Sekilas tentang kepulauan Alor dan Pulau Pantar
Perairan laut dan pesisir Kepulauan Alor, terutama perairan Laut Selat Pantar memiliki ekosistem perairan yang menarik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pada musim tertentu, perairan Selat Pantar juga merupakan jalur migrasi paus yang merupakan daya tarik kawasan. Karena keunikan tersebut, maka kawasan Selat Pantar dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai Taman Laut melalui Surat Keputusan Bupati No. 5 Tahun 2002.
Taman Laut Selat Pantar mempunyai fungsi utama sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragamn jenis flora dan fauna, serta pemanfaatan untuk penelitian, pendidikan, budidaya dan wisata terutama wisata bahari. Selain fungsi tersebut, kawasan perairan Taman Laut Selat Pantar dan sekitarnya tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip pemanfaatan yang ramah lingkungan dan lestari.
Selain itu, Bupati Alor juga menetapkan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah melalui Peraturan Bupati Alor No. 12 Tahun 2006 pada tanggal 17 Juli 2006. Dikarenakan ada perluasan kawasan konservasi, maka pada tanggal 6 Maret 2009 dikeluarkan peraturan Peraturan Bupati Alor No. 6 Tahun 2009 yang mengubah Perbup Alor No. 12 Tahun 2006. Adapun tujuan perluasan Selat Pantar sebagai KKLD, yaitu: (a) mendukung pengelolaan stok yang perlindungan tahapan kehidupan tertentu (larva nursery ground), fungsi-fungsi kritis populasi yang dieksploitasi (feeding ground, spawning ground), pusat dispersi untuk perekrutan larva jenis-jenis yang dieksploitasi; (b) mendukung stanilitas perikanan; (c) pengganti ekologi yang hilang karena dampak ekosistem; dan (d) meningkatkan hasil sosial ekonomi masyarakat.
Secara administratif Taman Laut Selat Pantar yang diapit Pulau Alor dan Pulau Pantar terdapat di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur dan secara geografis terletak antara 8005’01“ – 8034’11“ LS dan 123044’35“ – 124039’30“ BT. Batas administrasi Kabupaten Alor di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Lembata (Selat Lomblen), sebelah timur dengan perairan Negara Timor Leste, sebelah selatan dengan Selat Ombay, dan sebelah utara berbatasan dengan Laut Flores. Kepulauan Alor diperkirakan memiliki luas wilayah sekitar 13.638,26 km2 yang terdiri atas 2.864,64 km2 wilayah daratan dan 10.773,62 km2 wilayah perairan dengan panjang garis pantai mencapai 287,1 km. Kepulauan Alor memiliki 15 pulau, dimana 9 pulau berpenghuni (Pulau Alor, Pantar, Pura, Ternate, Buaya, Kepa, Treweng, Kura, Marica/Kangge) dan 6 pulau tidak berpenghuni (Pulau Kambing, Rusa, Lapang, Batang, Sika, Kapas).
Kepulauan Alor beriklim tropis kering dengan suhu rata-rata 27,30C. Angin bertiup dari dua arah yang berlawanan juga mempengaruhi iklim di Kepulauan Alor, sehingga terjadi penggantian musim yang periodenya tidak seimbang. Musim kemarau yang panjang sekitar 8 bulan (April-November), sedangkan musim hujan yang singkat sekitar 5 bulan (Desember-Maret). Musim hujan di Kepulauan Alor mulai berlangsung pada bulan Desember, sedangkan jumlah curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada bulan Maret setiap tahunnya.
Sementara kondisi perairan Kepulauan Alor yang terletak diantara perairan Laut Flores dan Samudera Hindia menyebabkan kondisi perairan di wilayah ini dipengaruhi oleh kondisi perairan di kedua perairan tersebut. Massa air air yang berasal dari Samudera Hindia ataupun Laut Flores yang melewati Selat Ombay yang menyempit menyebabkan terjadinya arus kuat dan disertai dengan terbentuknya putaran massa air.
Selain dinamika perairan di atas, perairan Selat Kepa antara Pulau Kepa dan daerah Alor Kecil sering ditemukan fenomena “arus dingin” dengan suhu air laut mencapai 100C hingga 00C. Fenomena yang berlangsung cepat ini (karena hanya sekitar 1 jam) menyebabkan kematian, terjadi hampir setiap tahun dan terjadi pada musim kemarau terutama menjelang musim penghujan.
Nilai pH berkisar antara 7,0 – 8,0 tergolong netral ke arah basa. Nilai tersebut berada pada nilai pH perairan laut Indonesia pada umumnya yang bervariasi antara 6,0 – 8,5. Nilai oksigen terlarut yang berkisar antara 5,40 – 7,55 mg/l tergolong tinggi dan baik untuk kehidupan biota laut. Nilai tersebut menggambarkan sedikitnya bahan-bahan organik yang mengalami dekomposisi (penguraian) yang memerlukan oksigen. Nilai pH dan oksigen terlarut (DO) yang baik untuk biota laut masing-masing berturut-turut 6,5 – 8,5 dan lebih besar dari 4 mg/l.
Kondisi ekonomi Kepulauan Alor memiliki sedikit hutan mangrove, yaitu di sekitar daerah Kokar sampai Sebanjar yang pantainya agak terlindung dari arus yang kuat. Mangrove yang sedikit ini di dominasi oleh jenisRhizopora sp.
Terumbu karang yang relatif masih baik di perairan Alor banyak didominasi dari bentuk life form karang bercabang, karang lunak, karang meja, dan karang massive. Kondisi terumbu karang yang masih baik dibeberapa lokasi perairan Alor karena daerah tersebut bukan lokasi aktivitas penangkapan.
Jenis-jenis ikan karang hias yang banyak ditemukan di perairan Kepulauan Alor antara lain: butter flay fish (Platax sp), angel fish dan kepe-kepe (Chaetedon sp), ikan giru ekor kuning yang dinamakan juga ikan klon, dan ikan lepu (Pterois sp).
Biota lain yang perlu mendapat perhatian adalah satwa migrasi, yaitu paus, lumba-lumba dan penyu. Satwa ini melakukan migrasi melintasi Selat Ombai (Alor) terutama di daerah Alor Timur, diduga satwa ini mencari makan di sekitar wilayah perairan ini serta lewat hanya sebagai jalur migrasi. Satwa migrasi tersebut kebanyakan hanya melintas dan kadang tersesat di sekitar Selat Pantar. Tersesatnya satwa migrasi ini oleh penduduk setempat diyakini sebagai waktu yang paling baik untuk bercocok tanam.
Penduduk Kabupaten Alor berdasarkan data sensus penduduk tahun 2001 berjumlah 168.227 jiwa. Dalam kurun waktu 10 tahun (tahun 1991 – 2001) penduduk Kabupaten Alor mengalami pertumbuhan rata-rata 1,33% per tahun. Kepadatan penduduk rata-rata Kabupaten Alor sekitar 59 jiwa/km2.
Sektor pertanian masih memberikan sumbangan terbesar yakni sebesar 38,34% pada tahun 2000. Sektor ekonomi yang menunjukkan peningkatan dalam kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Alor adalah sektor perdagangan, restoran dan hotel serta sektor jasa-jasa. Sementara itu, subsektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 6,81% terhadap PDRB. Kontribusi ini masih relatif rendah jika dibandingkan dengan subsektor peternakan yang pada tahun 2000 memberikan kontribusi sebesar 8,33%.
Penduduk Kabupaten Alor sebagian besar memeluk agama Kristen Protestan. Meskipun pada dasarnya mereka memeluk agama, namun demikian masih ada sebagian masyarakat yang masih tetap mempertahankan kepercayaan-kepercayaan asli daerah. Selain itu, sebagian masyarakat juga masih percaya bahwa ada kekuatan yang menguasai laut, sehingga jika ada pendatang yang ingin berenang atau menikmati keindahan laut seperti di Pulau Kepa dan Pulau Buaya perlu meminta izin pada sesepuh atau pawang yang diyakini dapat berkomunikasi dengan penguasa laut tersebut.
