Jalannya Saja Parah apalagi Penerangan PLN ?

suluhnusa.com – Kesulitan warga Lamaole Desa Lewotanaole sepertinya sempurna. Jalan yang baik tidak dinikmati, jaringan telkomsel tidak dirasakan, penerangan listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN) masih sebatas pada mimpi warga.

Akses jalan menuju ke Desa Lewotanaole Kecamatan Solor Barat saat ini sangat memprihatinkan. Pantauan suluhnusa.com (Kamis 24/11/16) ruas jalan dari sisi timur yang dibangun tahun 2014 menghubungkan Desa Lamawalang dan Desa Lewotanaole saat ini mengalami kerusakan yang sangat parah.

Jalan sejauh 7 kilo meter, sejak dibuka, tidak ada peningkatan sama sekali. Gerusan banjir pada badan jalan menimbulkan lubang –lubang besar di bagian tengah dan menyisahkan batu –batu yang berterbaran liar sepanjang jalan.

Alternatif jalan yang dibuka dengan tujuan untuk mempercepat akses trasportasi dalam mendistribusikan komoditi warga Lewotanaole ke pasar belum bisa digunakan secara signifikan. Tak banyak sepeda motor yang berani melewati jalur ini.

Warga mengistilahkan lintasan jalan ini dengan sebutan “jalur merah” karena selain jalan yang menanjak dan terjal, tak ada jalan yang rata. Menanjak dan terus menanjak. Sudah menanjak, beberapa titik membentuk belokan seperti huruf Z.

Sepeda motor saja demikian apalagi mobil. Hanya sopir yang berani dan penumpang yang nekat memilih naik mobil. Warga lebih nyaman dengan berjalan kaki, memikul hasil komoditinya untuk dijual di pasar.

Kondisi sulit yang dialami di wilayah ini, mestinya mendapat respon dari lembaga terkait. Namun jeritan dan keluhan yang disampaikan dari tahun ke tahun belum juga mendapat respon.

“Kesulitan yang paling kami rasakan adalah akses trasportasi, penerangan, akses informasi, akses pendidikan dan layanan kesehatan. Sekian kesulitan itu, yang paling terasa adalah akses transportasi atau jalan. Kondisi jalan seperti saat ini, sangat mengancam keselamatan membuat warga lebih memilih berjalan kaki, untuk mendapatkan kendaraan di Desa Lamawalang. Apalagi saat musim hujan, kami sangat sengsara, keluh Sekretaris Desa Lewotanaole Fransiskus Lusi Kewuan Rabu 23 Nopember 2016.

Senada dengan Fransiskus Kewuan, Martinus Bulin Kepala Desa Lewotanaole mengatakan potensi alam di Desa Lewotanaole terbilang limpah.

“Saya boleh katakan, jantungnnya Solor ada ditempat ini. Potensi alam kami terbilang limpah. Kami punya hasil kemiri, kelapa, kakao, kopi, alvokad, pisang, sawo, bambu, ubi jalar, nenas, madu,coklat,dan hasil bumi lainnya. Namun, kondisi jalan yang rusak membuat kami tidak berharap banyak untuk bisa menjangkau pasar menjual hasil komoditi. Kami berharap, semoga ada perhatian dari lembaga terkait dalam peningkatan kualitas jalan dalam memperlancar akses trasportasi untuk warga. Praktis saat musim hujan seperti ini, warga terpaksa harus berjalan kaki, memenuhi kebutuhan atau urusan di luar desa. Masyarakat ke pasar pada Hari Selasa di Ritaebang, Rabu di Pasar Ena Tukan dan Jumat di Pasar Kelelu,”kata Fransiskus.

Naifnya, Kecamatan Solor Barat, saat ini mendapat pelayanan penerangan listrik dari tenaga surya baru di tiga desa diantaranya Desa Kelelu, Titehena dan Lamawalang.

“Karena keterbatasan daya, listrik tenaga surya yang terpusat di Desa Kalelu baru melayani 3 desa yaitu Kalelu, Titehena dan Lamwalang. Jika saja tenaganya ditambahkan, maka bisa digunakan oleh masyarakat Desa Lewotanaole. Harapan seluruh warga demikian, karena jalan kami sudah rusak, jaringan telkomsel kami tidak nikmati, ditambah lagi dengan tidak menikmati penerangan listrik, seakan kesusahan ini menjadi sempurna,”kata Sekretaris Desa Lewotanaole Fransiskus Lusi Kewuan saat kepada suluhnusa.com pada Kamis 24 Nopember 2016 di Lamaole.

Warga Desa Lewotanaole tetap sabar dalam kegelapan dimalam hari. Kampung yang berlokasi diatas bukit terjal, bagian barat paling barat dari Solor Barat ini hanya menikmati penerangan dari pelita dan solar Cell, itupun hanya beberapa rumah. Tidak dinikmati oleh semua rumah.

