MEDIA WLN – Pemerintah Provinsi NTT terus berupaya mewujudkan masyarakat NTT yang sehat dan cerdas melalui berbagai program-program strategisnya. Salah satunya program PMT bagi bayi balita, anak usia sekolah dan ibu hamil mlalui Progran PKK.
Selain mewujudkan generasi cerdas program penanggulangan stunting di mulai dari tingkat desa yang ada di Kabupaten Lembata, mendapat perhatian serius dan prioritas oleh pemerintah.
Langkah dan terobosan yang dilakukan pemerintah daerah dengan mensinergikan program kerja organisasi perangkat daerah (OPD) terkait bersama Tim Penggerak PKK untuk menanggulangi kekurangan gizi menahun pada balita dan bumil.
Seperti dilakukan PKK Desa Kolipadan, Selasa 12 Mei 2020. Penanggulangan Stunring perlu penanganan yang berkesinambungan dan rencana aksi yang lebih terpadu hingga memiliki dampak yang lebih konkret. Mulai dari pola makan, pola asuh dan yang berkaitan dengan sanitasi untuk menangani permasalahan stunting ini.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Penggerak PKK Desa Kolipadan, Ramsia Gelu,A. Md. Kep, saat melakukan program pemberian makanan tambahan bagi ratusan puluhan ibu hamil, balita dan anak usia sekolah.
Jumlah sasaran penerima makanan tambahan di Desa Kolipadan sebanyak 300 sasaran.
ratusan warga penerima bantuan makana tambahan ini datang ke kantor desa Kolipadan mengenakan masker dan mematuhi protocol kesehatan.
Menu makana tambahan juga berupa makana yakni nasi, ikan, sayur dan telur. Kepada Media WLN di kantor desa Kolipadan, Ramsia Gelu yanhg juga seorang Bida Desa menjelaskan, Kolipadan sebagai desa model tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerjasama dengan OPD terkait akan melaksanaan sosialisasi pendidikan gizi dalam pemberian makanan tambahan lokal bagi ibu hamil (Bumil), balita an anak usia sekolah di desa.
Kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan dan komitmen TP PKK Kolipadan membantu pemerintah daerah untuk melakukan penurunan prevalensi stunting menjadi salah satu program prioritas Pemerintah Kabupaten Lembata dan Provinsi NTT sekaligus membantu warga ditengah pandemic covid 19.
“Kami dari Tim Penggerak PKK akan prioritaskan pelaksanaan sosialisasi pendidikan gizi dan pemberian makanan tambahan lokal bagi Bumil dan balita juga anak anak usia sekolah dalam upaya menurunkan dan mengantisipasi kasus stunting,’’ tutur Ramsia.
Menurutnya, konsep pelaksanaan pendidikan gizi dalam PMT lokal bagi ibu hamil dan balita harus melibatkan organisasi masyarakat yang ada khususnya TP PKK.
“Masyarakat menyiapkan makanan lokal mulai dari memilih, mengolah, memasak, dan menyajikan yang sesuai dengan kebutuhan zat gizi ibu hamil dan balita,” kata Ramsia.
Pemenuhan gizi yang seimbang ditujukan untuk menekan angka stunting. Stunting disebabkan kekurangan gizi kronis yang mengganggu pertumbuhan bayi.
“Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Umumnya disebabkan asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi,” jelas Ramsia.
Faktor lingkungan yang berperan dalam menyebabkan perawakan pendek antara lain status gizi ibu, tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori, pola pemberian makan kepada anak, kebersihan lingkungan, dan angka kejadian infeksi di awal kehidupan seorang anak. Selain faktor lingkungan, juga dapat disebabkan oleh faktor genetik dan hormonal. Akan tetapi, sebagian besar perawakan pendek disebabkan oleh malnutrisi.
Jika gizi tidak dicukupi dengan baik, dampak yang ditimbulkan memiliki efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Gejala stunting jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan, perkembangan otak yang tidak maksimal yang dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk. Sedangkan gejala jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi, dan osteoporosis.
Untuk mencegah stunting , konsumsi protein sangat mempengaruhi pertambahan tinggi dan berat badan anak di atas 6 bulan. Anak yang mendapat asupan protein 15 persen dari total asupan kalori yang dibutuhkan terbukti memiliki badan lebih tinggi dibanding anak dengan asupan protein 7,5 persen dari total asupan kalori. Anak usia 6 sampai 12 bulan dianjurkan mengonsumsi protein harian sebanyak 1,2 g/kg berat badan. Sementara anak usia 1–3 tahun membutuhkan protein harian sebesar 1,05 g/kg berat badan.
“1000 hari pertama kehidupan merupakan periode kritis terjadinya Stunting. Dampak stunting umumnya terjadi disebabkan kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari pertama anak. Hitungan 1.000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun. Awal kehamilan sampai anak berusia dua tahun (periode 1000 Hari Pertama Kehidupan) merupakan periode kritis terjadinya gangguan pertumbuhan, termasuk perawakan pendek,” ungkap Ramsia yang juga seorang Bidan Desa tersebut.
Hadir dalam kegiatan tersebut ketua POKJA 4, Kecamatan Ile Ape, Hironima Emiliana Lam, A. Md. Kep. Penjabat Kades Kolipadan Ibrahim Kader, S. Pi, dan ketua BPD desa Kolipadan Mualim Raden. Mereka hadir turut menyaksikan pemberian PMT kepada sasaran penerima karena ini bagian dari program TP PKK provinsi yang dijabarkan hingga ke kabupaten, kecamatan dan Desa.
Ramsi, juga menjelaskan data sasaran penerima manfaat sebanyak 300 sasaran yang terdiri dari anak stunting 20, ibu hamil /menyusui 45, anak bayi balita 80 anak, anak Paud 21, anak SD 154.
“Kami juga sedang merencanakan agar untuk mengatasi masalah covid 19 kami akan menempatkan 4 titik untuk pembagian agar dapat berjalan secara baik dan program ini akan berjalan setiap hari selama 1 tahun berjalan dan terlaksana dengan baik, hal ini juga nanti kami akan laporkan ke tingkat atas secara berjenjang dan kami mengharapkan agar seluruh masyarakat dapat mendukung seluruh program PKK di Desa Kolipadan karena desa kita adalah desa model,” tutur Ramsia.
Ibrahim kader, Penjabat Kepala Desa yang baru dilantik, 06 Mei 2020 oleh Camat Ile Ape, Stanislaus Kebesa, M. Si mengaku bangga dan berharap agar program ini dapat terus berjalan di Desa Kolipadan untuk meningkatkan gizi anak lebih baik dari hari ini dan mengingatkan kepada ketua TP PKK dan bidan desa serta para kader psyandu agar dalam pembagian makanan tambaham anak dan sasaran lainnya agar perlu perhatikan seluruh protap kesehatan pencegahan covid -19 sesuai dengan surat edaran himbauan bapak bupati lembata dan camat ile ape selaku ketua gugus tugas penanganan covid 19 kecamatan ile ape.
Ibrahim menambahkan bahwa pada tanggal 10 mei 2020 kemarin telah dibagiakan masker kepada warga dan posko pintu keluar masuk desa baik jalur trans maupun pelabuhan laut kolipadan mulai diperketat penanganan kepada tamu yang keluar masuk termasuk warga desa yang hendak keluar ke desa lain termasuk ke lewoleba.
“Dalam pekan ini akan kita bagikan BLT DD untuk warga penerima di Desa Kolipadan,” ungkapnya.***
ifl/sandrowangak












