Ikhtiar Anak Kampung Meraih Pendidikan: Billy Mambrasar

Home » Berita » Humaniora » Ikhtiar Anak Kampung Meraih Pendidikan: Billy Mambrasar

 

SULUH NUSA, JAKARTA – Live Instagram PSKP Kemdikbud, Episode ke 2 diselenggarakan 22 Agustus 2022 yang lalu, Pukul 17.00 WIB mengangkat tema Merdeka Belajar di Papua: Inspirasi dari Billy Mambrasar.

 

Acara live berbagi inspirasi dengan durasi 60 menit ini, langsung menghadirkan Billy Mambrasar sebagai narasumber. Dengan harapan melalui acara yang sudah dikemas dengan apik oleh Tim Medsos PSKP Kemdikbud ini, bisa menjadi sarana bagi seluruh Sahabat Pendidikan untuk berbagi pengalaman serta menginspirasi dari sikap baik, pantang menyerah, dan memiliki kepedulian sosial walaupun terlahir dalam keterbatasan.

 

Kak Billy Mambrasar atau lengkapnya Gracia Josaphat Jobel Mambrasar adalah salah satu dari 11 orang staf khusus Presiden Joko Widodo masa tahun 2019-2021, juga pendiri Yayasan Katong Bisa yang bergerak di bidang pendidikan nonformal bagi anak-anak kurang mampu di Papua.

 

Keterbatasannya sewaktu SD-SMP Billy berjualan kue tradisional keliling agar tetap bisa sekolah. Kegiatan harian dimulai pada jam 5 subuh. Billy belajar di rumah menggunakan cahaya pelita, sambil menunggu ibunya menggoreng pisang, yang akan Billy bawa ke sekolah, dijajakan waktu istirahat dan pulang sekolah.

 

Hal tersebut membuatnya tak mempunyai waktu bermain bersama-sama di waktu istirahat, seperti main bola. Begitu SMA, agar tetap dapat sekolah Billy melanjutkan sekolah berasrama di ibu kota provinsi. Beruntung Billy mempunyai ayah seorang pedagang buku bekas.

 

Melalui buku-buku bekas yang dia baca itu membawanya bermimpi melanjutkan sekolah di ITB, Australian National University (ANU), Oxford University, dan Harvard University.

 

Selanjutnya, ketika Kak Billy menjadi duta kampus divisi equity dan equality ANU, mengundang Suku Aborigin dalam kegiatan Academic Camp, menjadi mentor untuk Suku Aborigin yang tidak dapat melanjutkan sekolah sampai S1. Program ini menginspirasi dan diadopsi oleh ANU, menyebabkan jumlah Suku Aborigin yang bersekolah mencapai tiga kali lipat dari sebelumnya, hal itu membuat Billy dinobatkan menjadi student of the year.

 

 

Mengetahui kasus Aborigin senada dengan Papua, menyebabkan Kak Billy memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya di perusahaan asing dan membentuk Kitong Bisa, sebuah institusi non formal yang mengajarkan perubahan karakter dengan kurikulum respect, mengajarkan tujuh karakter utama untuk menjadi manusia yang kreatif, produktif, dan inovatif, mulai dari pedagogi, rencana pembelajaran, aktivitas belajar mengajar, dan pengukuran, agar dapat mengurangi pengangguran dan tingkat kemiskinan yang berprinsip pada equity dan equality.

 

“Tujuannya untuk memotivasi anak muda untuk meraih cita-cita, walaupun mempunyai keterbatasan,” beber Billy.

 

Agar memiliki kiat-kiat kewirausahaan, sehingga siap bekerja walaupun hanya berpendidikan SMP maupun SMA, mereka mulai diajarkan enterupreneurshup sejak usia 6 tahun sesuai dengan faktor unggulan di tempatnya berada, misalnya di daerah pertanian.

 

“Pada usia 18 tahun dia sudah bisa menjadi petani unggul yang bisa bahasa Inggris, menguasai teknologi, dan digital, sesuai dengan kurikulum merdeka yang berpusat pada murid, menyesuaikan dengan murid, dan karakteristik tempatnya berada,” pungkas Billy.

 

Untuk meningkatkan inovasi kewirausahaan sesuai bidangnya di daerah terluar, Billy mengusung 5 program Bawa Perubahan, yang disingkat Baper, yaitu Pembangunan pusat pelayanan non formal di sebanyak-banyaknya titik,
Pelatihan petani dan peternak dan nelayan milenial, Program pembangunan pusat-pusat  inovasi, Manajemen talenta nasional
Aplikasi sindi, sistem informasi daerah di indonesia yang menghubungkan anak-anak daerah ke pemerintah pusat. +++Ais Irmawati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *