suluhnusa.com – Sudah puluhan tahun warga beberapa desa di Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, NTT merindukan air. Salah satunya adalah warga Desa Baolaliduli.
Mereka tidak mungkin berharap banyak dari Gunung Api Ile Ape karena mengndung kapur dan belerang. Akan tetapi mereka sejak lahir harus mengkonsumsi sumber air dari sumur galian yang mengandung belerang. Dan hasilnya gigi depan pasti kuning. Gigi kuning menjadi ciri khas warga Ile Ape dan Ile Ape Timur.
Bahkan sumur galian warga di Desa Baolaliduli tidak bisa dikonsumi karena mengandung zat garam yang terlalu tinggi. Airnya asin. Dan karena itu mereka harus berjalan ke Desa Lamaau, Desa tetangga. Mengambil air untuk kebutuhan sehari sehari.
Miris memang. Tapi itulah kondisinya. Air mengandung belerang, air asin dan saat musim kemarau air sumur galian warga mengalami kekeringan.
Kondisi ini semakin diperparah dengan larangan Kepala Desa Lamaau agar warga Desa Baolaliduli tidak lagi mengambil air sumur galian di wilayah desanya. Hal ini dipicu, pemasangan instalasi sumur bor dari Desa Lamaau ke Desa Baolaliduli tanpa ada kesepakatan bersama. Bahkan, pihak penyedia sumur bor, SNVT Penyedia Air Tanah dan Air Baku Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, yang diduga tidak menghargai Pemerintah Desa Lamaau.
Akibatnya, Kepala Desa Lamaau, Rajuni Weling, membongkar sekaligus menutup instralasi jaringan Sumur Bor yang dipasang dari Desa Lamaau ke Desa Baolaliduli sejak beberapa bulan lalu.
TERKAIT : Merasa ditipu, Kades Lamaau Putuskan Instalasi Sumur Bor ke Desa Baolaliduli
Muslimin Bala, salah satu tokoh pemuda Desa Lamaau menyayangkan kejadian ini sebab masyarakat Desa Baolaliduli memiliki hubungan kekerabatan dan kekeluargaan secara turun temurun dengan Desa Lamaau.
Bahkan Muslimin menceritakan, sumur warga yang ada di Desa Lamaau saat digali pertama kali melibatkan masyarakat Desa Baolaliduli. Sumur bersejarah karena saat peresmian, masayarakat kedua desa bergotongroyong agar bisa dikonsumsi bersama.
“salah satu sumur tua yang di Desa Lamaau itu pada saat seremonial peresmian secara adat, masyarakat desa Baolaliduli datang dengan membawa hantaran secara adat (Penang-Red),” ungkap Muslimin, 25 Desember 2019.
Untuk itu, Dia meminta agar kedua pemerintah bisa duduk secara bersama. Saling mengalah, mencari solusi terbaik demi masayarakat kedua desa. Mari menjaga hubungan kekerabatan dan kekeluargaan kedua desa ini secara baik,” pinta Muslimin.
Muslimin juga meminta piha Camat Ile Ape Timur, Yoseph Raya Langoday, agar bisa memfasilitasi kedua pemerintah desa bersama para tokoh untuk mencari solusi terbaik.
Camat Ile Ape Timur, Yoseph Raya Langoday, dikonfirmasi suluhnusa.com, 26 Desember 2019, mmbenarkan kejadian ini dan mengaku sudah menghubungi berbagai pihak yang berkepentingan di kedua desa.
“Kami pemeerintah kecamatan sudah tau. Dan saya sendiri sudah bertemu dengan beberapa orang di kedua desa. Mencari tau persoalan dan informasi secara seimbang. Kami akan selesaikan dalam waktu dekat,” ungkap Yos Raya.
Lebih jauh Yos Raya membeberkan dirinya sudah menghubungi BPD Desa Lamaau dan Desa Baolaliduli untuk memanggil kepala Desa masing masing sekaligus memfasilitasi pertemuan bersama pihak kecamatan mencari solusi terbaik.
Yos berharap semua pihak dapat menahan diri dan berusaha mengalah tanpa saling menyalahkan agar ada solusi pada saat pertemuan. Sebab baik warga Lamaau dan warga Baolaliduli sudah lama rindu nikmati air bersih.
“Saya berharap agar semua pihak bisa mengalah tanpa saling menyalahkan agar ada solusi terbaik,” ungkap Yos Raya, Camat Ile Ape Timur.
sandrowangak
