suluhnusa.com – Catatan Hari Guru Di Desa Lewotanaole Solor Barat, Kabupaten FLores Timur, NTT.
Perayaan Hari Ulang Tahun ( HUT) Hari Guru Nasional (HGN) dan Perhimpunan Guru Republik Indonesia ke -71 Tahun 2016, Tingkat Cabang Solor Barat Kabupaten Flores Timur tergolong unik. Dikatakan unik karena, pada umumnya penyelenggaraan kegiatan memperingati HUT PGRI, selalu berpusat pada wilayah yang strategis dan mudah dijangkau, sementara PGRI Cabang Solor Barat tidak demikian! Setiap tahunnya, selalu berotasi dari satu desa ke desa lainnya yang terisolir dalam wilayah Kecamatan Solor Barat.
Tahun ini, pilihan teman – teman Cabang PGRI Solor Barat cukup berani. Mereka memilih Desa Lewotanaole, salah satu desa terisolir yang berada di bagian paling barat, Kecamatan Solor Barat sebagai pusat kegiatan menyongsong dan memperingati HUT PGRI.
Secara geografis, batas wilayah Lewotanaole, bagian timur berbatasan dengan Desa Lamawalang, Barat: Desa Tanalein, Selatan: Laut Sawu dan Utara: Desa Lama Ole. Desa yang terdiri dari dusun Lamaole dan Lewomaku ini, terletak di sebuah lembah yang subur diapiti bukit Eli di sebelah timur, dan bukit Gawanawa di sebelah utara. Untuk mencapainya sebelah timur melalui Kampung Lamawohong, dan barat melalui Lewolein.
Rabu, 23/11/16, sedikitnya 200 anggota PGRI Solor Barat yang terdiri dari guru- guru TK, SD, SMP dan SMA/K Se- Kecamatan Solor Barat bergegas dari masing – masing ranting menuju ke lokasi kegiatan. Jalur yang ditempuh adalah sisi timur.
Tak mudah yang dibayangkan. Prediksi awal tentang jalan yang dibuka tahun 2014 menghubungkan Desa Lamawalang dan Lewotanaole “meleset”. Keluar dari Lamawalang, rombongan langsung melewati jalan tanjakan terjal. Beberapa truk yang memuat rombongan guru terpaksa harus diturunkan dan memilih berjalan kaki. Puluhan guru yang menggunakan sepeda motor harus merelahkan motornya dititipkan di Desa Lamawalang dan berjalan kaki.
Jika menatap ke atas pada jalur jalan itu, mata kita terus tertuju pada tonjolan –tonjolan batu yang nampak dipermukan jalan, yang semakin menambah ciut guru yang rata –rata berusia diatas 40 tahun. Jalan yang dilewati tidak ada peningkatan apa – apa sejak dibuka. Rusak parah sepanjang jalan.
Hanya dua truk yang berhasil melewati rintangan pertama itu dan seterusnya bisa tiba dengan selamat di Desa Lewotanaole. Karena sopirnya berasal dari Lewotanaole yang sedikitnya telah mengusai jalan. Guru yang menumpang truk hingga tiba di lokasi kegiatan adalah mereka yang berani dan memiliki nyali petualang.
Namun kondisi jalan yang rusak membuat penumpang terpaksa harus naik turun beberapa kali di tengah jalan sambil mencari slak yang tepat untuk bisa sampai di puncak bukit, kampung Lewotanaole. Tak ada jalan yang rata. Menanjak dan terus menanjak. Sudah menanjak, beberapa titik membentuk huruf Z. Kondisi jalan rusak berat. Ruas jalan tergerus banjir menyisahkan lubang dan menyisahkan ceceran batu –batu liar di sepanjang ruas jalan.
Pilihan berani telah diambil oleh teman – teman PGRI Cabang Solor Barat. Konsekuensinya adalah sesulit apapun medannya, harus bisa digapai. Para guru yang menggunakan motor, tidak semua berhasil menggapai ke puncak. Termasuk wartawan TVRI Patman Werang, yang bermaksud meliput kegiatan harus pulang karena medan yang berat dan kerusakan motor yang dialami dalam perjalanan menuju Lewotanaole.
Perjuangan yang panjang dan melelahkan ini, terobati saat tiba di Gerbang Lewotanaole. “Lewo Ole Lama Doan Tanah Doan Lama Lela, Lewo Maku Lama Doro Tanah Keri Keka Liku” diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang agak bebas memberi arti “ Tempat yang sulit untuk dijangkau, serta masyarakat yang sukar dimengerti filosofi dan khazanah kearifan lokalnya. Tulisan ini terpampang di gerbang masuk kampung Lewotanaole.
Tiba di gerbang kampung ini, mata kita langsung dimanjakan dengan pemandangan alam di sisi kiri dan kanan jalan yang alamiah. Kita temukan hamparan kemiri, pohon kelapa, pisang, sawo, kopi, kakao, alvokad, nenas, dan sekian tanaman lainnya. Menginjakan kaki di Lewotanaole, defenisi akan alam Solor yang kering dan gersang itu dengan sendirinya berubah. Nampak kesuburan, kesejukan, dan kehidupan yang alamiah ditemukan di Lewotanole.
