Gelang

Seminggu setelah perbincangan itu, Beni melamar Rani dihadapanku dan memohon izin mengajak ayahnya datang secara resmi untuk membicarakan pernikahan mereka. Aku mengiyakan saja.  Aku mencoba menekan pikiran pikiran burukku sendiri tentang hidup dalam sepi yang panjang. Apalagi Rani selalu menyakinkan aku, bahwa dia tidak akan meninggalkanku sendirian. Dia akan bekerja di Denpasar begitu juga Beni, akan mohon untuk dipindah tugaskan di Denpasar sehingga mereka tetap bisa menjagaku. Hatiku terenyuh melihat mereka berdua begitu memperhatikan aku. Jadi ketakutan apa yang mesti aku pelihara lagi. Tidak ada. Selain menerima dengan sukacita pernikahan mereka.

Sekalipun beberapa keluarga menyatakan tidak setuju tapi aku berusaha memberi mereka pengertian. Dan bisik bisik terdengar dari kiri kanan, bagaimana aku telah melanggar nasehat dan pendirian almarhum ayahku, yang pernah menentang hubunganku dengan seorang katolik di masa lalu. Aku tidak peduli. Apa aku harus menjadi bodoh untuk kedua kalinya, mengorbankan cinta mereka. Terlalu picik bagiku untuk melihat Tuhan itu berbeda beda. Agama itu kebenaran. Kebenaran itulah agama yang sesungguhnya. Siapa menjalankan kebenaran maka dia menjalankan agama. Dan aku memenangkan anakku.

Lalu aku dan anakku sibuk menyiapkan beberapa hal termasuk makanan untuk menyambut lamaran calon besanku. Di sebuah mall , ketika kami sedang berbelanja, Rani bertemu dengan Beni. Mereka berbincang bincang dan aku meminta ijin mereka untuk pergi ke toilet. Saat kembali, aku tidak melihat hanya mereka berdua, tapi bertiga dengan seorang lelaki separuh baya, seumuran denganku, mungkin ayah Beni. Semakin mendekat, aku seperti mengenal sosok lelaki itu. Dan langkahku terhenti, aku terdiam di tempat, di balik sebuah pajangan aku mengamati lelaki itu. Wajahnya tak asing lagi. Masih sama seperti dulu saat aku mengenalnya ketika kuliah . Dadaku berdebar kencang. Nafasku tersengal sengal seperti habis berlari berkilo kilometer jauhnya. Aku masih diam mengamati, mencoba meyakinkan hatiku, bahwa itu lelaki yang pernah menghias hatiku dulu bertahun tahun lamanya.

Rambutnya ikal diikat di belakang leher. Kumisnya, jambangnya, dan senyumnya. Senyumnya itu yang mungkin tak bisa aku lupakan seumur  hidupku. Dan tatapan matanya. Tapi saat itu aku tak bisa melihat matanya, dia sedang berbicara dengan Beni dan Rani. Lalu kulihat dia memegang tangan Rani yang memakai gelang pemberianku sejak SMP.  Ya benar… dia mengamati gelang itu. Ya Tuhan… apakah dia? Sebuah bayangan hitam menyeruak di kepalaku, membuat mataku berkunang kunang dan aku jatuh tak sadarkan diri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *