“Kita harus segera pindah dari sini, Yah!” ujarku. Saat itu tepat malam Kajeng Kliwon, malam yang diyakini para jago ngeleak keluar dari peraduannya, keluar dari raga dan mengejawantah menjadi berbagai jenis mahluk atau benda-benda yang ada di bumi ini.
“Kenapa mendadak kau minta pindah?” tanya ayah.
“Aku takut tinggal di sini. Dadong Kerti bisa ngeleak.”
“Kata siapa?”
“Kata orang-orang di Banjar Batanpoh, anak angkatnya pindah dari rumah ini karena tidak mau anak mereka menjadi korban neneknya.”
“Lalu bagaimana perkembangan cucu Dadong Kerti itu?” Ayah balik bertanya.
“Hmm…menurut khabar sih, dia meninggal setahun yang lalu akibat muntaber. Tapi penduduk Bantapoh tetap yakin, anak itu kena cetik Dadong Kerti, karena saat sakit Dadong Kerti yang merawat cucunya.”
“Apa itu cetik?”
“Diracun. Orang yang bisa ngeleak, juga jago cetik, Yah!”
Ayah terkekeh. “Itu kisah yang irasional. Kau jangan percaya dengan cerita macam begitu. Buktinya, setelah tiga bulan tinggal di sini, kita aman-aman saja, kan? Adikmu pipinya tambah montok, dia makan makanan pemberian Dadong, kita juga makan makanan darinya, kita tetap sehat dan tidak ada yang sakit-sakitan. Sudahlah Ani, jangan kau racuni pikiranmu dengan kisah-kisah isapan jempol yang tak bermanfaat. Lebih baik kau pusatkan perhatianmu dengan belajar dan belajar, kau sebentar lagi ujian, kan?”
Ucapan ayah tak membuat rasa penasaranku surut. Perkenalanku dengan Nyoman Kantun, anak nelayan yang rumahnya persis bersebelahan dengan rumah kontrakkanku, makin menguatkan keyakinanku kalau Dadong Kerti bisa ngeleak. Kantun menuturkan bahwa malam pertama saat Kajeng Kliwon tiba di bulan purnama, ia dan adiknya baru pulang dari Banjar Sindhu. Mereka habis menyaksikan drama gong Cupak dan Grantang. Ketika itu hari telah menunjukkan pukul dua dini hari. Persis di tikungan gang masuk ke arah rumahku, tepatnya di bawah pohon beringin yang rimbun, ia melihat seekor monyet sedang duduk di atas batu sambil menatap rembulan yang bulat penuh.
“Monyet itu tampak jelas, bulunya yang abu-abu, bersinar seperti perak. Wajahnya mendongak lurus ke arah bulan purnama. Aku mengintipnya dari balik tembok, aku sangat ketakutan. Aku yakin itu Dadong Kerti, dia telah berubah menjadi monyet,” tutur Kantun.
Benarkah? Di antara rasa percaya dan tidak, perasaan cemasku makin menggunung. Kini hampir tiap hari kuperhatikan gerak-gerik tuan rumahku itu. Sore hari tatkala ia menuju merajan, kuintip, apa saja yang dipersembahkan di depan pura jadi pusat penelitianku. Pagi hari kuamati apa yang dia lakukan di dapur, sikapku ini sempat membuatnya bertanya, “Ada apa, Ani?”
“Oh tidak, tidak ada apa-apa. Saya hanya senang saja melihat Dadong begitu rajin.”
“Hm…pasti kau telah mendengar cerita-cerita tentang aku…Jangan takut Ani, aku tidak seperti yang kau pikirkan. Percayalah!”
Dadong Kerti berbicara tajam, ia tidak menatapku. Wajahnya menunduk ke bawah, menatap tanah basah yang tersiram hujan semalam. Aku memerhatikan wajah perempuan tua itu, dia tidak berani menatap mataku, menurut Kantun, itu salah satu ciri orang yang bisa ngeleak. Kerutan tajam menghiasi wajah Dadong. Ia memang tak mengenal make up, sejak muda wajah itu terus terpapar sinar mahatari, tubuhnya yang gempal dengan dua payudara tergantung lepas dan bebas, membuat perempuan hampir mirip manusia batu itu, tidak memerlukan lagi berbagai asesoris untuk memperindah penampilannya. Dia benar-benar perempuan alam, bau keringatnya bau alam, rambutnya bau alam. Jika ada yang mengatakan dia memiliki ilmu pengeleakan, memilki sabuk sakti yang bisa digunakan untuk ngeleak, untuk apa semuanya itu? Hhh…kepalaku kian bertambah pusing.
“Kalau kau tidak percaya, mari kita selidiki rumah Dadong Kerti saat ia dan suaminya tidak ada. Kita cari sabuk pengeleakkannya!” ajak kantun suatu hari.
“Sabuk pengeleakan? Sabuk apa pula itu?
“Hah, masak kau tidak tahu, kalau orang mau ngeleak, dia harus memakai sabuk itu, nanti arwahnya akan keluar dari raganya, dia dapat berujud macam-macam, dia bisa berada di dalam rumahmu!” Wajah Kantun serius, ia semakin mirip PM Toh sang penutur asal Aceh.
“Mudah-mudahan tidak.” Aku bergidik ngeri.
Namun sebelum penggeledahan dimulai, aku terkejut, adik bungsuku tidak ada di rumah. Ibu memarahiku habis-habisan. Ayah juga sama. Mereka mengancamku, jika sampai petang adikku tidak juga pulang, mereka akan mengusirku. Aku cemas, aku gelisah. Kubayangkan dia perlahan-lahan akan meregang nyawa akibat cetik yang diberikan Dadong kepadanya. Sungguh, rasa cemasku telah sampai ke ubun-ubun. Aku juga semakin percaya dengan ucapan Kantun.
“Kita geledah sekarang?” tanya Kantun.
“Jangan, kita cari adikku dulu. Aku tidak mau dia pulang dalam keadaan perut bengkak akibat cetik!”
“Ha? Kau yakin adikmu pergi bersama Dadong Kerti?”
“Iya. Sebab nenek itu tiap hari selalu menatap adikku. Dia juga kerap memberi adikku jajanan buatannya. Mungkin itu hanya pancingan, di saat yang tepat dia akan menjadikan adikku korban ilmu pengeleakkannya. Minggu depan Kajeng Kliwon, bulan purnama bulat total, saat itulah dia akan menyedot ubun-ubun adikku, menyedot darahnya dan menghirup darah itu melalui pusarnya. Duh, adikku akan membujur kaku. Perempuan tua itu akan berubah menjadi drakula yang haus darah. Cepat Kantun, ayo kita ke sawah, mencari mereka di Padang Galak!”
Rasa gundah itu kian membumbung. Kilatan leak yang kuimajinasikan berujud seperti Rangda; hantu bertaring tajam, berambut putih panjang, dengan payudara menggelantung seperti buah pepaya, mata melotot, memiliki kuku-kuku panjang dan runcing, serta lidah menjulur ke luar, membuat jantungku berdetak cepat. Oh tidak! Jangan sampai imajinasi liarku itu terwujud. Aku tidak mau adikku mati, ya mati di tangan Rangda jelmaan Dadong Kerti. Dan sore itu kupastikan aku harus menemukan adikku. Bersama Kantun kucari bocah kecil itu di sawah Dadong Kerti di Padang galak, di tepi pantai Sanur, hingga ke rumah Lo Lan teman baruku yang tinggal di Kampung China dekat rumah kontrakkan kami.
Namun sosok adikku masih samar.
“Bagaimana ini Kantun, adikku tetap tidak ditemukan, matahari sudah turun ke barat, sebentar lagi senja dan malam akan membuat dunia gelap. Kalau sampai adikku tidak juga pulang, bisa gawat aku!”
“Kita pulang saja, kita tanya langsung pada Dadong, jika dia tidak mengaku, kita cari dalam rumahnya. Adikmu pasti disembunyikan di sana.”
Nyatanya, hingga malam tiba, rumah Dadong Kerti tetap gelap. Aku dan Kantun berbalik, mencari mereka di tempat arena tari kecak dan Ramayana. Di sana mereka juga tak ada. Kecemasanku makin meningkat. Ini bukan sekedar rasa curiga lagi, tapi sudah lebih dari itu. Nyawa adikku ada di ujung tanduk. Darahnya akan disedot habis tanpa sisa oleh Dadong Kerti.
“Jalan satu-satunya kita ke rumah anak angkat Dadong, Wayan Merta. Dia pasti tahu di mana ibu angkatnya berada.” Usul Kantun.