Kalau Sehat, Seharusnya Tempat Tidur Di Rumah Sakit Kosong

suluhnusa.com_Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, ST menyatakan komitmen bersama Lembaga DPRD Kabupaten Lembata untuk menyiapkan anggaran operasional Dinas Kesehatan yang memadai untuk pembangunan sektor kesehatan.

Anggaran itu diutamakan mendukung kegiatan advokasi dan sosialisasi Program Eliminasi Filariasis agar dalam lima tahun ke depan, Lembata bebas penyakit filariasis atau kaki gajah.

Bupati Sunur menegaskan hal itu ketika membuka secara resmi kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Program Eliminasi Filariasis di Lewoleba. Bupati Sunur didampingi Ketua Sementara DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, SE dan Wakil Bupati Lembata, Viktor Mado Watun, S.H.

Bupati Sunur mengatakan, kesehatan merupakan aspek penting pembangunan yang juga menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla juga telah menggagas program kesehatan dengan Program Indonesia Sehat. Pemerintah Kabupaten Lembata juga serius membangun bidang kesehatan. Antara lain, telah dibangun Klinik Primer di Kecamatan Omesuri dilengkapi fasilitas, dokter dan paramedis.

Dikatakannya, advokasi dan sosialisasi program eliminasi filariasis ini merupakan salah satu upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

“Kalau masyarakat kita itu sehat, seharusnya tempat tidur di rumah sakit menjadi semakin kosong. Artinya, gambaran bahwa masyarakat kita tidak sakit lagi sehingga tidak masuk rumah sakit,” kata Bupati Sunur.

Bupati Sunur menegaskan, Dinas Kesehatan Lembata menyiapkan obat cacing untuk diminum secara massal oleh masyarakat, terutama yang berkaitan dengan pemeberantasan penyakit filariasis ini.

Penyakit ini masih menjadi tantangan di Lembata. Penularannya, justru disebabkan oleh cacing filaria melalui berbagai jenis nyamuk yang menimbulkan kecacatan, stigma sosial, psikologis dan ekonomis.

Sekretaris Dinas Kesehatan Lembata, H. Abubakar Ratumangu melaporkan tahun 2010 ditemukan 42 kasus kronis filariasis dan tahun 2014 sebanyak 35 kasus. Dengan data yang ada, dilakukan survei darah jari, tahun 2010 dari 1.819 sampel yang diperiksa darah jari diperoleh 20 orang positif filaria. Sedangkan pada tahun 2014 dari 600 sampel yang diperiksa diperoleh satu orang positif filaria.

Abubakar mengatakan, dalam upaya mencapai tujuan eliminasi filariasis di Indonesia tahun 2020, tahap awal tahun pertama 2010-2014 seluruh kabupaten/kota endemis filariasis di wilayah Indonesia Timur telah melaksanakan pemberian obat massal pencegahan (POMP) filariasis pada tahun 2014.

Prioritas pelaksanaan POMP di wilayah Indonesia Timur, katanya, karena masih tingginya prevalensi microfilaria. Standart nasional suatu kabupaten dikatakan endemis filaria bila hasil survei darah jari MF Rate>1 %. Sedangkan untuk Kabupaten Lembata tahun 2010 Microfilaria Rate masih tinggi yaitu 1,09 persen.

Komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Lembata untuk memberantas penyakit filarias dibuktikan dengan penandatangan naskah dukungan dana operasional pelaksanaan program eliminasi filariasis selama 5 tahun berturut-turut oleh Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur ,ST dan Ketua Sementara DPRD Lembata, Ferdinandus Koda, SE.

Dalam kegiatan advokasi dan sosialisasi program eliminasi filariasis itu, dihadiri Miss. Tijani dari WHO sekaligus tampil sebagai nara sumber . Hadir pula, dr. Anas, Kepala Seksi Direktorat Jenderal P2 Filaria, Rosmini (Konsultan WHO), Adi Nazardi, Helena, dr. Theresia Salyn (Kepala Bidang P2MK Dinkes Provinsi NTT dan Filemon Banunaek, Pengelola Program Filaria Provinsi NTT. (sandrowangak/vinsenkerong/***)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *