Itulah untuk pertamakalinya aku bertemu dengan Wayan Merta. Ketika aku dan Kantun berhadapan dengannya, ia tengah berada di arena sabung ayam, lelaki berusia tiga puluh dua tahun itu tampak loyo dan bau minuman keras tercium dari mulut serta nafasnya. Sambil terkekeh dia bilang, “Perempuan tua itu memang pintar, dia tidak mau menyerahkan semua harta miliknya. Sebentar lagi dia dan suaminya akan mati. Sawah, kerbau, sapi, dan binatang peliharaannya seharusnya menjadi milikku. Tapi mereka hanya memberikan sedikit saja harta mereka untukku. Sekarang, biar mereka rasa, dengan gosip menjadi leak, mereka akan dikucilkan, mereka akan dilempari batu. Dadong Kerti tak bisa tenang hidupnya. Masyarakat akan mengadili dia dan suaminya, hidup mereka akan hancur!”
“Di mana adikku?”
“Adikmu? Mana aku tahu.”
Mataku nanar mencari-cari adikku. Akhirnya kulihat bocah balita itu tengah tertidur pulas di sudut arena perjudian sabung ayam beralaskan tikar. Wayan Merta yang menculik adikku, dia sengaja menyuruhnya tidur di situ. Dia sengaja menebarkan isu adikku menjadi korban pengelakkan Dadong Kerti. Aku membawa pulang adikku dengan hati lega. Esok, bersama Kantun akan kubeberkan pada para penduduk banjar Batanpoh, kalau Dadong Kerti tidak bisa ngeleak. Wayan Mertalah leaknya, leak yang tidak tahu terimakasih, tidak punya hati nurani. Setelah diambil dari tengah sawah dan dijadikan anak angkat keluarga Pan Wayan Deblog, anak haram hasil perzinahan itu membalasnya dengan balasan yang sangat menyakitkan. Ia menyebarkan fitnah keji yang sempat membuat dua orang tua angkatnya merasa tersudut dan terkucilkan. Ia membalas semua kebaikan dengan kotoran tepat di wajah kedua kakek dan nenek itu.
“Mertalah leaknya…” kata Kantun
“Ya, dalam dirinya bersemayam sifat durjana yang tidak tahu berterimakasih.” Sambungku.
“Napi je anake ngorahang dewek, tiang paling melahe, tiang siap dogen. Kasuen suen sinah jagi ngenah, sire sane patut tur sire sane mebikas jele. Bikas jele dumogi ke ampehang masa, Ida Sang Hyang Widhi Waca nente je jadi nyengsarang damuh ne ane patut…” ujar Dadong Kerti. Yang kuartikan, biarkan orang bilang apapun tentang saya, diam adalah tindakan terbaik. Waktu nanti yang akan berbicara, yang baik akan terlihat, yang jahat tergerus oleh masa. Tuhan menyayangi orang yang baik.
Aku menggendong tubuh adikku yang tengah tertidur pulas. Kantun berjalan di sampingku. Malam itu Bulan purnama bulat penuh. Seekor monyet berbulu abu-abu menanti kami di bawah pohon beringin dekat pintu gerbang rumah Dadong Kerti. Di situ terlihat seorang laki-laki duduk di samping monyet itu. Dia Pan Nyoman Puguh, pemilik monyet, dia sedang menemani monyetnya menatap bulan purnama yang sedang berpendar indah…
***
Fanny J.Poyk
Depok, Panas Terik Maret 2011, Dimuat di Journal Bali
Catatan :
2. Pan : Bapak ( Pak Wayan Deblog)
3. Dadong : Nenek
4. Cetik : Racun
5. 1 Are : 100 meter
6. Merajan/Sanggah : Tempat khusus untuk bersembahyang bagim umat Hindu
7. Leak : Ilmu kerohanian yang bertujuan untuk mencari pencerahan lewat aksara suci. Dalam aksara Bali disebut Liya Ak, yaitu lina aksara yang berarti memasukkan dan mengeluarkan kekuatan ke dalam tubuh dengan cara tertentu.
8. Rangda : Mahluk bertaring, berambut putih panjang dengan mata melotot keluar, lidah menjulur ke dalam lengkap dengan dua gigi taring dan payudara melorot ke bawah.
9. Mekidung/Mekekawin : Tembang untuk memuji Tuhan
10. Canang : Sesajen dari daun kelapa dan bunga-bunga (salah satunya bunga kemboja) serta irisan daun pandan untuk bersembahyang dalam agama Hindu.
11. Pura : tempat bersembahyang masyarakat Hindu