Bupati Lembata : “Guru Agama Bukan Sekedar Profesi Tapi Panggilan Hidup”

Pemerintah berjalan di atas kekuatan rakyat, karena suara rakyat adalah suara Tuhan

LEMBATA – Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq menegaskan bahwa guru agama memiliki peran strategis sebagai pembentuk karakter generasi muda.

Penegasan itu disampaikan saat menghadiri dan membuka kegiatan temu alumni STIPAS Keuskupan Agung Kupang (KAK) di Balai Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Sabtu, 18 April 2026.

Kegiatan yang diawali dengan pembagian seragam sekolah kepada anak-anak setempat tersebut dihadiri sekitar 50 alumni serta 119 mahasiswa aktif STIPAS yang sedang menjalani program live in di Paroki St. Laurensius Hadakewa.

Sejumlah pejabat daerah turut hadir, di antaranya unsur pemerintah kabupaten dan anggota DPRD.

Dalam sambutannya, Bupati Petrus Kanisius Tuaq menyampaikan bahwa para mahasiswa dan alumni STIPAS bukan sekadar orang terdidik, melainkan pribadi-pribadi yang terpanggil untuk melayani.

“Hari ini saya berdiri bukan hanya di depan orang-orang terdidik, tetapi di depan orang-orang yang terpanggil untuk menuntun dan memperbaiki moral sesama,” ujarnya.

Menurut dia, guru agama tidak dapat dipandang hanya sebagai profesi, tetapi sebagai panggilan hidup yang menuntut dedikasi penuh.

“Jika ini panggilan, maka tidak boleh dijalankan setengah hati. Guru agama adalah pembentuk karakter anak-anak. Jika karakter sudah dibentuk sejak dini, maka ketika dewasa mereka akan menjadi pribadi yang baik,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya sinergi antara pembangunan iman dan ekonomi masyarakat. Pemerintah Kabupaten Lembata, kata dia, saat ini memprioritaskan sektor nelayan, pertanian, dan peternakan. Dalam konteks itu, kehadiran guru agama dinilai penting untuk memperkuat nilai-nilai moral sekaligus mendorong kolaborasi sosial. “Iman dan ekonomi harus berjalan beriringan. Ketika ekonomi baik, iman ikut bertumbuh, dan sebaliknya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua STIPAS KAK Maxi Un Bria menegaskan kontribusi nyata STIPAS bagi daerah, khususnya Kabupaten Lembata. Ia menyebut kehadiran para alumni sebagai bukti konkret peran lembaga pendidikan itu dalam membangun sumber daya manusia.

“Alumni yang hadir hari ini adalah bukti nyata bahwa STIPAS telah berkontribusi bagi Lembata. Sebagian besar dari mereka telah bekerja, baik di instansi pemerintahan maupun di lembaga pendidikan,” ujar Romo Maxi.

Ia juga mempromosikan STIPAS Kupang sebagai lembaga pendidikan yang mencetak tenaga pendidik sekaligus agen pastoral yang siap terjun melayani masyarakat.


Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq bersama RD. Maxi Un Bria

Dorong Pemberdayaan Komunitas Lokal

Sebelumnya, 16 April 2026 Bupati Lembata, P. Kanisius Tuaq, S.P., didampingi Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah, Quintus Irenius Suciadi, S.H., M.Si., menerima audiensi Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang melalui STIPAS Keuskupan Agung Kupang terkait pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Live In di Kabupaten Lembata.

Kegiatan Live In tersebut dijadwalkan berlangsung pada 15 hingga 23 April 2026, bertempat di Desa Hadakewa, Paroki St. Laurensius Hadakewa. Program ini melibatkan mahasiswa sebagai bentuk keterlibatan langsung dalam kehidupan umat dan masyarakat, sekaligus menjadi sarana pembelajaran pastoral dan sosial.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mendorong pemberdayaan komunitas lokal serta memperkuat kehadiran mahasiswa sebagai agen perubahan di tengah masyarakat. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, panitia turut menggelar Temu Alumni sebagai wadah refleksi, berbagi pengalaman, serta penguatan peran alumni sebagai mitra pastoral.

“Lembata memiliki banyak potensi yang perlu dikelola dengan baik. Kita harus mengutamakan ketenangan dalam membangun, bukan sekadar mengejar kesenangan. Pemerintah berjalan di atas kekuatan rakyat, karena suara rakyat adalah suara Tuhan,” ujar Bupati.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Lembata menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung penuh kegiatan pengabdian mahasiswa.

Ia menekankan pentingnya perubahan pola pikir generasi muda agar lebih adaptif, mampu bersosialisasi, serta mengintegrasikan nilai doa dan kerja dalam kehidupan sehari-hari.

Bupati juga memaparkan sejumlah program prioritas daerah yang tertuang dalam RPJMD, khususnya di sektor perikanan, pertanian, dan peternakan. Ia menegaskan perlunya perubahan cara pandang dalam mengelola potensi daerah, termasuk dalam praktik beternak dan bertani yang lebih produktif dan berkelanjutan.+++


g.goe.t/sandro.wangak


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *