Gelang

Aku tersadar sedang berada dalam kamar sebuah rumah sakit. Rani sedang berdiri di sebelahku. “Mama.. mama sudah sadar ?” Rani memegang tanganku, “Mama kenapa ma ? kenapa bisa tiba tiba pingsan ?”

“Mama tidak apa apa Nak, mungkin hanya sedikit kurang istirahat”

“Maafkan Rani ma. Mama capek ngurusin pernikahan Rani”

“Jelek.. kenapa bicara begitu” teringat peristiwa di mall, kata kataku mengambang, dan wajahku mungkin memucat

“Ma.. mama kenapa lagi..kok wajah mama pucat ?”

Engkau tidak tahu nak , apa yang akan terjadi padamu. Semoga saja dugaanku salah. maafkan aku anakku, aku selalu berdoa untukmu, agar engkau tidak menanggung sakit akibat perbuatan kami.

“Mama tidak apa apa Nak” aku meraba gelang yang dipakai anakku.

“Tadi ayah Beni tanya ma, gelang ini siapa yang kasi, aku bilang ini gelang papa, sepertinya beliau tertarik sekali ya”

Tentu saja , gelang itu adalah gelang pemberiannya. Aku teringat bagaimana dulu dia memberikan gelang itu padaku. Tanggal 16 Pebruari, saat dia akan pulang ke kampung halamannya, Nusa Tenggara Timur. Kami bertemu terakhir kalinya di pantai Sanur.

“Pakailah ini. Gelang ini adalah perhiasan untuk wanita- wanita suku kami, suku Lamaholot. Terbuat dari besi putih” katanya sembari memakaikan sebuah gelang di tanganku. “Gelang ini yang mengikat hati kita. Kita akan bertemu kembali. Pasti. Aku akan menjemputmu dan melamarmu untuk menjadi istriku. Aku janji “ 

Saat itu aku tidak kuasa mengatakan apa apa. Hatiku sedih skali. Aku takut dia tidak kembali. Kupang bagiku terasa di belahan bumi yang lain. Seperti hatiku yang terasa patah jadi dua. Sekalipun dia berjanji menjemputku, tetap saja, hatiku tidak rela dia pergi. Aku hanya berjanji, gelang itu tidak akan lepas dar tanganku sampai aku mati.

Hubungan kami bukanlah sebentar. Sejak kuliah semester tiga sampai kini, tiga bulan setelah wisuda. Sebenarnya dia sudah punya pekerjaan di Denpasar ini, yang sudah ditekuni sejak masih kuliah. Dia menulis di sebuah harian terbesar di kota ini, tapi ayahnya sakit, dia harus pulang karena dia anak lelaki sulung.

Malam itu dia menciumku, lebih mesra, lebih hangat dari biasanya. Terdorong oleh rasa cinta, perpisahan dan hasrat memberikan sesuatu yang berharga untuk orang yang dicintai, kami terhanyut melakukan perbuatan terlarang, di tengah deburan ombak pantai Sanur.

“Tante sudah sadar ? “ Beni masuk mendekati kami, membuyarkan kenanganku.  Mataku mencari sosok lelaki bersamanya di mall tadi. Seolah menangkap keresahanku, Beni berkata, “Bapa sudah pulang duluan, beliau titip salam sama tante, dan minta maaf tidak menunggu tante sampai siuman. Beliau terburu, ada janji dengan kawannya”

Lama aku terdiam, hatiku bergejolak, bukan lagi ketakutan akan hidup sendiri dalam sepi seperti selama ini menjelang pernikahan anakku, tapi sesuatu yang bersebrangan, yang jauh lebih menakutkan, seperti awan hitam yang siap runtuh tepat di atas kepalaku. Awan hitam sebentuk masa lalu.  

Aku tahu, dia tidak akan berusaha untuk langsung menemuiku dan bicara denganku. Itu bukan dia. Aku tahu dia akan menunggu berhari hari untuk bertemu dan berbicara denganku seperti biasa dia lakukan dulu kalau kami sedang bermasalah. Dan itu akan menjadi penantian yang teramat panjang bagiku. Menunggunya berbicara.

Setelah beberapa saat lamanya aku diperbolehkan pulang dengan catatan harus beristirahat di rumah. Rani mengurus pernikahannya sendiri. Aku tidak konsentrasi lagi. Aku takut semua akan sia sia dan meninggalkan jejak yang disebut sakit hati. Aku takut, ketakutan yang seperti hantu menguntit diriku siang dan malam.

Tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, Rani membangunkan aku dari tidur. “ Ma… ada telepon dari Om Varis,  ayahnya Beni, katanya mau bicara dengan mama, mungkin tentang pernikahan Ma” katanya  sambil tersenyum. Tak dapat kupungkiri ada nada bahagia dalam suaranya.

Ayah Beni ? lelaki itu ? Benar bukan ? Dia akhirnya datang dan berbicara. Tuhan… apakah ini saatnya awan hitam runtuh di atas kepalaku dan menenggalamkan aku serta kebahagian anakku ? Tuhan… begitu aku menyebut dalam hati sembari beranjak pelan mengambil gagang telpon dan seseorang yang masih menungguku di seberang.

“Selamat malam” suara berat terdengar dari seberang menyambut salamku yang begitu pelan.

“mamanya Maharani ?”

“Ya saya sendiri ?” suaraku hampir menyerupai desah.

“Paramahita ? “ suara di seberang berubah familiar, menyebut namaku dengan lengkap , ”masih ingat saya kan ?”

Aku berusaha keras, agar kakiku tetap kuat berdiri menopang tubuhku yang sudah terasa mengambang, limbung. Rani masih berdiri di sebelahku. Rupanya dia penasaran ingin tahu apa yang akan di bicarakan calon mertuanya. Dan karenanya juga aku masih bisa bertahan. Betapa aku bersusah payah mengatur suaraku agar tidak terdengar aneh di telinganya.

“ya bagaimana ? “ tanyaku datar

“engkau tidak mengingatku lagi ?” suara di seberang terdengar parau

“ya saya ingat. Bagaimana ?”

“bisakah kita bertemu untuk membicarakan hal itu ?” suara yang begitu sopan, begitu memabukkan. Betapa aku merindukannya sampai aku tak punya harapan lagi. Hanya gelang itu, gelang pemberiannya yang menemaniku dengan setia. Air mataku hampir menetes mendengarnya. Beruntung di ruang itu lampu sudah dipadamkan, sehingga Rani tidak melihat perubahan di wajahku, di wajah mamanya yang sudah separuh baya. 

Setelah menenangkan hati aku mencoba menjawab dengan nada datar. “ ya bisa” lalu dia menyebut sebuah tempat yang akan menjadi pertemuan kami. Dan tempat itu adalah tempat biasa kami bertemu dulu.

Aku letakkan gagang telepon dengan hati yang kacau balau. Kupandangi anakku, yang sedang menunggu pembicaraan kami. Aku tersenyum padanya,”tenanglah, dan sabar, kami sedang mengurus kebahagianmu”, kataku, atau mungkin menghancurkannya, lanjutku dalam hati.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *