suluhnusa.com_Tak heran. kadang politik dijadikan sebagai lahan bisnis. Dan bisnis diraih dengan berpolitik. Tetapi tak lazim, seorang wanita meninggalkan dunia bisnis yang membesarkan dan masuk berjuang di jalan politik. Apa motifnya.?
Bisnis selayaknya menjadi lahan untuk memetik uang, politik bukan lahan untuk memetik uang. Politik merupakan lahan investasi perjuangan untuk rakyat. Beda bisnis, beda pula politik. Dan wanita yang satu ini tau benar apa yang harus dilakukan dalam menggeluti dua dunia ini.
Jujur. Wanita tiga puluh dua tahun ini hidup dari bisnis. Namun dia mengaku tidak sedang berbisnis dalam politik. Dalam dunia yang dia geluti sebelumnya yakni bisnis adalah perjuangan untuk memperbaiki kesejahteraan pribadi. Tetapi politik, digunakan sebagai perjuangan untuk mensejahterakan rakyat.
Wanita ini masih terlalu muda. Umurnya baru tiga puluh dua tahun tetapi pengetahuannya tentang politik dan demokrasi kerakyatan sungguh mumpuni. Hal itu terungkap dalam dalam diskusi bersama suluhnusa.com di Denpasar, 16 November 2013.

Namanya Ni Ketut Ari Wartini. Ketertarikannya terhadap politik ketika Megawati Soekarno Putri didaulat menjadi Presiden. Dia lalu tecengang dan mencoba peruntungan bermain ke politik sepuluh tahun lalu. Dia menjelaskan satu hal yang menarik untuk dicermati saat ini adalah perjuangan kaum perempuanyang dimotori para pemerhati dan politisi perempuan dalam hal kesetaraan gender ditataran politik.
“Perjuangan itu terjadi secara gamblang pasca kemenangan Megawati Soekarnoputri sebagai presiden. Sejak saat itu saya tertarik dengan politik,” ungkapnya.
Keberhasilan Megawati dijadikan sebagai symbol keberhasilan kesetaraan gender dalam perpolitikan nasional. Pun s ebagai inspirasinya d alam politik. Dari hari ke hari, perjuangan kaum perempuan tersebut semakin menunjukkan bentuknya.
Mereka terus memobilisasi opinipublik , ungkap Wartini, dengan memanfaatkan saluran media massa dan berbagai forum diskusi. Dalam proses perjuangan itu, kami kaum Perempuan selalu menegaskan perempuan sebagai entitas otonom dan mendesakkan agenda politik perempuan kepada partai politik.
Melalui proses itu diharapkan terjadi komunikasi kritis dan intensif, yang menumbuhkan kesadaran dan pendewasaan perempuan sebagai salah satu subyek politik yang menentukan bangunan politik masyarakat. Bahwasanya, kepincangan dalam politik antara laki-lakidan perempuan telah mengakibatkan berbagai kepentingan perempuan dalam kehidupan sosial masyarakat terabaikan dalam setiap ranah kebijakan pengambilan keputusan di jalur politik, terutama di lingkungan parpol.
Dia berpendapat, dalam kampanye, perempuan dinilai hanya sebagai penyumbang suara potensial ketimbang sebagai konstituen politik, sehingga isu-isu perempuan yang dilontarkan oleh parpol hanya untuk sebatas meraup suara perempuan. Itu terlihat jelas dari materi-materikampanye parpol yang sangat jarang berbicara mengenai isu perempuan.
Masalah-masalah seperti kekerasan dalam rumah tangga, pemerkosaan, kodrat perempuan, hak-hak perempuan bekerja, hak-hak reproduksi, dan lain-lain masihditanggapi secara normatif saja oleh parpol. Bukan hanya soal Hak perempuan tetapi hak anak-anak hidup selayaknya menjadi anak sering menjadi perjuangan nomor sekian.
Perjalanan perjuangan politik perempuan yang panjang inilah mambuat wanita muda, lulusan S2 Manajemen Undiksha ini, teguh di jalan politik dan meninggalkan dunia bisnis yang sudah memberikan kenyamanan dan kesejahteraan secara ekonomi. Sayangnya, ekonomi yang sejahtera ini tidak lalu membuat psikologi politik, inu satu anak ini menjadi nyaman. Dirinya terganggu. Benar-benar tergugah untuk mencari jalan mensejhaterahkan rakyat Bali. caranya cuman satu. Merebut satu kursi di DPRD Provinsi Bali.
“Saya harus masuk ke politik walaupun saya bukan berasal dari keluarga politisi. tetapi saya tetap teguh dijalan politik sampai saat ini. Dan PDIP adalah Partai yang saya suka karena perjuangan saya sama dengan platform partai ini,” tegasnya.
Disinggung apakah dirinya mampu menunjukkan kecerdasannya ketika berhadapan dengan dunia politik yang demikian keras, penuh intrik, siasat dan pertarungan? Ataukah hanya bisa terombang-ambing dalam kompetisi ini, bahkan apa yang sebenarnya terjadi saja tidak mengerti, apa yang direncanakan rival tidak terpikirkan, apalagi menjadi perencana yang bisa menjadi perencana?
Alumni SMPN 7 Denpasar ini, menegaskan dirinya tidak merasa minder sekalipun berhadapan dengan para politisi kawakan lainnya. Sebab, apa yang dilakukan ini tulus untuk bersama rakyat. Berjuang dijalan politik demi kesejahteraan rakyat.
Wartini menegaskan dia melakukan politik Pergerakan sebagai tahapan perjuangan yang kelanjutan tak terputus bersama rakyat.
“Materi perjuangan saya adalah politik pergerakan berbasis program perjuangan rakyat. Perjuangan untuk mengembalikan hak rakyat. Perjuangan dan pergerakan untuk mengambalikan hak perempuan dan anak-anak Bali,” ungkap Wartini.
Untuk itu Wartini, dalam perjuangan politik mencapai 15 ribu suara dari dapil Denpasar agar lolos ke Kursi DPRD I dari PDIP, senantiasa menjunjung tinggi politik dan moralitas.
Sebab, menurutnya politik tanpa moral tentu tidak menyediakan tempat bagi penderitaan rakyatnya. Dia ingin agar dirinya yang sudah meninggalkan dunia bisnisnya menjadi cerminan kehendak rakyat. Dirinya tidak ingin asik berpolitik dalam kenikmatan transaksional, oleh karena itu, dirinya mengutamakan politik berkeadilan menurut selera serta kemauan rakyat Bali.
Diakui saat ini, kemauan untuk berbagi rasa dengan rakyat tidak berubah dari pola jual-beli suara dan berbagi rupiah dari pada empati untuk melakukan perubahan lewat jalan politik yang benar.
Bahwa politik butuh budgeting, tetapi rakyat juga harus diajarkan untuk tidak menggunakan kesempatan menjelang 2014 ini sebagai bagian dari jalan pintas mendapatkan uang. Sebab bila demikian, politik akan menjadi lahan transaksi suara.
“Ini yang saya hindari. Politik transaksi ini yang membahayakan,” tegasnya.
Sebab itulah, Caleg DPRD Provinsi Bali dari PDIP nomor urut 7 ini ingin memelihara akal sehat dan nilai-nilai bahwa politik adalah perjuangan untuk mencapai bonnum commune, untuk rakyat Bali.dan karena itu, memilih politisi perempuan yang masih menjunjung nilai moralitas dalam politik adalah keputusan yang benar. Dan itu politisi wanita itu adalah Ni Ketut Ari Wartini, Caleg PDIP, untuk DPRD Provinsi Bali, Nomor Urut 7, daerah Pemilihan Denpasar. Astungkara..!!(sandro wangak)
