ini mengusung pesan moral akan memudarnya semangat kaum muda untuk berkunjung ke kebun. Sebuah kondisi mengemuka yang bisa saja menjadi ancaman masa depan.
Suguhan terakhir dari MIS Horinara dengan permainan Kasidah. Irama kental cengkokakan dangdut berisi lirik-lirik toleransi yang sedang diobok-obok hingga borok oleh para pemuja kekuasaan.
Pekik lengking dukungan penonton dan letupan tepuk tangan menutup penampilan dari para kontestan. Suasana malam diliputi semarak semangat para pengunjung panggung kesenian. Panggung kesenian yang dirancang bangun kalangan guru ini tak kalah megah dengan dengan adegan dagelan para politikus.
Di Flores Timur, pangggung kesenian sedang di sanding bandingkan dengan panggung politik. Momemntum tahunan, Festival Seni Pertunjukan yang digelar oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Flotim, seolah sedang menggeliat hingga ke pedalaman.
Bersinggunagn dengan perayaan Hari Guru Nasiola dan HUT PGRI kali ini yang menjunjung tema, Guru Tenaga Kependidikan Mulia, Karena Guru, Para guru diharapkan rela menggadaikan waktu luangnya di luar rutinitas akademik demi membantu siswa untuk menemukemali potensi lalu setia melakukan pendampingan proses. Alhasil tema agung nasional itu boleh bersetubuh dengan para guru hingga melahirkan benih-benih kesenian yang tak lekang oleh waktu.
Amber Kebelen
(Wakil Ketua Seksi Dokumentasi dan Publikasi Agupena Cabang Flotim)
SMPN Satap Riangpuho
Email: berenglanan@yahoo.com
0823 0182 8022
