Final, TK Negeri 03 Nubatukan Tolak MBG Demi Keselamatan Anak

Anak anak bawa bekal dari rumah saja. Menurut mereka itu lebih hygine

LEMBATA – KASUS ulat yang ditemukan dalam menu MBG di Kabupaten Lembata membawa imbas keputusan final pada sekolah penerima manfaat di Kota Lewoleba, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Orang tua siswa yang tergabung dalam komite sekolah bersama para guru final menolak Program MBG masuk ke sekolah mereka.

Hal ini berdasarkan hasil rapat komite dan pihak sekolah yang dipimpin oleh Kepala TK Negeri 03 Nubatukan, Rosafina Gunu, Sabtu,. 18 April 2025.

Rosafina Gunu, Kepala TK Negeri 03 Nubatukan, ketika dikonfirmasi Suluhnusa.com, 18 April 2026 menjelaskan hasil kesepakatan bersama tersebut dituanglan dalam berita acara penolakan.

“Hasilnya orang tua menolak seterusnya dari MBG dari dapur 01 di buktikan dengan berita acara penolakan”, ungkap Rosafina.

Lebih jauh Ia menjelaskan, dalam rapat juga sudah ditawarkan untuk menerima MBG dari dapur atau SPPG lain tetapi orang tua sepakat untuk menolak.

Bekal Dari Rumah Lebih Hygine, Dari Pada Menu MBG

Penolakan Menu MBG ini disepakati orangtua wali karena menurut mereka Menu Dari Makanan Bergizi Gratis tidak Hygine.

“Tadi sudah ditawarkan untuk pindah ke dapur lain tapi orng tua tetap menolak. Anak anak bawa bekal dari rumah saja. Menurut mereka itu lebih hygine”, ungkap Rosafina.

Selain itu, keselamatan anak yang mengkonsumsi makanan dari orang tua lebih terjamin.

Hadir juga dalam rapat tersebut Laurens Ola sebagai Ketua Komite pada sekolah dengan jumlah murid 54 siswa tersebut.

Tidak Mau Guru dan Anak di Sekolah Jadi Kambing Hitam Demi Keuntungan SPPG


Sebelumnya Ketua Komite TK Negeri 03 Nubatukan, Laurens Ola menolak jika guru dan kepala sekolah menjadi kambing hitam atas viralnya kejadian adat ulat dalam menu MBG tersebut.

Phak SPPG seolah seolah hanya memikirkan kerugian pada pihaknya akibat kejadian itu tanpa memikirkan keselamatan dan kesehatan anak anak yang sudah mengkonsumsi menu MBG itu.

Hanny Chandra, Kepala SPPG 01 Nubatukan tetap teguh menyampaikan bahwa pihaknya berbicara berdasarkan bukti data dan hasil uji laboratorium.

Kejadian ini dinilai aneh karena dari ribuan daging ayam hanya satu omprengan yang terdapat ulat hidup dan loncat loncat.

“Kita bekerja sesuai SOP BGN yang ketat. Dan kejadian ini saya meminta maaf juga merasa aneh karena dari 3020 an omprengan yang keluar hanya ada satu omprengan yang berulat. Ulatnya masih hidup loncat loncat. Sebaiknya uji pab agar kita semua bisa obyektif. Dampaknya juga luar biasa. Dapur bisa ditutup BGN”, ungkap Hanny.

Selain itu Hanny juga meminta agar pihak sekolah ketika menemukan ulat jangan dulu di posting kemana mana tanpa kehadiran pihaknya.

“Saya minta agar penerima manfaat juga jangan menyebarkan dulu kalau ada temuan makanan yang seperti itu menunggu pihak dapur untuk menyaksikan secara bersama sama.

Dalam pertemuan itu juga disoroti SOP penyaluran dan juga penanganan masalah.

Seteru Paha vs Sayap dan Hadirnya Akuntan


Di hadapan Wakil Bupati Lembata Muhamad Nasir, dua entitas beradu pandangan dan data soal benar tidaknya keberadaan  ulat dalam omprengan menu MBG salah satu siswa Taman Kanak-kanak di Kabupaten Lembata.

Masing-masing bertahan dengan sudut pandang berbeda tetapi bertemu di dalam omprengan dengan fokus pada lauk: daging ayam. Dari metode masak, cara memeriksa keberadaan ulat plus bagian daging ayam yang mengandung ulat.

Pertama, pihak sekolah. Taman Kanak-kanak (TK) Negeri III Nubatukan, sekolah yang terletak di Lamahora Kelurahan Lewoleba Timur. Minda, ibu guru yang mendampingi peserta didik saat ajang makan menu berbasis program nasional andalan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto. Hari itu, Kamis, 16 April 2026.

Minda, tak hanya membeberkan fakta yang disaksikannya, ia juga bersumpah atas nama tanah Lembata, tempat ia hidup dan berkarya sebagai guru.


“Saya ini urus anak-anak usia 4-5 tahun. Kemarin pas, Pak Barto antar makanan masuk, sebelum doa saya buka. Aduh..hari ini kita makan enak nih, anak-anak! Daging Ayam. Kami doa habis, sudah bagi semua, duduk. Yang lain sudah mulai buka makananya, lalu anak satu ini, dia buka dia punya. Sa punya daging ada ulat. Saya lalu bangun, anak-anak lain sudah, lihat, saya bilang mana? Mana? Karena kejadian begini saya harus sampaikan kepala sekolah supaya dia juga bisa tahu. Jadi saya bawa dari sana datang nih, saya lihat (ulat, red) ada di sayap. Dagingnya sayap. Dan dia kerumun. Ulat itu kecil dan cepat sekali masuk ke dalam isi (bagian dalam daging, red). Ada orang tua wali. Saya minta orang tua bikin video dan kirim ke kepala agar kepala sekolah juga bisa tahu..untuk periksa, harus pelan-pelan karena ulatnya kecil mirip helai rambut..dan buka pake tusuk sate.. dan kami bukan pelan-pelan pake tusuk sate, dia (ulat, red) muncul pelan-pelan dari bawah naik, seperti dalam video yang beredar. Sayap! Bukan di bagian lain. Sayap! Saya minta panggil orang tua lain datang supaya saya jangan sampai saya dibilang karang (berbohong, red) atau bagaimana? Setelah itu saya taruh ompreng dan mau tunggu kepala sekolah datang. (Saat tunggu kepala sekolah datang, red) lalu Pak Barto datang dan bilang petugas SPPG sudah datang. Saya lihat mereka sudah buka (daging, red). Mereka buka itu, pake begini (memperagakan suwir-suwir daging, red). Saya bilang buka begitu tidak dapat, ulatnya kecil makanya kami pake tusuk sate. .Saya bilang buka pelan-pelan, dia akan muncul lagi. Itu lalu muncul-muncul naik. Yang saya lihat kemarin itu, saya tidak karang. Kami tidak karang. Saya bersumpah demi lewotanah Lamahora (leluhur kampung lamahora tempat sekolah, red). Saya mengajarkan anak untuk jujur. Setelah pulang sekolah, dorang (petugas SPPG 01, red) datang di rumah. Saya sedang tidur. Saya bilang kalau mau apa (klarifikasi, red) tunggu besok di rumah. Di sekolah supaya ada saya punya kepala sekolah. Tapi mereka desak harus hari itu juga (kemarin saat mereka ke rumah saya, red). Mereka bawa ompreng, saya lihat di ompreng itu, kok dagingnya beda. Ada tulang paha..Padahal dalam video yang saya sebarkan itu di sayap. Saya mengamuk kemarin. Kemarin, saya tidak pernah buka daging yang paha. Kenapa ada tulang paha di dalam. Saya punya bukti di sini, di orangtua wali juga ada. Saya ingin memastikan, saya telpn salah satu orang tua dan tanya, kemarin engko bikin video itu, kira-kira daging itu paha atau sayap? (dia jawab, red) Sayap, Ibu Minda! “


Keterangan berbeda dibeberkan salah satu anggota tim SPPG 01 yang bertugas sebagai akuntan atau Pengawas Keuangan sesuai jabatan yang tersebut dalam Petunjuk Teknis Tata Kelolah Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2025. Berbatik dan memakai masker hijau, Pengawas Keuangan dari SPPG 01 ini ia menjawab tanya awak media soal paha atau sayap.


“ Jadi begini, maaf!” seraya berdiri, “Saya ceritakan alur perjalanan kami. Awalnya kepala (SPPG, red) yang telpon kami untuk duluan ke sini (TK Negeri III Nubatukan, red). Segera datang. Terus saya dan satpam yang duluan ke sini. Lalu teman-teman saya ikut dari belakang. Yang ompreng dikasih itu dari pihak sekolah sendiri yang kasih ke kami. Dan kami buka, disitu paha, bukan sayap! Di situ ada dua daging, yang disuruh kami periksa adalah pahanya tadi. Jadi saya sendiri yang periksa. Nah, saya pake sobek-sobek dia (daging ayam bagian paha, red). Nah, (menurut saya, red) ketika periksa pake lidi, kan lama pak! Kita pake suwir, pake tangan begini, pasti akan kelihatan. Tidak mungkin tidak kelihatan. Terus, kata ibu gurunya, bilang kalian tidak akan dapat karena ulatnya terlalu kecil dan dia sudah lompat masuk ke isi-isinya (bagian dalam daging, red). Itu ibu gurunya sendiri yang beritahu begitu. Terus saya dan satpam, di sini saya sebagai akuntan, karena ahli gizinya belum datang, saya takut. Katanya orang tua wali yang videokan, saya takut viral. Saya minta untuk ibu gurunya untuk chat ke grup biar videonya jangan disebarkan dulu sebelum kita klarifikasi. Terus ibu gurunya sendiri bilang, lho ini wali muridnya sendiri lihat. Mereka sendiri yang video. Kayak begitu, (kesimpulannya guru, red) lepas tangan to pak? Habis itu ibu gurunya kembali ke ruangan. Setelah itu, karena (kami periksa, red) tidak ada ulatnya, saya tutup (omprengan, red) dan serahkan ke chef. Dan itu kami belum pulang. Kami takut jangan sampai di sekolah lain juga ada ulat juga. Kalau misalnya ada ulat, supaya kita pulangkan saja. Jadi saya minta teman-teman untuk berpencar ke sekolah-sekolah. Saya lalu mau minta ketemu PIC di sekolah tapi tidak ketemu. Saya mau minta supaya video jangan diviralkan dulu sebelum kami klarifikasi, ” papar petugas Akuntan dari SPPG 01.

Pemaparannya terputus atas permintaan forum lantaran Wakil Bupati Lembata hendak pamit untuk sholat Jumat.



Paparan dari pihak sekolah dan perwakilan SPPG 01 ini tak berujung di titik temu. Forum diskusi klarifikasi disudahi dengan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium yang dinilai bisa menjembatani perbedaan persepsi.

Namun penjelasan Pengawas Keuangan dari SPPG 01 meninggalkan tanya publik. Di barisan belakang forum klarifikasi, salah satu orang tua menyeletuk pelan.

“ Jo dia akuntan kenapa dia yang datang periksa makanan. Ulat ada ka tidak itu kan harusnya pengawas gizi, ” orang tua siswa itu tak mau namanya disebut.

Tahun 2025, Kepala Badan Gizi Nasional menerbitkan satu dokumen penting yang jadi acuan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis. Namanya Keputusan Kepala Badan Gizi Nasional Republik Indonesia Nomor 401.1 Tahun 2025 tentang Petunjuk Teknis Tata Kelolah Penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis Tahun Anggaran 2025. Dokumen ini tersedia di website Badan Gizi Nasional, https://www.bgn.go.id.

Prosedur Uji Laboratorium dan Sample Sudah di kirim ke Maumere

Ekawati Foeh, staf Pengelolah Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Lembata dalam pertemuan itu menjelaskan untuk mengetahui penyebab adanya ulat dalam daging hanya bisa dilakukan dengan uji sample di laboratorium.

Menurut Ekawati, sekalipun sample yang dibawa ke Laboratorium Maumere itu bukan daging ayam yang ditemukan ada ulat kemarin tetapi pasti akan ketahuan hasil yang objektif karena diproses pada dapur yang sama.

Ekawati meminta agar pihak sekolah tidak perlu kuatir atau menaruh curiga bahwa ada persekongkolan untuk merubah hasil pemeriksaan Laboratorium.

“Ibu bapa di sekolah ini jangan kuatir atau menaruh curiga karena kami tetap bediri obyektif karena ini menyangkut makanan untuk anak anak sekolah di daerah kita”, ungkap Ekawati.

Informasi yang dihimpun Suluhnusa.com, sample makanan dari SPPG 01 Nubatukan sudah diantar oleh petugas Dinas Kesehatan ke Laboratorium Kesehatan di Maumere Kabupaten Sikka, 18 April 2026, menggunakan kapal cepat. +++


ben.assan/sandro.wangak


 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *