Di depanku, duduk seorang lelaki yang tengah menatapku hampir tak berkedip. Sedangkan aku, aku berusaha mengalihkan wajahku dari pandangan matanya yang teduh itu. Café tempat kami bertemu, masih sepi. Tempat duduk yang dipilihnyapun, adalah tempat biasa kami sering makan. Di pojok kanan pintu masuk.
Tepat pukul sepuluh pagi, aku merasakan hangat tangannya menyalami tanganku yang dingin. Dia mempersilakan aku duduk dan memesan segelas jus alpukat, untukku. Dia tidak bertanya, seolah ingin mengatakan padaku bahwa dia masih ingat betul apa minuman yang aku suka.
Kami terdiam beberapa saat lamanya, lalu dia bertanya,”lama tidak bertemu, apa kabarmu ?”
“aku baik” begitu canggung rasanya. Setelah sekian lama duduk berdua dengannya. Dia masih seperti dulu. Semuanya, hanya wajahnya yang terlihat lebih dewasa. Hampir dua puluh lima tahun lalu aku melihatnya terakhir kali. Tapi waktu yang demikian lama tak mampu juga mengikis rasa cintaku padanya. Aku bukan seorang perempuan yang tidak laku, tapi ada sesuatu dalam dirinya yang selalu menarikku untuk dekat dengannya kendatipun kami telah terpisah puluhan tahun, namun aku tahu di matanya itu, dia masih mengingatku dan seluruh kenangan kami.
Dia menarik nafas panjang sebelum bertanya lagi “ Maharani, dia anakku bukan ?” Tatapan matanya itu. Menohok tepat di jantungku. Aku melihat kesedihan yang dalam pada mata itu. Aku tidak tahan melihatnya.
“Katakan Mita, dia anakku kan ?” sekali lagi dia bertanya, pelan tapi tegas. Aku mengangguk. Apa lagi yang harus aku tutupi. Dia tahu Maharani anaknya. Aku memberinya kabar setelah dia pergi bahwa aku tengah mengandung anaknya.
Saat itu, dengan gembira dia datang menemuiku, seperti janjinya. Dia lelaki yang bertanggung jawab. Kami sepakat untuk menghadap ayahku, dan dia melamarku. Tapi sayang, dengan angkuhnya ayah menolak lamarannya, sekalipun sudah kukatakan aku sudah mengandung anak Varis.
“Apa kata keluarga besar kita nanti. Kita orang terpandang. Leluhur kita pemuka agama,pemangku di pura Kayangan Tiga. Kamu mau bikin malu ayahmu ini ?” teriak ayahku, seolah langit rumah kami akan runtuh karenanya.
Dengan alasan berbeda keyakinan, ayah mengurungku , menyita alat komunikasiku, hape, laptop dan semua yang bisa menghubungkan aku dengan Varis. Kami kehilangan kontak. Ayah mengurungku seperti tahanan. Tidak ada ijin untuk keluar rumah. Kalaupun terpaksa, aku harus dikawal.
Karena perutku semakin membesar, dan itu bisa memberi aib keluarga, maka dicarikannya seorang lelaki yang bersedia menikahiku, sekalipun aku berontak dan tidak terima. Beruntung, suamiku benar benar seorang yang baik, lahir batin dia menerima aku, mengasihi aku dan anakku seperti anaknya sendiri.
“Dia manis sepertimu,” katanya beberapa saat kemudian setelah melihat aku mengangguk mengiyakan, dengan senyum dikulum.
Aku tersenyum kecut. Dan menarik nafas panjang. Kata kata itu sudah lewat bertahun lalu. Saat ini, saat usiaku sudah separuh baya, kata seperti itu hanya seperti penggaruk hatiku dan membuatku menertawakan diriku sendiri.
