Suluh Nusa, Larantuka – Semakin sejahtera masyarakat, semakin besar anggaran rumah tangga yang dapat dialokasikan untuk pendidikan. Anak-anak pun punya kesempatan lebih besar bersekolah, tak perlu membantu orang tuanya mencari nafkah.
Demikian salah satu hasil evaluasi Program Wajib Belajar 9 Tahun yang dibuat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pada 2009. Temuan itu masih relevan hingga kini–saat rezim mencanangkan Wajib Belajar 12 Tahun.
Gambaran pelik kemiskinan dan pendidikan, terekam dalam laporan Bank Dunia (2018). Bagi keluarga miskin, sekolah membutuhkan pengorbanan. Karenanya, perlu prioritas, sehingga ada yang harus dikorbankan.
Misalnya keluarga miskin dengan anak lebih dari satu. Orang tua akan memilih menyekolahkan salah satu anak setinggi-tingginya, sedangkan anak lainnya dicukupkan pada tingkat tertentu. Biasanya, pada pendidikan dasar.
Persepsi kelompok masyarakat ini terhadap pendidikan, masih sangat terbatas. Laporan riset Bank Dunia yang salah satunya dilakukan terhadap Indonesia, itu mengungkapkan bahwa ongkos pendidikan yang dianggap sangat tinggi, membuat orang tua mengambil keputusan sulit untuk pendidikan anak-anaknya.
Memangkas ongkos pendidikan, karenanya jadi solusi. Program semacam ini sudah diambil di beberapa negara, termasuk Indonesia. Program-program di bidang pendidikan di sini, dibiayai lewat seperlima APBN, maupun APBD. Salah satunya program wajib belajar, yang kini diperpanjang jadi 12 tahun.
Karena sifatnya wajib, pemerintah turun tangan melalui anggaran. Ada Bantuan Operasional Sekolah (BOS) hingga Kartu Indonesia Pintar (KIP). Intinya, menggratiskan sekolah–setidaknya pada tingkat dasar dan menengah–atau menghapus pendidikan dari daftar beban pengeluaran keluarga Indonesia.
Pendidikan yang berkualitas menjadi salah satu bekal menuju masa depan lebih baik. Namun, belum semua anak-anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama mengenyam pendidikan layak sesuai dengan usianya.
Tiada pemberian yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang lebih baik. Karena anak-anak adalah penghuni masa depan. Hal ini disadari dan menjadi keinginan serta harapan orang tua akan tetapi semuanya bisa terwujud jika dibaringi dengan kesungguhan dalam usaha disetiap kesempatan. Karena kesempatan selalu ada. Intinya ada kemauan, sudah tentu didukung kesehatan dan juga modal.
Harapan kelanjutan sekolah anak-anak boleh jadi bisa kandas karena banyak hal. Kondisi ini banyak terjadi jika yang menjadi andalan orang tua yang adalah buruh tani yang menggarap lahan yang bukan milik sendiri, dengan sistem bagi hasil atau merantau (bersedia melarat dalam kurun waktu tertentu) ke daerah lain dengan modal pinjaman. Bahkan ada yang terjerat utang hingga kehilangan tanah/ lahan yang semestinya menjadi penopang hidup.
Kondisi sosial kemasyarakatan juga kadang ikut andil seperti pesta, kematian dan lainnya sering menjadi beban hidup yang sulit terurai dari waktu ke waktu. Hal ini berimbas pula pada masalah pendidikan anak.

Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Orang tua, Pemerintah dan Masyarakat. Pemerintah melalui berbagai program memudahkan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Ada Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), KIP Kuliah dan lainnya. Sementara warga masyarakat dan orang tua berpartisipasi dalam iuran komite, uang ujian dan lainnya dengan berbagai alasan. Kondisi ini kadang tersasa berat bagi keuarga yang kurang mampu.
Kendati demikian, masa depan generasi bangsa dan lewotanah terkait pendidikan anak agar tetap menjadi perhatian bersama. Ada banyak orang yang peduli tentang pendidikan baik secara pribadi maupun bersama. Komunikasi untuk membangun relasi serba digital untuk membangun komunikasi saat ini.
Jumad pekan lalu, ketika Ibu Maryati warga dusun IV Lagang Bolak ke kantor Desa Kolimasang mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk urusan pendidikan anak dan lainnya respon positif datang dari Jerman ketika momen ini diunggah melalui akun Facebook: Zamrud Paron Mangu.
Melalui penjabat Kepala Desa Kolimasang, warga Jerman ini membantu melunasi iuran komite sekolah untuk anak Petronela Peni Beda, siswi kelas X SMA Negeri I Adonara.
” Many thanks to my bro’ Hendrick in Muncheen. Your love has been written in Kolimasang with eternal letters”, tukas Penjabat Kepala Desa Kolimasang sebagai ungkapan terima kasih.*** (gerr’s dave/sandrowangak)

Selamat pagi desa Kolimasang Adonara. Sedikit infomasi dari saya Antonia Hohl. Terimaksih pa, Zamrud atas Artikel yang bagus. Saya sudah bicarakan dengan suami saya, Heinrich Hohl ( Henry ) biasa disapa sehari2 yang lebih akrab lagi saya bilang Magun Henry. Kami akan perhatikan anak Petronela Peni Beda, agar bisa meringankan beban orangtuanya. Terimakasih dg tulus saya pribadi ucapkan buat pa, Zamrud atas bantuannya. Salam Hormat.
semoga Tuhan memberkati semua usaha dan karya…terimakasih, tulus membantu warga yang kesulitan di indonesia..
Kami harap anak Petronela tetap semangat dalam belajar. Salam Hormat teman rasa Saudara.
Amin