Sajian pemandangan alam sore itu, langsung membuat warga PGRI Solor Barat jatuh Cinta pada Lewotanaole. Capeh letih akibat terkurasnya energi saat berjalan kaki, perlahan pulih dan nampak senyum ceria keluar dari wajah guru.
Di gerbang itu, segenap warga mulai dari tokoh adat, pemerintah desa, tokoh agama, tokoh pendidikan, orang muda, dan anak – anak sekolah di Lewotanaole telah menanti. Tarian adat, sapaan adat, dan suguhan minum secara adat mengawali seremoni pembukaan sebagai tanda penyambutan dan penghormatan kepada tamu.
Rombongan warga PGRI Solor Barat diarak menuju ke Balai Desa Lewotanaole, selanjutnya sekitar duaratus anggota PGRI Cabang Soor Barat dibagi ke rumah warga, menyatu dengan sedikitnya 99 Kepala Keluarga dan kurang lebih sebanyak 422 warga. Suasana keakraban dan kekeluargaan terasa. Hawa persaudaraan langsung tercipta. Makan bersama dan bersendagurau bersama warga menjadi kisah awal kami dimalam itu.
Kamis, 24/11/16, bertempat di SDK Lamaole, pertandingan bola Volly persahabat antar PGRI dan warga Lewotanaole. Kebersamaan ini menumbuhkan sportivitas, dan semangat juang meraih kemenangan.
Usai Olaraga, digelar Konferensi Cabang PGRI Solor Barat yang dipimpin langsung oleh Maksimus Masan Kian (Sekretaris Umum PGRI) dan menghasilkan kepemimpinan Baru PGRI Cabang Solor Barat masa bakti 2016- 2021. Puncak egiatan hari itu berupa pertandingan bola kaki antara PGRI dan warga Lewotanaole.
Malam hari dilaksanakan kegiatan Ajangsana ke makam guru yang telah meninggal dunia dalam karya pelayanannya di Lewotanaole. Dilanjutkan dengan acara “makan lamak” sebuah tradisi makan bersama warga untuk menimbah kekuatan bersama.
Acara ini diselingi dengan tarian, nyayi, puisi, mendongeng, musikalisasi puisi, yang dibawahkan oleh siswa dan guru perwakilan sekolah dan masing –masing pengurus ranting PGRI.
Jumat 25/11/16 dilaksanakan Misa syukur sekaligus pelantikan Pengurus Harian PGRI Cabang Solor Barat Masa Bakti 2016-2021, Klemens Reda Hayon (Ketua), Nikolaus Erak ( Wakil Ketua), Sekretaris Albertus Sisu Da ‘ Gomes, Wakil Sekretaris Moses Mangu Niron, Bendahara, Maria Goreti Hayon dan sebanyak sembilan Sekretaris Bidang (Sekbid). Berpusat di Gereja St. Kristus Raja Lamaole.
Janji yang dinyatakan pengurus serta pelantikan disaksikan oleh Pengurus dan Badan Penasehat PGRI Kabupaten Flores Timur, Anggota PGRI Cabang Solor Barat, imam dan umat stasi St. Kristus Raja -Lamaole.
Setelah misa dilanjutkan dengan pembagian buku ” Lamaole Dalam Terang Imamat” yang ditulis oleh Putra Lewotanaole Pater Elias Doni Seda, SVD, Anton Daton Seda, dkk. Puncaknya adalah acara “makan rengki” yang disuguhkan untuk pengurus PGRI Kabupaten, dan Pengurus PGRI Cabang Solor Barat yang baru dilantik.
“Makan Rengki” adalah makanan yang disuguhkan khusus untuk tamu yang dihormati. Makanannya disajikan khusus pada tempat khusus. Terdiri dari nasi tumpeng, ayam bakar, arak (minuman khas Lamaholot),dll.
Hadir Pengurus dari Kabupaten Yohanes Emi Kein, Efrem Hama Kelore (Dewan Penasehat) dan Maksimus Masan Kian( Sekretaris Umum). Hadir juga dua putra , anak tanah Lamaole yang berhasil dan bekerja di luar daerah diantaranya Anton Daton Seda ( Pensiunan Kepala Bank Indonesia), Pater Elias Doni Seda, SVD (Imam yang bertugas di Ende)
Dalam penyeberangan Dermaga Pamakayo Solor Barat – Larantuka, Jumat sore 25/11/16, pikiran ini masih terbayang dengan perjuangan teman – teman PGRI Cabang Solor Barat, saat kembali menuruni jalan yang terjal sejauh 7 km dari Lewotanaole ke Lamawalang. Penuh perjuangan!
Maksimus Masan Kian,
Ketua Agupena Flotim
Sekretaris Umum PGRI Kabupaten Flores Timur,
em@il: masankian@gmail.com,
HP : 085253456413)