“ Dan sampai sekarang setelah usiamu kepala lima , engkau juga masih manis” katanya lagi dengan nada menggoda, persis seperti sering dilakukannya dulu. Ah… masih pentingkah itu bagi kami. Bukankah itu sudah berlalu sekian tahun. Sekalipun tidak mematikan rassa cinta, tapi usia sudah semakin tua, tak pantas memikirkan diri sendiri lagi.
“ kenapa engkau masih bisa bergurau di saat seperti ini ?” tanyaku kesal.
“kenapa maka ?” pertanyaan khas terlontar dari mulutnya, “apa aku tidak boleh memuji calon istriku ?”
Aduh.. keterlaluan. “ Engkau tahu ini bukan waktu kita bersenang senang seperti dulu. Semua kesalahan kita dulu kini membawa petaka pada anak kita. Mereka sedarah. Mereka tidak bisa menikah, dan engkau tahu apa yang akan terjadi. Sakit hati, luka..!” kataku sambil menahan suara agar tidak terdengar pengunjung lain. Yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana perassaan Rani kalau tahu calon suaminya adalah saudara tirinya.
”Dan ini semua kesalahan kita, kenapa mereka yang harus menanggungnya ?” Aku mulai menangis. Semua keresahanku akhir akhir ini, tumpah ruah menjadi air mata yang mengalir tanpa henti. Mengapa anakku yang harus menanggung kesalahanku. Aku menyesal, mengapa dia harus bertemu dengan Beni, kenapa bukan dengan orang lain. Apakah ini berarti Tuhan sedang menghukumku ?
“Sayang ? tenanglah.. kenapa engkau selalu tidak sabar dari dulu sampai sekarang ?” tanyanya sambil memegang tanganku.
“Aku harus sabar bagaimana, jika mereka menderita semua itu karena kesalahan kita dimasa lalu bagaimana aku harus membayarnya.” ujarku sesenggukan. Varis terlihat tenang.
“Kita tidak harus membayar apapun. Dan mereka akan bahagia selamanya” Varis , berkata dengan tenang. Aku heran. Benar, dia orang paling sabar yang pernah aku kenal. Tapi dalam keadaan seperti ini, semua menjadi aneh.
Dia mengusap air mataku dan berkata,” hapus air matamu, lihat aku. Aku mencintaimu, dulu dan juga sekarang. Aku berjanji, akan membahagiakanmu, dan anak anak kita.”
Aku menatapnya dan melihat kesungguhan dalam ucapannya, “lalu ?”
“ Dengar baik baik, calon istriku,” katanya sambil tersenyum, tapi aku tidak menanggapi kata katanya, aku lebih menunggu kelanjutan ucapannya,”mereka tidak sedarah, Beni anak angkatku, bukan anak kandungku”
“apa ?” setengah berteriak, aku berseru .
“sstttt… jangan teriak teriak, orang orang melihat ke arah kita, dikiranya aku sedang memaksamu, heheeee…”
“ aduh.. sudah kakek kakek juga, masih saja genit”
“tapi masih pantas untuk menjadi suamimu kan ? Dan kita akan mengurus dua pernikahan sekaligus. Kau percaya gelang itu yang sudah mempertemukan kita bukan ? Kau sudah melakukan hal yang benar tanpa sadari” Aku mengernyitkan alis tanda tidak mengerti
“gelang itu memang sudah seharusnya diwariskan dari ibu kepada anak perempuannya, dan engkau tidak berkewajiban lagi memakainya sampai mati seperti janjimu dulu”
Ya Tuhan.. aku begitu lega. Tidak pernah merasa selega ini. “jelek..memangnya siapa yang mau menikah denganmu?” tanyaku merengut.
“aku tidak bertanya, tapi matamu sudah menjawab mau.”
Aku tersipu, tentu saja aku mau, karena engkaulah belahan hatiku yang kini menyatu. Gelang itu memang mengikat hati kita dan kini sudah membawamu kembali .
denpasar, harinyepi, 31 maret 2013
widyastuti