Di Kabupetn Alor hidup berbagai suku bangsa, antara lain: Abul, Alor, Belagar, Deing, Kabola, Kawel, Kelong, Kemang, Kui, Lemma, Maneta, Mauta, Soboda, Wersin, dan Wuwuli. Setiap suku tersebut memiliki bahasa sendiri-sendiri. Namun demikian, bahasa sehari-hari yang digunakan adalah Bahasa Indonesia, sehingga hampir seluruh penduduk Kabupaten Alor dapat berbahasa Indonesia dengan baik.
Sebagian besar mata pencaharian penduduk Kabupaten Alor adalah pertanian, perikanan dan perkebunan (sektor primer). Penduduk yang bekerja pada sektor ini pada tahun 2000 sebanyak 61.776 orang atau 82,53%. Sedangkan yang bekerja di sektor sekunder sebanyak 2.361 orang (3,15%) dan sektor tersier sebanyak 10.716 orang (14,32%).
Selain sebagai petani, penduduk yang bermukim di wilayah pesisir juga banyak yang menjadi nelayan. Penduduk yang bekerja sebagai nelayan ini berjumlah 3.658 rumah tangga (RTP). Umumnya alat tangkap yang banyak digunakan adalah gillnet, bubu, pancing tonda bagan, long line, purse seine, payang, dan pukat pantai. Namun alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pada tahun 2002 adalah pancing tonda, bubu dan gillnet masing-masing berturut-turut sebanyak 5.992 buah, 2.831 buah, dan 2.228 buah.
Jenis armada tangkap yang digunakan di Kabupaten Alor adalah perahu jukung, perahu motor, dan motor tempel. Jumlah armada tangkap yang paling banyak digunakan di Kabupaten Alor adalah perahu jukung yaitu 2.261 buah pada tahun 2002 dan yang paling sedikit digunakan adalah perahu motor yaitu 45 buah.
Potensi lestari (MSY) sumberdaya ikan di Kabupaten Alor berdasarkan data sebesar 45.714,85 ton/tahun, sehingga jumlah tangkapan yang diperbolehkan adalah sebesar 36.571,88 ton/tahun. Sementara tingkat pemanfaatan baru sebesar 17,85% sehingga masih mempunyai peluang sekitar 82,15% untuk dikembangkan penangkapan.
Pendekatan konservasi dalam menetapkan Selat Pantar sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah Kabupaten Alor adalah karena kawasan ini memiliki keunikan dengan keragaman ekosistem terumbu karang yang tinggi serta merupakan jalur migrasi paus dan lumba-lumba dari Flores menuju Samudera Indonesia melalui Selat Pantar.
Soal pariwisata Kabupaten Alor mempunyai beragam potensi wisata yang dapat dikembangkan, diantaranya panorama alam dan keunikan budaya. Panorama alam yang potensial diantaranya adalah pantai pasir putih, pegunungan, sumber air panas dan lainnya. Sehingga aktivitas yang dapat dikembangkan antara lain memancing, snorkeling, diving, sun abtching, dan lain-lain.
Daya tarik wisata lainnya adalah wisata budaya yaitu desa-desa adat beserta kehidupan tradisional masyarakatnya serta tempat-tempat bersejarah dengan peninggalan-peninggalannya.
Kekuatan aset budaya dan daya tarik wisata Kepulauan Alor adalah keragaman artefak, lokasi bersejarah, hasil kerajinan tangan, dan pertunjukan kesenian berupa tarian, nyayian dan upacara adat.
Sementara potensi wisata bahari di Kepulauan Alor antara lain : Teluk Kalabahi, Pantai Mali dan Teluk Benlan, Teluk Kenarilang, Kokar, Pantaru, Marica, Limarahing, Baranusa dan Pulau Kepa. Selain itu terdapat juga pemandian air panas dan panorama alam lainnya. So, jaga baik-baik bapa dorang pung pulau ini. (lorens leba tukan/iwan kamelang)