“Tanpa penerangan listrik sangat berpengaruh kepada anak – anak sekolah. Pada malam hari mereka tidak mampu berlama- lama dalam kelompok belajar yang hanya mengandalkan pelita dan penerangan solar cell. Dua alternatif penerangan ini sangat berpengaruh pada kesehatan mata, karena cahayanya kurang terang. Warga jarang beraktivitas dimalam hari untuk menghidupkan usaha- usaha kecil yang membutuhkan listrik dan penerangan, karena tidak memiliki tenaga listrik di desa. Seadainnya, ada tenaga listrik masyarakat bisa mengembangkan usaha- usaha kecil dalam peningkatan pendapatan di desa,”kata Sius Krowin warga Desa Lewotanaole.

Ia mengeluhkan kurangnnya perhatian pemerintah terhadap wilayah-wilayah terisolir di Solor terkhususnya Desa Lewotanaole yang paling terpelosok di Kecamatan Solor Barat.

Warga Desa Lewotanaole menerima rombongan Guru Flotim di Gerbang Masuk Desa Lewotanaole (foto: masankian)
Warga Desa Lewotanaole menerima rombongan Guru Flotim di Gerbang Masuk Desa Lewotanaole (foto: masankian)

“ Tujuh puluh satu (71) kemerdekaan Republik Indonesia sepertinya belum dirasakan oleh warga Desa Lewotanaole karena semuanya serba sulit. Jalan rusak, jaringan telkomsel tidak ada, listrik apalagi. Saya secara pribdai dan mungkin mewakili seluruh warga Desa Lewotanole memohon kepada pemerintah, kiranya daerah kami diperhatikan agar bisa keluar dari zona terpencil dan bisa menikmati kemajuan seperti daerah lain yang juga sama seperti kami bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,”kata Sius Krowin.

Kepala Desa Lewotanaole Martinus Bulin berharap sekiranya ada bantuan penerangan yang bisa dinikmati oleh warganya. “Sebagai pemerintah ditingkat desa, kami berusaha membangun komunikasi dengan pemerintah pada tingkat diatasnya, menyampaikan aspirasi warga. Kami berharap semoga suara –suara dari pinggiran, suara-suara dari wilayah terpencil bisa didengar dan bantuan untuk penerangan listrik dari Perusahan Listrik Negara (PLN) juga bisa kami nikmati,”kata Martinus.

Kesulitan warga Desa Lewotanaole, tidak hanya terasa dari sisi akses jalan, tetapi terasa juga dibidang informasi dan komunikasi. Desa yang berdiri secara defenitif pada tahun 1999 hingga saat ini belum menggunakan jaringan telkomsel.

Sedikitnya 422 penduduk yang terdiri dari 99 Kepala Keluarag (KK), untuk berkomunikasi dengan keluarga atau untuk kepentingan lainnya, warga harus relah berjalan kaki 2 km menuju bukit dan naik di atas batu besar untuk bisa mendapatkan sinyal.

“Anak saya tiga orang saat ini berada di Kupang, satu sudah kerja dan dua lainnya masih sekolah. Untuk berkomunikasi dengan mereka biasanya pada hari Minggu siang. Keluar dari kampung Lamaole, kami harus berjalan menuju ke bukit sejauh 2 kilometer. Di bukit itu, ada beberapa batu besar yang menjadi tempat untuk kami naik berdiri di batu tersebut untuk mendapatkan sinyal agar bisa telepon. Hampir semua warga di sini, tahu tempat itu.

Paling sulit disaat anak sakit, dan kami tidak mendapatkan kabar tentang kondisi yang mereka alami, karena tidak setiap hari kami berkomunikasi dengan mereka, jika ada pihak yang peduli dengan kondisi ini, kami sangat berterima kasih” kata Yoseph Manuk warga Desa Lewotanaole.

David Tukan, Kepala SDK Lewotanaole mengalami kesulitan yang sama. Untuk mengirim data- data sekolah secara online Kepala Sekolah dan Operator sekolah harus keluar dari Lewotanole. “Kesulitan sangat kami rasakan dalam urusan sekolah. Untuk mengirim data- data sekolah secara online, kami harus keluar dari Lewotanaole, karena jaringan telkomsel tidak ada, apalagi jaringan internet. Jarang ada pejabat daerah berkunjung ke tempat kami. Karena selaian jalan rusak, jaringan telkomsel juga tida ada.

Untuk urusan kedinasan, dari Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) kami biasa jemput langsung, karena jalan menuju ke Lewotanaole sangat rusak. Kami berharap ada bantuan pemasangan jaringan telkomsel di wilayah kami. Untuk tempat atau lokasi pembangunan tower telkomsel warga tentunya bersedia karena untuk kepentingan bersama,”kata David.

Kepala Desa Lewotanaole, Martinus Bulin mengatakan belum lama ini sudah dilakukan survei untuk pemasangan jaringan telkomsel, namun hingga saat ini belum terlaksana. “ Belum lama ini sudah ada survei, namun kapan pemasangan jaringan telkomsel, kami masih menunggu. Semoga ada upaya yang positif ke arah ini, sebab saat ini banyak urusan pemerintahan juga membutuhkan pengiriman data- data desa secara online, “Kades. (maksimusmasankian)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *